PROBOLINGGO (3): MENGGALI BERBAGAI PELUANG

  • Whatsapp

 

“KETIKA tiba di Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo dalam penugasan sebagai General Manager, segera muncul pertanyaan: mengapa infrastruktur yang dkelilingi puluhan pabrik serta hinterland penghasil komoditas ekspor ini terkesan bagai induk ayam di dalam lumbung padi yang mati enggan hidup pun segan. Bertolak dari sana, kami lakukan evaluasi masalah secara komprehensip. Jawaban yang kami temukan adalah: kendala yang dihadapi pelabuhan ini, bukan masalah yang berdiri sendiri dan mudah untuk diselesaikan” ungkap Dhany Rachmad Agustian GM PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Tanjung Tembaga Probolinggo, kepada Maritim.

Seperti kebanyakan pelabuhan di Indonesia, Pelabuhan Probolinggo merupakan infrastruktur yang dibangun pada era kolonial, sebagai gerbang ekspor hasil agroindustri yang sedang booming di pasar Eropa. Untuk permudah angkutan dari pedalaman, umumnya fasilitas dibangun di sisi atau muara sungai. Hasil bumi dari pedalaman diangkut menuju ke pelabuhan menggunakan gerobag yang ditarik kuda, sapi atau kerbau kemudian disimpan di gudang pelabuhan lebih dulu. Setelah mencukupi volume dan cuaca mendukung, komoditas tersebut dimuat secara rede transport ke kapal ocean going yang akan berlayar langsung ke pelabuhan di luar negeri, atau kapal interinsuler yang akan berlayar menuju ke pelabuhan pengumpul di dalam negeri.

Ada pendapat bahwa pelabuhan-pelabuhan yang dibangun sekitar tahun 1920-an, dibangun untuk memenuhi kebutuhan paling lama antara 25-30 tahun ke depan. Karenanya kondisi geografis termasuk cepat atau lambatnya sedimentasi, hanya menjadi pertimbangan teknis sekunder. Tak mengherankan bahwa pelabuhan-pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa, termasuk yang kelak berkembang menjadi pelabuhan besar seperti Semarang, merupakan pelabuhan reede. Maka pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur mulai Banyuwangi, Panarukan, Probolinggo, Pasuruan dan Tuban, memasuki tahun 1950-an mengalami masa surut, antara lain disebabkan mahalnya biaya pemeliharaan.

“Lebih-lebih ketika moda transportasi laut kian maju karena digunakannya kapal-kapal yang lebih besar, rehabilitasi infrastruktur, fasilitas dan peralatan pelabuhan yang kebanyakan rusak di masa revolusi fisik, tak seimbang dengan perkembangan. Demikian pula Pelabuhan Probolinggo yang mewarisi HPL luas dengan puluhan gudang dan lapangan penumpukannya, sementara alur pelayaran dan kolam pelabuhan yang berada di kanal, tak lagi seimbang dengan pertumbuhan industri di kawasan pendukungnya. Itulah sebagian dari masalah besar yang kami hadapi. Tetapi karena kami tak boleh menyerah dengan keadaan, maka untuk mempertahankan eksistensi pelabuhan ini dengan mencari berbagai peluang” jelas Dhany lebih lanjut.

Langkah awal yang ditempuh oleh GM yang baru menjabat “seumur jagung” ini ialah melakukan pembenahan internal, dengan mendorong semangat pegawai yang jumlahnya terbatas di pelabuhan cabang kelas-3. Berkat intensifikasi dan pengendalian anggaran, maka dalam kurun waktu yang singkat, segera tampak hasil yang nyata.  Menurut Dhany Rachmad Agustian yang berpengalaman sebaga Ketua Umum Serikat Pekerja Pelabuhan (SPPI) III itu, dari target pendapat yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) tahun 2017 sebesar Rp.1,46 miliar, hingga bulan Juli lalu sudah dicapai pendapatan sebesar Rp.1,5 miliar.

“Kontribusi yang cukup signifikan, kami raih dari intensifikasi pendapatan pas. Selain pas harian untuk orang dan kendaraaan, juga pas berlangganan. Lebih-lebih dengan adanya kunjungan kapal cruise yang sampai dengan Agustus ini mencapai 8 call. Seperti diketahui, dari pelayanan terhadap kapal pengangkut wisatawan mancanegara ini kami tak menerima pendapatan lain kecuali dari pas yang besarannya adalah US $.2,5 per penumpang” jelas GM Pelindo III Probolinggo.

Sampai dengan Mei 2017 lalu, kunjungan cruise yang labuh di perairan Probolinggo mencapai 5 unit, yaitu: MV Seabourn Encore 12-01-2017 dan 27-03-2017 (GRT 41,865/LOA 210 m) penumpang dalam dua call 337 dan 483 orang; MV Pacific Eden 15-04-2017 (GRT 55,877/LOA 190 m) penumpang 1.130 orang dan MV Star Clipper 17-05-2017 dan 30-05-2017 (GRT 2,290/LOA 112 m) penumpang dalam dua call 115 dan 91 orang. Dalam rencana, pada 10-02-2017 dan 16-04-2017 kapal-kapal MV Volendam dan MV Pacific Eden juga akan berkunjung, tetapi berdasar pertimbangan keadaan cuaca yang kurang baik, mereka urung menurunkan penumpang menggunakan tender-boat.

Terkait peluang yang dinilai akan dapat mendatangkan nilai tambah bagi pelabuhan yang dipimpinnya, Dhany menjelaskan: ”Kami tidak berfikir muluk-muluk. Yang penting bisa diraih pendapatan dulu, berapa pun besarannya, asal sesuai dengan biaya yang harus kami keluarkan. Untuk itu, kami teah mencoba melakukan pendekatan dengan pelanggan dan pengguna jasa, mensosialisasikan rencana kerja yang hanya bisa dicaai kalau ada kerjasama dengan mereka. Antaralain dengan penyewa HPL mengenai penyesuaian tarif. Juga dengan INSA dan Pelra mengenai penambatan kapal. Alhamdulillah, respon mereka cukup baik”.

Direncanakan, alam waktu dekat nanti di Pelabuhan Tanjung Tembaga juga akan dibangun terminal penumpang untuk wisman yang transit sebelum menuju ke obyek wisata Taman Nasional Bromo-Tengger. Di fasilitas ini, nanti juga akan dijadikan show window bagi karya seni kerajinan serta hasil idustri UMKM, pada saat ada wisman yang singgah. Di saat tak digunakan untuk transit wisman, fasiltas ini akan digunakan sebagai terminal bagi yang akan menyeberang ke Gili Ketapang yang selain penduduk dan pedagang, juga wisatawan lokal yang akan melaukan kegiatan snorkling di pulau kecil yang indah di lepas pantai, yang saat ini telah terbantu dengan disediakannya ponton oleh Pelindo III Pobolinggo.

Memungkasi penjelasan, Dhany bertutur: ”Saat ini kami juga sedang konsentrasi menghandle curah cair berupa methanol untuk pengapalan lokal, yang tiap bulan mencapai 6.000 ton. Ya, semua masih merupakan bisnis kecil-kecilan, tetapi ini merupakan kontribusi yang pasti bagi pendapatan”.***ERICK A.M.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *