STARTUP SHUSHI GARAP POTENSI RUMPUT LAUT

  • Whatsapp

Denpasar, Maritim

Read More

KOMODITAS rumput laut di Bali, apabila dikelola dengan baik berpotensial untuk menjadi andalan untuk memasok kebutuhan pasar ekspor. Namun kendalanya selain produksi yang terbatas dan kualitas produksi, lemahnya akses pasar juga jadi penyebab komoditas ini kian tergerus. Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menyebutkan jenis rumput laut eucheuma cottonii yang dibudidayakan di Indonesia, potensi nilainya mencapai sekitar US$.34 miliar setara Rp.459 triliun (kurs Rp 13.500/US$).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan ekspor rumput laut per Juli 2017 sebesar 20,88% atau senilai US$ 69,9 juta dari periode sama tahun sebelumnya, sebesar US$ 57,6 juta. Sedang Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli) sebutkan rerata kebutuhan rumput laut untuk pasar ekspor mencapai 200.000 ton/tahun.

Menyadari potensi ini, platform e-commerce Shushi.Asia terbentuk untuk membantu petani rumput laut menjual dan memasarkan produknya. Dari sisi konsumen, aplikasi ini juga mempermudah mereka untuk mendapatkan suplai rumput laut dengan kualitas baik dan berkelanjutan.

Azhari Dadas, CEO Shushi.Asia mengatakan Shusi.Asia merupakan bentukan dari program Gerakan 1000 Startup. Dari pemetaan permasalahan yang ada di Indonesia umuhya dan Bali khususnya, pihaknya menemukan permasalahan pada komoditas rumput laut. Ungkapnya beberapa waktu lalu: “Dari permasalahan tersebut, kami juga melihat peluang bisnis yang baik, karena Indonesia adalah penghasil rumput laut terbesar di dunia. Hal ini terbukti, pada tahun 2016 Indonesia menghasilkan 11 juta ton rumput laut”.

Ia mengakui karena permasalahan dan potensi itulah Azhari fokuskan perhatian kepada komoditas rumput laut, yang mempunyai peluang sangat bagus tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Adapun aktivitas Shushi selain melakukan pemberdayaan terhadap petani rumput laut, juga mempertemukan komoditas tersebut kepada konsumen.

Azhari berharap kedepan platform shushi menjadi pintu utama untuk komoditas rumput laut di indonesia,hingga konsumen dari dalam maupun luar negeri bisa mengetahui secara lengkap informasi rumput laut yang dapat ditawarkan indonesia, dan mudah melakukan transaksi. Saat ini dengan rerata produksi 1 ton per bulan, Shushi bekerja sama dengan 12 keluarga petani rumput laut dan mensuplai supermarket dan organic shop di Bali.

“Awalnya kami pastikan dulu marketnya, hal ini diaplikasikan supaya sebelum panen petani sudah tahu akan dibeli kemana rumput lautnya, setelah itu setelah melakukan pengemasan, kami akan memfasilitasi pengiriman produk ke konsumen” ungkap Azhari pula.

Ditambahkan alat dan cara pengemasan sebelumnya telah diedukasi oleh shushi lebih dulu, baru kemudian didistribusikan ke konsumen. Pihaknya gunakan e-commerce dan direct marketing hingga lebih luas menjangkau pasar. Juga menggunakan even dan eksebisi untuk meningkatkan brand. Untuk pemberdayaan petani, Shushi berencana menggandeng NGO Rikolto untuk peningkatan operasional dan produksi rumput laut.

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, tercatat total produksi rumput laut di Bali pada 2017 sebanyak 597,71 ton. Jumlah itu merupakan penurunan drastis dibanding pada 2016 sebesar 1.000.856 ton. Kendala cuaca, petani yang beralih profesi karena harga rumput laut yang dinilai rendah,merupkan penyebab penurunan tersebut. Padahal pasar ekspor rumput laut yang terhitung potensial digarap di luar negeri diantaranya adalah Tiongkok, Amerika, dan Eropa. ***ERICK  A.M..

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *