MENATA TAMBAKLOROK JADI KAMPUNG BAHARI

  • Whatsapp

Semarang  – Maritim

 SEPERTI halnya di banyak lingkungan pelabuhan, maka Tambaklorok yang menjadi penyangga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, juga sering dinilai merupakan blank spot dalam menata lingkungan. Selama puluhan tahun, Pemkot Semarang mencoba berbagai cara untuk merevitalisasi Tambaklorok agar bukan saja menjadi kawasan yang lebih sehat bagi penghuninya, tetapi juga memiliki kontribusi menekan pelbagai penyakit sosial. Baru pada sekitar tiga tahun terakhir ini, ditemukan kesepakatan antara Pemkot dan penghuni untuk mengubah Tambaklorok menjadi hunian dan tempat usaha yang dikemas dalam nuansa kampung bahari.

Dalam rangka mewujudkan rencana besar itu,  pengerjaan proyek Kampung Bahari Tambaklorok Semarang terus dikebut, mengingat tenggat waktu penyelesaian hanya tersisa tiga bulan. Terkait hal tersebut, Nafis Imron Pengawas Proyek Kampung Bahari Tambaklorok menjelskan: “Kami akan terus lanjutkan pekerjaan agar proyek dapat selesai sesuai jadwal”.

Di lokasi proyek sepanjang garis U di bibir muara ,tengah dipasang spun pile (tiang pancang) dan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP). Menurut Nafis pemasangan spun pile telah tercapai 1.509 batang dari total 2.238 batang, sedang CCSP sebanyak 1.181 batang dari total 1.591 batang. Seluruh material sudah siap untuk mempercepat penyelesaian pembangunan. Sekitar 1.000 spun pile yang tersisa, ditargetkan akan bisa rampung 66 hari ke depan. Setelah itu, akan dilanjutkan pembetonan hingga diharap pengerjaan proyek Kampung Bahari Tambaklorok bisa diselesaikan sesuai target.

“Dalam hitungan, masih kurang 729 spun pile dan 410 CCSP. Untuk mempercepat pemasangan, kami akan operasikan dua set alat pancang” imbuh Nafis Imron.

Menjawab pertanyaan mengenai persoalan sosial yang dihadapi, Nafis katakan akan dilakukan dialog dengn seluru peaku epentingan, agar tak menghambat kelancaran proyek. Dalam kesempatan terpisah, Bambang S, selaku Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Tanjung Mas, mengatakan kontraktor harus banyak berkoordinasi dan berkomunikasi dengan warga. Ujarnya: “Kalau fihak kontraktor selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan warga, pekerjaan royek ini saya yakin bisa segera rampung, Segala masalah yagmucul,  sebenarnya bisa dibicarakan secara kekeluargaan dengan warga. Kalau komunikasinya berjalan baik, tak akan terjadi masalah. Kami semua juga menginginkan agar ke depan nanti kawasan ni bia berubah menjadi kampung bahari yang selain aman, juga berbudaya seta memiliki nilai tambah secara ekonomis”. ***ERICK A.M.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *