Penyelamatan 180 Orang Penumpang KM Mutiara Sentosa I

  • Whatsapp

Surabaya – Maritim

Read More

Drama yang dialami 180 orang pempang KM Mutiara Sentosa I yang selama sehari semalam (03-02-2017) terombang-ambing di perairan utara Pulau Madura, berakhir “happy end”. Berkat kerja keras Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak, bersama instansi kepelabuhan lainnya, mereka berhasil diselamatkan dengan menarik kapal ke pelabuhan. Sejumlah besar penumpang menangis haru ketika pada Sabtu (04/02/20017) jam 14.15 WIB  akhirnya mereka dapat melihat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya,  setelah sehari semalam terombang-ambing di lautan. Sebagian dari penumpang, bermaksud turun di Tanjung Perak, sedang sisanya akan meneruskan pelayaran ke Tanjung Priok, Jakarta.

“Alhamdulillah” tutur seorang ibu saat perlahan kapal sandar di dermaga. Dia mengaku sempat kehilangan harapan karena kapal yang ditumpanginya terombang-ambing di lautan dengan ombak besar dan kadang hujan deras.

Para penumpang langsung dijemput petugas dari unsur Syahbandar Tanjung Perak di bawah pimpinan Capt Hari Setyobudi, Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak, petugas Distrik Navigasi Surabaya, KPLP Surabaya, PT Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung Perak, kepolisian pelabuhan dan TNI AL. Menurut Hari, dari 180 penumpang, ada beberapa ibu-ibu dan anak, yang harus diperiksa kondisi kesehatannya. Secara umum tidak ada masalah. Hanya ada yang batuk ringan dan kepala agak pusing. Sementara itu, terdapat 70 mahasiswa penumpang kapal yang mengajukan komplain ke operator kapal karena mereka gagal mengikuti Jambore Mahasiwa di Jakarta.

Kehabisan BBM

Kerja keras Kantor Kesyahbandaran Tanjung Perak menuai sukses. Kapal Motor Mutiara Sentosa I berhasil ditarik ke perairan Surabaya, Jawa Timur. KM Mutiara Sentosa I berangkat dari Balikpapan, Kalimantan Timur, menuju Surabaya, tetapi kehabisan bahan bakar di tengah laut, Jumat (3/2/2017) dini hari. Akibatnya kapal tersebut belasan jam mengapung di tengah laut di sekitar perairan pulau Madura. Kondisi penumpang sudah lemas karena kehabisan bahan makanan dan minuman.

Usaha penyelamatan, menurut Syahbandar Tanjung Perak  kapal berhasil dtarik dua kapal tunda milik Pelindo III Tanjung Perak yakni TB Restu dan TB Kresna 315. Kapal Mutiara Sentosa I ditowing dengan kecepatan 2,5 knot dan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Sabtu (4/2/2017), pukul 13.00. Seiringan dengan evakuasi tersebut, juga diupayakan pengiriman BBM kapal dan makan pagi untuk penumpang dan awak kapal Mutiara Sentosa I.

“Kapal Arva Ocean membawa 40 ton BBM dan logistik. Namun kapal dihadang ombak besar hingga sempat berlindung di kawasan Karang Jamuang. Karenanya, dikirim lagi dua tugboat  Tb Krisna dan Tb Restu Utama, pada pukul 21.00.

Beberapa Penyebab

Raja Oloan Saut Gurning, dosen Jurusan Teknik Sistem Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya, kepada Maritim. Com menmjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor kemungkinan yang dapat jadi penyebab kehabisan BBM KM Mutiara Sejahtera I ketika dalam pelayaran dari Kalimantan menuju Surabaya.

Jelasnya, pertama, mungkin karena kurang akurat dalam memperhitungkan rute yang diambil (lebih panjang) dengan kecepatan yang sama sehingga kapal mengalami kekurangan bahan bakar.

Penyebab kedua akibat cuaca buruk. Rute telah ditetapkan sementara kecepatan kapal tidak berubah walau angin dan gelombang laut relatif lebih kuat dan tinggi. Kondisi demikian mengakibatkan resistansi kapal lebih besar hingga konsumsi bahan bakar menjadi lebih besar.

“Dalam kasus demikian seharusnya kecepatan operasi kapal menjadi lebih rendah mengikuti kondisi cuaca yang lazim disebut (weather speed)” tutur Saut Gurning.

Kemungkinan ketiga, sama dengan faktor kedua akibat cuaca buruk, kapal melakukan perubahan rute atau rerouting untuk menghindari potensi tingginya kecepatan angin dan gelombang laut. Respon rerouting ini konsekuensinya rute menjadi lebih panjang dari rute awal kapal. Karena rute lebih panjang apalagi dengan kecepatan operasi yang sama kecenderungan konsumsi bahan bakar lebih besar.

“Makin besar deviasi rerouting akan makin memperbesar selisih konsumsi BBM yang dibutuhkan” imbuh Saut Gurning.

Selanjutnya, dalam kondisi cuaca buruk faktor penyebab dimungkinkan akibat kombinasi faktor-faktor tersebut. Seperti penerapan service speed seharusnya weather speed dan respon rerouting. Bila kedua faktor ini terjadi , akan terjadi kebutuhan bahan bakar lebih besar dibanding dengan kebutuhan yang direncanakan.

Ketiga faktor di atas plus kombinasinya dapat menyebabkan makin tingginya konsumsi bahan bakar kapal saat berlayar.

Saut mengatakan biasanya selama masa pelayaran ada faktor-faktor adisional yang ditambahkan untuk mengantisipasi beberapa penyebab di atas. Namun akibat menurunnya pangsa pasar pelayaran termasuk domestik dalam dua tahun belakangan ini banyak perusahaan pelayaran cenderung melakukan usaha efisiensi bahan bakar.  Masih menurut Saut Gurning, karena BBM merupakan komponen biaya yang dominan (50-60%) dari total ongkos jasa pelayaran, usaha efisiensi biasanya adalah menerapkan kebijakan slow stemming atau penurunan kecepatan servis kapal. Dampaknya kapal datang lebih lama ke pelabuhan tujuan

Dalam banyak kasus lapangan respon slow stemming (SS) memang mengakibatkan volume konsumsi BBM menjadi berkurang. Usaha pengurangan BBM ini menjadi obat jitu untuk bertahan.

‘Namun penerapan SS harus hati-hati. Jangan terlalu berlebihan karena dapat mengorbankan sisi keamanan dalam pelayaran” pungkas Saut Gurning. **(ERICK A.M.)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *