NELAYAN TAMBAKLOROK HINDARI OMBAK TINGGI

  • Whatsapp

Semarang  – Maritim

SEJAK awal Desember 2017 hingga mamasuki pekan kedua Januari 2018, BMKG sesuai fungsinya sebagai institusi “penerawang” caca, ta henti-henti meriis kondisi perairan Jawa Tengah bagian slatan maupun utara. Disebut, uaca ekstrem yang melanda wilayah Jateng daam beberapa bulan terakhir, berimbas pada tingginya gelombang laut.Aibatnya, para nelayan di banyak tempat, termask di kawasan Tambakloro, Semarang, enggan melaut dan membuat pasokan ikan menurun drastis.

Read More

Rerata para nelayan mengakui bahwa sejak dua bulan terakhir ini, hasil tangkapan ikannya menurun drastis. Jika biasanya mereka mampu menjaring ikan sekitar 1 kuintal per hari, tapi sekarang hanya 80 kg per hari. Penuruna produktifitas peangkapan ini, terpicu oleh tingginya ombak di laut, hingga mereka takut dan meghindari bahaya, kendati pendapatan mreka menurun drastis.

Berdasar pantauan di TPI Tambaklorok ahir minggu lalu, Pasokan ikan yang minim dari para nelayan itu, berimbas pada naiknya harga ikan segar. Saat ini harga ikan teri di Tambaklorok mengalami kenaikan dari Rp.40.000 menjadi Rp.60.000 per kiloram. Dengan harga sebesar itu, pembeli kian menurun. Jika sebelumnya, pembeli ikan di TPI Tambaklorok juga berasal dari kalangan rumah tangga, kini hanya terdapat pembeli dari industri kuliner atau pedagang besar.

Kenaikan harga ikan segar akibat turunnya aktivitas nelayan karena cuaca ekstrem juga dikeluhkan oleh Yuminto, Ketua Asosiasi Masyarakat Nelayan Indonesia (AMNI) Kota Semarang. Menurutnya, kenaikan harga terjadi dihampir semua jenis ikan, seperti teri, seriding, dan kempar. Ujarnya: “Rerata saat ini kenaikannya mencapai 15% dibanding harga saat kondisi cuaca normal”. beber Yuminto.

Yuminto menyebutkan saat ini tinggi ombak rerata 4 meter. Bahkan, tak menutup kemungkinan gelombang air laut akan makin meninggi sekitar 5 meter saat musim pasang air laut, hingga membuat nelayan takut melaut karena khawatir akan keselamatannya dan kemungkinan tusaknya perahu. Pungkas Yuminto: “Banyak perahu nelayan di sini yang rusak.  Kedepan ombak akan lebih tinggi lagi karena pasang air laut diprediksi mundur dari semula Desember sampai awal Januari, menjadi pertengahan Januari. Kondisi akan kembali normal kemungkinan awal Maret nanti”.***MRT/2701

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *