Sinergi Kuat Antar K/L Penting Jaga Pertumbuhan Industri Nasional

  • Whatsapp
Print
Print

Jakarta, Maritim

 Dalam upaya menjaga pertumbuhan industri nasional yang mulai merangkak naik diperlukan sinergi kuat antara kementerian dan lembaga. Sehingga langkah Kementerian Perindustrian dapat berjalan baik sesuai program prioritas pemerintah dalam pemerataan ekonomi nasional.

 

“Sampai saat ini, Kemenperin focus untuk meningkatkan pengembangan manufaktur, dengan banyak kegiatan strategis yang dilakukan seperti penguatan pendidikan vokasi industri, pendalaman struktur industri, pembinaan kepada industry padat karya berorientasi ekspor, pengembangan industry berbasis sumberdaya alam, serta pengembangan perwilayahan industri,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsh, kepada wartawan,di Jakarta, Selasa (9/5).

Merujuk data Badan PusatStatistik (BPS), industry pengolahan non migas pada triwulan I-2017 tumbuhs ebesar 4,71 persen. Capaian tersebut meningkat disbanding pertumbuhan dalam periode yang sama tahun 2016 sebesar 4,51 persen, juga diatas pertumbuhan sepanjang tahun 2016 yang mencapai 4,42 persen.

 

Bahkan, BPS juga mencatat, industry manufaktur mikro kecil mampu tumbuh sebesar 6,63 persen pada triwulan I-2017. Untuk itu, Kemenperin tengah gencar melakukan pengembangan IKM, terutama melalui pemanfaatan teknologi digital.

“Salah satu program prioritas kami tersebut telah diwujudkan dengan peluncuran program e-Smart IKM dengan tujuan agar memperluas akses pasar serta menjadi show case produk dalam negeri dan bukan menjadi reseller produk negara lain,” tegas Gati.

 Menurutnya, e-commerce saat ini sudah sangat menjamur di Indonesia, sehingga menuntut para pelaku usaha dalam negeri perlu memanfaatkan peluang tersebut melalui keterlibatan diprogram e-Smart IKM. Untuk memperluas akses informasi dan memasarkan produknya. Dalam upaya pengembangan ekonomi digital ini, diharapkan juga akses pendanaan ikut meningkat.

 Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika,nilai transaksi e-commerce pada tahun 2015 mencapai Rp200 triliun dengan kontribusi produk local baru di kisaran lima persen.

 “Agar tidak mematikan IKM kita karena e-commerce, maka kami memfasilitasi mereka kerjasama dengan market place seperti bukalapak, blanja.com, blibli, lazada, dan tokopedia,” ujarGati.

 Tujuan kerjasama tersebut supaya produk IKM dalam negeri diberi kesempatan untuk masuk market place sehingga bias mempermudah ekspor. Selain itu, meningkatkan efektifitas dan efisiensi biaya promosi dan pemasaran, serta mendapatkan program-program pembinaan dari pemerintah.

 Lebih lanjut, kata Gati, e-Smart IKM dapat pula mengoptimalkan program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN).Selain dapat memperkuat dan menumbuhkan perekonomian nasional,  P3DN mendorong masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri dibandingkan produk impor.

 Melalui program P3DN ini, juga dapat membawa efek positif terhadap pengamanan pasar domestik, peningkatan nilai tambah didalam negeri dan penguatan struktur industri. Untuk mencapai keberhasilan program P3DN tersebut, diperlukan usaha bersama dari pemerintah, BUMN/BUMD, dan masyarakat untuk bersama-sama berkomitmen mengedepankan produk dalam negeri.

 Gati juga menyatakan, pihaknya telah menyelenggarakan workshop dibeberapa wilayah di Indonesia untukmem perkuat kapasitas pelaku IKM, seperti pemberian materi mengenai product knowledge, foto produk, pricing, copy writing, dan promosi. Selain itu para pelaku IKM juga diberikan sosialisasi kebijakan IKM terkait KUR, SNI Wajib, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Kemudahan Impor Tujuan Ekspor(KITE), restrukturisasi, dan Program OVOP.

 Ditambahkan, IKM juga tengah giat melaksanakan program bimbingan teknis agar hasil produk IKM sesuai standar internasional, sehingga mampu bersaing dengan produk impor. Misalnya, bimbingan cara produksi pangan yang baik, sehingga siap untuk disertifikasi system mutu dan keamanan pangan dan memberikan fasilitasi untuk mendapatkan sertifikasi Good Manufacturing Practice (GMP),Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), dan halal.

 Tahun lalu, telah difasilitasi sertfikasi GMP untuk 16 IKM dan fasilitasi sertifikasi HACCP untuk 1 IKM. Sedangkan, tahun 2017 akan difasilitasi sertifikasi GMP sekitar 9 IKM dan fasilitasi sertifikasi halal sebanyak80 IKM.

Kemenperin juga berupaya memperluas pasar produk dalam negeri melalui kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pengadaan kursi sekolah yang terbuat dari rotan. Langkah ini sudah disetujui oleh Presiden Joko Widodo.

 Untuk menjamin ketersediaan bahan baku tersebut, Kemenperin menjajaki peluang kerjasama dengan PT. Sarinah dan PT. PPI dalam rangka memfasilitasi pembentukan pusat bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produksi industry mebel dan kerajinan dalam negeri.

Selanjutnya, dalam memasarkan produknya, Kemenperin akan bekerjasama dengan seluruh outlet di mall dan menggandeng asosiasi yang bergerak dibidang pengembangan dan pemasaran, antara lain Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (HIPPINDO) dan Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (IKAPPI).

 Di tempat sama Menperin, Airlangga Hartarto, mengatakan salah satu peran panting pada industri manufaktur adalah menciptakan nilai tambah produk. Meskipun terjadi kenaikan impor barang modal dan bahan baku. Itu menunjukan adanya peningkatan investasi dan produksi terus berjalan.

 Misaknya, impor kapas untuk mendukungindustri tekstil, di mana kapasitas produksi pakaian dan sepatu olahraga dalam negeri telah melampaui China. Bahkan, 30 persen dari merek AmerikaSerikat diproduksi di Indonesia. (M Raya Tuah)

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *