300 Siswa Ikuti Diklat Operator Mesin Industri Garmen

  • Whatsapp
Kepala BDI Jakarta Jonni Afrizon foto bersama dengan perwakilan 3 peserta diklat 3 in 1 serta pihak industri yang akan menempatkan mereka bekerja di pabrik

Jakarta, Maritim

Sebanyak 300 siswa mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) operator mesin industri garmen di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta. Program yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ini menerapkan sistem three in one (3 in 1), yakni pelatihan, sertifikasi dan penempatan.

Read More

“Program diklat berbasis 3 in 1 seperti  ini penting diadakan karena merupakan salah satu pendidikan vokasi berbasis kompetensi untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai di sektor industri,” tegas Kepala BDI Jakarta, Jonni Afrizon, ketika membuka secara resmi Diklat Operator Mesin Industri Garmen dengan sistem 3 in 1, di BDI Jakarta, Senin (2/7).

Kegiatan ini dilaksanakan selama 20 hari, mulai tanggal 2 Juli 2018 – 21 Juli 2018 dengan diikuti sebanyak tiga angkatan 16, 17 dan 18, yang berasal dari berbagai Kabupaten/Kota di wilayah Indonesia.

Menurut Jonni, pelaksanaan diklat ini sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri yang kompeten, di mana saat ini permintaan terhadap tenaga kerja terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan kinerja sektor padat karya tersebut.

“Tujuan kita melaksanakan diklat seperti ini tidak ada lain agar kita mempunyai daya saing yang lebih baik di tingkat global. Karena kita sudah memiliki SDM yang kompeten. Lalu produk yang dihasilkan juga lebih baik dan kualitasnya sesuai dengan yang diharapkan oleh buyer,” jelasnya.

Pasalnya, lanjut Jonni, karena saat ini industri TPT nasional baru menguasai sekitar 2% pangsa pasar di dunia.

“Itu kan sangat kecil. Artinya, kita kalah dengan Vietnam. Maka dari itu kita perlu meningkatkan kapasitas secara maksimal lagi ke depannya,” ajaknya.

Sebanyak 300 peserta yang mengikuti diklat ini rencananya akan langsung ditempatkan bekerja di pabrik. Sehingga tidak ada lagi yang menganggur.

“Saat ini sulitnya memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan keinginan industri sebenarnya jadi dilema juga bagi para pencari kerja. Di saat kebutuhan kerja banyak, pencari kerja yang menganggur juga banyak, artinya ini kan ada yang salah di antara kedua itu,’ urai Jonni.

Makanya, tambahnya, di sinilah BDI Jakarta hadir untuk mengatasi persoalan tersebut. Yakni para pencari kerja masuk ke diklat 3 in 1 sampai akhirnya keluar sudah mengantongi sertifikasi. Karena selama ini yang terjadi pencari kerja yang ingin bekerja di industri tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh industri.

“Padahal dalam satu bulan industri membutuhkan sekitar 10 ribu tenaga kerja. Sementara kemampuan BDI Jakarta hanya mampu mencetak 6 ribu tenaga kerja kompeten. Maka dari itu perlu ada perhatian dari berbagai pihak serta industri agar persoalan ini dapat segera diatasi,” kata Jonni. (M Raya Tuah)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *