STOP KEKERASAN DI SEKOLAH PELAYARAN!

  • Whatsapp

Jakarta, Maritim

Budaya kekerasan di STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) harus dihentikan karena akan berdampak buruk bagi sekolah pelayaran lainnya. Untuk mencegah terjadinya kasus serupa, pembinaan taruna sekolah pelayaran harus dilakukan berdasarkan peraturan yang jelas dan tegas, dibarengi dengan pengawasan yang lebih ketat.

 Pendapat ini dikemukakan Ketua STIMAR (Sekolah Tinggi Maritim) AMI, Capt. Albert Lapian, terkait tewasnya Amirullah Aditya Putra (19), taruna tingkat I STIP akibat dianiaya oleh seniornya pada 10 Januari 2017. Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta antara senior dan yunior untuk menanamkan budaya kekeluargaan dan kebersamaan yang penuh kasih sayang.

 Albert yang juga alumnus AIP (Akademi Ilmu Pelayaran- sekarang STIP Jakarta) tak menyangka bahwa kekerasan di STIP yang pernah terjadi tahun 2008 dan 2014, kembali terjadi pada 10 Januari 2017. Pasalnya, pasca peristiwa pada 2008 dan 2014, prosedur pembinaan taruna STIP telah dirombak, bahkan dilengkapi kamera pemantau (CCTV) untuk mengawasi setiap kegiatan di kampus. Untuk meningkatkan kedisiplinan, instrukturnya juga dilengkapi dengan beberapa anggota TNI.

Ia menduga aksi kekerasan itu muncul kembali akibat kelengahan pimpinan, dosen, instruktur atau petugas lainnya yang seharusnya ketat mengawasi kegiatan taruna di kampus. “Sisi kelengahan pengawas ini yang rupanya dimanfaatkan oleh taruna senior melakukan kekerasan terhadap yuniornya,” kata Albert.

Mantan pejabat di Ditjen Perhubungan Laut ini memahami bahwa taruna sebagai calon pelaut harus memiliki fisik yang dan kuat, agar tangguh menghadapi ombak di laut. Tapi fisik yang kuat tidak harus diuji dengan kekerasan, melainkan dengan latihan fisik yang bukan kekerasan, apalagi pemukulan yang membahayakan.

Ia menilai yunior memang harus menghormati senior, tapi senior tidak boleh seenaknya memperlakukan yuniornya. Untuk menjaga keharmonisan senior-yunior, perlu diadakan acara tertentu yang juga dihadiri pimpinan sekolah beserta jajarannya.

“Beberapa hari yang lalu, Stimar AMI menyelenggarakan malam keakraban taruna di Cibodas, Puncak. Kami semua pimpinan juga hadir, sehingga terjadi keakraban semua taruna dengan kami,” ujarnya.

Gaya militer

Terkait soal ini, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta para taruna STIP untuk meninggalkan budaya kekerasan. Sebaliknya, budaya kekeluargaan dan kebersamaan yang penuh kasih sayang antara senior dan junior harus ditanamkan.

“Saya minta semua taruna untuk tinggalkan cara-cara lama yang tidak heroik. Tindakan kekerasan senior kepada yunior harus ditinggalkan, kemudian diganti dengan kekeluargaan, kebersamaan dan kasih sayang,” katanya.

Menhub tidak segan-segan untuk memberhentikan jika ada taruna senior yang melakukan kekerasan terhadap juniornya. “Saya juga akan melakukan hal yang sama kepada dosen-dosen dan pengelola sekolah jika tidak mampu mengawasi,” ancam Menhub di depan para Taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Ia mengingatkan beberapa peraturan dan surat edaran dan teguran telah dikeluarkan untuk meningkatkan pengawasan dalam pendidikan di lingkungan perhubungan. Semuanya harus dilaksanakan dengan baik demi masa depan sekolah yang keberadannya sangat dibutuhkan.

Terkait sistem pendidikan yang bergaya militer, Menhub menegaskan bahwa yang menjadi masalah bukan gaya militernya, tetapi cara-cara penerapannya yang salah. “Militer itu justru bagus. Melatih kedisiplinan. Yang salah ada caranya. Misalnya, taruna yunior yang baru masuk, atau kalau mau masuk anggota drum band, harus dipukul 10 kali dulu baru bisa masuk anggota. Itu yang tidak benar,” tegasnya.

Menurut Budi, diklat kepelautan di bawah Kemenhub cukup baik karena lulusannya banyak diserap oleh dunia pelayaran. Prestasi ini harus dipertahankan, jangan dirusak oleh tindakan kekerasan.

Senada dengan Menhub, Capt. Albert Lapian juga mengingatkan citra baik sekolah pelayaran selama ini harus dijaga. Jangan sampai adanya kasus di STIP, citra sekolah pelayaran digeneralisir buruk semua.

“Kalau ini terjadi, akan merugikan kita semua, karena dikhawatirkan pihak luar negeri tak mau lagi merekrut pelaut lulusan sekolah pelayaran di Indonesia,” ujarnya.

Albert menambahkan, semua lulusan Stimar AMI diterima di pelayaran dalam dan luar negeri. “Perusahaan pelayaran seperti di Korea, datang langsung memesan taruna untuk bekerja di perusahannya,” sambung Albert.

Untuk membuat kondisi pendidikan di STIP menjadi lebih baik, Kemenhub memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan drum band dan pedang pora yang biasa dilakukan oleh para taruna.

Berdasarkan investigasi yang dilakukan tim Kemenhub, dua kegiatan tersebut yang menjadi pemicu kekerasan di STIP. “Latihan drum band dan pedang pora untuk sementara dihentikan  sampai iklimnya kondusif,” tegas Menhub usai memberi pengarahan kepada para pengelola sekolah, dosen dan taruna di seluruh sekolah Perhubungan yang ada di Jabodetabek, Jumat (13/1).

Direlokasi

Kepala BPSDMP, Wahju Satrio Utomo mengatakan akan menghilangkan istilah senior dan yunior di sekolah pelayaran, dan menggantinya dengan sebutan kakak kelas dan adik kelas. Hal itu akan menumbuhkan rasa kebersamaan antar taruna untuk saling melindungi.

Sementara itu, melalui sidang dewan kehormatan taruna, pihaknya telah memecat 4 taruna tingkat II yang terbukti melakukan pemukulan. “Kita tidak menunggu proses pengadilan. Sidang dewan kehormatan taruna punya keputusan, apabila terbukti ada pemukulan, maka taruna yang melakukan pemukulan akan dipecat,” tegas Wahyu yang biasa disapaTommy.

Pasca terjadi penganiayaan, Kemenhub akan memindahkan sementara taruna tingkat I ke STIP Jakarta ke Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang. Menurut Plt. Ketua STIP Jakarta Arifin Soenardjo, hal ini telah dibicarakan dengan orang tua taruna pada Jumat (20/1).

Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang Capt. Sugiono saat dikonfirmasi soal rencana relokasi taruna STIP ke kampus yang dipimpinnya, menegaskan kesiapannya. “Fasilitas ruang kelas dan sarana penunjang telah siap dan mampu menampung. Soal pengajarnya, tetap wewenang STIP dan hal itu bisa kita bicarakan bersama,” katanya.**[Nanang/Habib/Purwanto.]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *