IKM Kemenperin Tak Mau Disebut Hanya ‘Tukang Jahit’

  • Whatsapp
Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih bersama Wakil Ketua Dekranasda Yogyakarta Gusti Bendoro Raden Ayu Adipati Pakualam melihat produk makanan dari IKM Yogyakarta
Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih bersama Wakil Ketua Dekranasda Yogyakarta Gusti Bendoro Raden Ayu Adipati Pakualam melihat produk makanan dari IKM Yogyakarta

Jakarta, Maritim

Dirjen IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih, menandaskan kita sudah tidak mau lagi dikatakan hanya sebagai ‘tukang jahit’ saja. Maka dari itu kita harus mulai menunjukkan identitas diri dengan cara memperlihatkan apa yang sudah bisa diperlihatkan oleh masyarakat Indonesia kepada dunia.

“Biasanya Indonesia di kenal hanya sebagai tukang jahit saja. Kita sudah tidak mau lagi dikatakan hanya sebagai tukang jahit saja. Kita harus mulai menunjukkan identitas kita yaitu dengan cara memperlihatkan apa yang sudah bisa kita perlihatkan oleh masyarakat Indonesia kepada dunia.” katanya, saat membuka ‘Pameran Industri Kreatif Yogya Istimewa’, di Plasa Pameran Industri, Kemenperin, Jakarta, Selasa (17/4).

Untuk itu, tambah Gati, pihaknya akan mengatasi masalah kemasan dan branding produk IKM ini ke depan. Apalagi, permasalahan kemasan dan branding produk ini adalah salah satu program prioritas yang akan dilakukan pada 2018-2019.

Menurutnya, pembenahan pada persoalan industri kemasan dan branding ini sudah sangat mendesak dilakukan, terutama sebagai wujud dari implementasi industri 4.0. Yang beberapa waktu lalu sudah diluncurkan, di mana IKM ada di dalamnya, sebagai suatu ekosistem baru berbasis IOT.

“Sebagai langkah pertama, kita akan mulai dari industri konveksi, agar tercipta koneksi pada ekosistem baru itu. Yakni antara pemberi order, desainer, UPT dan pekerja terkoneksi dalam ekosistem baru,” urainya.

Ditambahkan, setelah kita memiliki pemasaran melalui online, maka persoalan tampilan kemasan dan branding harus lebih indah.

“Untuk itu saya minta Kadisperindag Yogyakarta dapat menempatkan tenaga kerja kemasan yang memiliki kompetensi baik. Minimal yang sudah bekerja sepuluh tahun. Supaya kemasan dari Yogyakarta bisa lebih baik lagi. Karena persoalan kemasan ini harus dikerjasamakan secara long term,” hitung Gati.

Dijelaskan juga, ke depan pihaknya tidak akan menambah pembangunan sentra-sentra IKM yang baru, karena yang ada akan di revitalisasi semuanya.

Program prioritas lainnya, menyusun buku desain IKM 2019, sebagai referensi membuat desain produk. Mengadakan program pengenalan teknologi food processing dan packaging, wirausaha Baru serta OVOP) dan pemberian sertifikasi halal. (M Raya Tuah)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *