PENGEMBANGAN INDUSTRI PLASTI DAN KARET HILIR PROSPEKTIF

  • Whatsapp
Sekjen Kemenperin Haris Munandar melihat kantong ramah lingkungan produksi Greenhope disaksikan Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Taufiek Bawazier dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kemenperin Teddy C Sianturi pada Pameran Produk Industri Plastik dan Karet
Sekjen Kemenperin Haris Munandar melihat kantong ramah lingkungan produksi Greenhope disaksikan Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Taufiek Bawazier dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup Kemenperin Teddy C Sianturi pada Pameran Produk Industri Plastik dan Karet

Jakarta, Maritim

Industri plastik dan karet hilir memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, karena tingkat kebutuhannya cukup tinggi, seperti diserap sektor industri kemasan. Makanan dan kosmetik, elektronik, otomotif dan sektor lainnya.

“Pengembangan industri plastik dan karet di dalam negeri masih prospektif, mengingat industri ini merupakan sektor vital, dengan ruang lingkup mulai dari hulu, antara hingga hilir. Yang selalu dibutuhkan oleh industri lain dan memiliki variasi produk yang sangat luas,” kata Sekjen Kemenperin, Haris Munandar, mewakili Menperin pada Pembukaan Pameran Produk Industri Plastik dan Karet Hilir di Jakarta, Selasa (3/10).

Kemenperin mencatat, jumlah industri plastik di Tanah Air saat ini mencapai 925 perusahaan, yang memproduksi berbagai macam produk plastik dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 37.327 orang. Dengan total produksi hingga 4,68 juta ton per tahun. Sementara, permintaan produk plastik nasional sekitar 4,6 juta ton per tahun, meningkat 5 persen dalam 5 tahun terakhir.

Dalam upaya peningkatan produktivitas industri plastik, Kemenperin terus mendorong untuk pemenuhan bahan bakunya, di mana bahan baku plastik dalam negeri belum mampu mencukupi dari segi kuantitas maupun spesifikasi produk.

Langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah guna memacu kinerja industri plastik lokal, antara lain fasilitasi pemberian bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP), ditambah penerapan SNI. Fasilitasi promosi dan investasi, penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) serta pengaturan tata niaga impor.

Agar siap menghadapi persaingan di pasar bebas, kata Haris, pihaknya mendorong industri plastik nasional mampu bersinergi dan terintegrasi melalui kerja sama dengan stakeholders terkait.

Contohnya, penguatan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) serta kebijakan yang mendukung peningkatan daya saing, agar produk plastik domestik bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu bersaing di pasar internasional.

Sementara itu, Indonesia merupakan salah satu negara utama penghasil karet alam, dengan produksi melebihi tiga juta ton per tahun. Produksi karet alam nasional masih dapat ditingkatkan, mengingat potensi lahan yang ada mencapai 3,5 juta hektare, terlebih industri didukung juga oleh program-program penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta.

Karet sebagai salah satu komoditi hasil perkebunan yang memiliki peran cukup strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Apalagi, konsumsi karet alam yang saat ini berkisar 580 ribu ton per tahun, juga masih berpeluang untuk terus ditingkatkan.

Haris menambahkan, program peningkatan konsumsi karet alam lokal perlu diiringi dengan program keberlanjutan dan pengembangan industri yang sudah ada. Contohnya, industri ban, sebagai industri yang menyerap 45 persen atau sekitar 270 ribu ton dari total konsumsi karet alam dalam negeri. Apalagi, produk ban dalam negeri merupakan salah satu komoditi andalan ekspor Indonesia. Dari total produksi, 70 persen diperuntukkan bagi pasar ekspor. (M Raya Tuah)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *