2.000 Pelaut Segera Ditempatkan di Kapal Pesiar

  • Whatsapp
Yudi Lontoh (ketiga kiri) saat memberikan pelatihan memasak kepada peserta di kitchen dengan peralatan dan kondisi yang mirip di kapal pesiar.
Yudi Lontoh (ketiga kiri) saat memberikan pelatihan memasak kepada peserta di kitchen dengan peralatan dan kondisi yang mirip di kapal pesiar.

JAKARTA, MARITIM.

Bekerja sama dengan Badan Nasional Penempatan & Perlindungan TKI (BNP2TKI), Lembaga Pelatihan Ketrampilan  Global Hospitality Academy (LPK GHA) saat ini tengah melakukan upgrading skill bagi 50 calon pelaut untuk ditempatkan di kapal-kapal pesiar. Selain mendapat sertifikat kompetensi di bidang perhotelan, mereka juga akan dilengkapi sertifikat dasar kepelautan atau BST (Basic Training Centre) sebelum bekerja di kapal-kapal pesiar internasional.

“Kerjasama pendidikan itu merupakan bagian dari program BNP2TKI yang menargetkan tahun 2018 ini akan menempatkan 2.000 pelaut di kapal-kapal pesiar. Pendidikan calon pelaut dari lulusan SMA/SMK tersebut akan dilakukan di sejumlah LPK Kapal Pesiar,” kata Ketua DPD Forum Kursus Perhotelan Kapal Pesiar Indonesia (FKPI KPI) DKI, Saptawi Budiman kepada Maritim di Jakarta, pekan lalu.

Dikatakan, dana pendidikan sekitar sebulan atau 250 jam pelajaran untuk satu angkatan itu seluruhnya ditanggung oleh pemerintah (BNP2TKI). Biaya pendidikan vokasi sebesar Rp 3,5 juta per orang, di luar untuk mendapatkan sertifikat BST sekitar Rp 1,2 juta per orang.

“Kita lagi perjuangkan agar biaya pendidikan untuk calon pelaut di kapal pesiar satu paket dengan sertifikat BST,” ujar Saptawi selaku anggota dewan direksi yang mewakili Dirut LPK GHA Wendy B. Sumangkut.

Manajer Operasional LPK GHA Yudi Lontoh menambahkan, pelatihan vokasi untuk meningkatkan kompetensi termasuk kemampuan bahasa Inggris ini diselenggarakan dalam 3 jurusan, yakni houskeeping, food & beverage service, dan kitchen. Para instrukturnya dari praktisi/mantan awak kapal pesiar yang telah berpengalaman.

Kurikulum dan silabusnya ditetapkan sesuai standar kompetensi internasional. Untuk praktek peserta pelatihan, LPK GHA dilengkapi sarana penunjang berupa restoran, kitchen (dapur) dan kamar tamu yang mirip kondisi sebenarnya di kapal pesiar.

Setelah mendapat sertifikat kompetensi, kata Yudi, seluruh lulusan pendidikan akan ditempatkan oleh beberapa manning agent  di kapal-kapal pesiar milik AS maupun negara-negara di Eropa. Standar gaji pokoknya 750 dolar AS/bulan, di luar bonus dan tunjangan lainnya.

Selain itu, mereka juga ditempatkan di hotel-hotel bintang 5 di Timur Tengah. Antara lain Kuwait, Dubai, Qatar, Bahrain dan Saudi Arabia. Gaji mereka rata-rata hingga Rp 7 juta sebulan.

Program upgrading skill yang diikuti lulusan SMA/SMK se Jawa dan Madura ini sudah dilakukan sejak September 2017. “Selama 2017 kami telah mendidik dan menempatkan 210 tenaga kerja muda bidang perhotelan untuk ditempatkan di kapal-kapal pesiar dan hotel di  Timur Tengah,” ujarnya.

Devisa tinggi

Saptawi menambahkan, selain menghasilan devisa yang cukup besar pendidikan vokasi perhotelan perlu dipacu mengingat kebutuhan tenaga kerja berkompetensi di kapal pesiar cukup tinggi. “Devisa dari pelaut kita di luar negeri mencapai sekitar Rp16 triliun, sementara dati TKI hanya Rp 3 triliun per tahun,” sambungnya.

Terkait soal ini, Yudi mengatakan, pendidikan vokasi untuk lulusan SMA/SMK perlu ditingkatkan dalam upaya memecahkan pengangguran dengan melibatkan pemerintah daerah. Untuk tahap awal, pihaknya akan melakukan kerjasama dengan Pemda DKI Jakarta, terutama dengan pihak Karang Taruna.

Melalui dana APBD, Pemda DKI diharapkan dapat mencetak tenaga perhotelan yang banyak dibutuhkan di wilayah Jakarta. Saat ini hotel-hotel di Jakarta banyak dikuasai oleh warga dari luar Jakarta.

“Ini peluang baik untuk mengurangi pengangguran di Jakarta,” sambung Yudi Lontoh. ***Purwanto.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *