Pemerintah Hentikan Bahas Cadangan Penyangga Energi

  • Whatsapp
Anjungan minyak di lepas pantai.
Anjungan minyak di lepas pantai.

JAKARTA, MARITIM.

Hingga saat ini Indonesia belum memiliki cadangan energi khususnya minyak dan bahan bakar minyak (BBM) seperti halnya di negara – negara lain seperti Singapura, Malaysia dan negara lainnya di Asia.

Cadangan penyanggga energi sangat penting dimiliki suatu negara sebagai ketahanan energi di dalam negeri guna mengatasi kelangkaan  pada saat terjadinya krisis energi. Kalau terjadi kelangkaan atau krisis energi, dengan adanya persediaan energi yang cukup, kita dapat mengatasinya.

Dewan Energi Nasional (DEN) dua tahun lalu telah menyusun draf tentang cadangan energi tersebut dan disampaikan kepada pemerintah c/q Kementerian ESDM. Namun, menurut anggota DEN Sony Kraf, hingga saat ini draf tersebut belum juga dibahas, apalagi dilaksanakan.

Tapi di luar dugaan, Kementerian ESDM justru memutuskan tidak melanjutkan membahas draf usulan Dewan Energi Nasional (DEN) tersebut. Alasannya, belum begitu mendesak dan pemerintah saat ini lebih mengutamakan  membangun infrastruktur di bidang minyak dan gas bumi.

Terkait soal ini, Sekretaris Ditjen Migas Susyanto mengatakan, dana untuk membangun cadangan penyangga energi cukup besar, sementara anggaran yang tersedia sangat terbatas. Untuk itu pemerintah memutuskan untuk menunda membangun cadangan penyangga energi karena belum mendesak.

Selain itu, pemerintah masih membutuhkan dana untuk membangun infrastruktur dan program sosial. Dia mengakui cadangan penyangga energi juga penting, namun harus ditimbang kalau digunakan untuk membangun cadangan penyangga energi.

Berdasarkan perhitungan pemerintah, anggaran untuk membangun cadangan penyangga energi mencapai Rp 30 triliun dengan volume minyak mencapai 48 juta barel.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sony Kraf menyayangkan pemerintah menahan kebijakan untuk membangun cadangan penyangga energi di dalam negeri. Pasalnya, harga minyak dunia masih belum stabil, bahkan saat ini cenderung melemah disbanding tahun 2013.

Habis 11 tahun lagi

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di Kementerian ESDM mengatakan, cadangan minyak Indonesia sekarang sebesar 3,3 miliar barel. Tapi cadangan sebesar itu akan habis sekitar 11 hingga 12 tahun lagi kalau kita tidak bisa menemukan cadangan minyak baru.

“Dengan asumsi produksi minyak 800.000 barel/hari, cadangan minyak akan habis 11 – 12 tahun lagi,” katanya.

Produksi minyak mentah Indonesia, kata dia,  saat ini sekitar 800.000 barel/hari. Namun pada tahun mendatang kemungkinan akan turun menjadi 700.000 barel/hari, karena banyak sumur minyak yang tidak menghasilkan minyak.

Untuk menemukan cadangan minyak baru, dibutuhkan teknologi yang canggih agar produksi minyak dapat  terjaga. Dengan teknologi yang digunakan sekarang ini hanya bisa mengambil minyak dari perut bumi sekitar 40 – 50%. Namun kalau dengan teknologi canggi bisa lebih besar lagi.

Disamping itu, menurut Arcandra, Reserve Replacement Ratio (RRR) sangat rendah, sekitar 50%. Artinya, minyak yang diambil dua kali lebih banyak dibanding cadangan yang ditemukan. Sedangkan di negara–negara lain bisa di atas 100%.  *** Thoyib Bacharudin

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *