Menperin Tetapkan Daerah Industri Cilegon Sebagai Pusat Produksi Olefin Terlengkap dan Terintegrasi

  • Whatsapp
Menperin Airlangga Hartarto berbincang dengan Dirut PT Indorama Petrochemicals Saurabh Mishra ketika peresmian pembangkit listrik captive power kapasitas 30 MW
Menperin Airlangga Hartarto berbincang dengan Dirut PT Indorama Petrochemicals Saurabh Mishra ketika peresmian pembangkit listrik captive power kapasitas 30 MW

Banten, Maritim

Menperin Airlangga Hartarto menetapkan daerah industri Cilegon sebagai pusat produksi Olefin terlengkap dan terintegrasi. Sehingga, Cilegon juga sebagai daerah industri petrokimia dari hulu hingga hilir di Indonesia.

“Pembangunan pabrik PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI) akan meningkatkan nilai tambah Butadiene dan Styrene Monomer yang sudah diproduksi di dalam negeri. Sehingga dapat memperkuat struktur industri petrokimia dari hulu hingga hilir.” kata Menperin, Airlangga Hartarto, saat meresmikan pabrik PT SRI, di Cilegon, Banten, Kamis (29/11).

Setelah meresmikan pabrik SRI, Menperin dan rombongan melanjutkan kunjungan pada dua pabrik lainnya, yakni PT Asahimas Chemicals dan PT Indorama Petrochemicals.

Industri karet sintesis, kata Airlangga, merupakan industri yang perlu dikembangkan. Karena karet sintesis banyak dimanfaatkan untuk memproduksi ban, conveyor belt, komponen karet, alas kaki dan pembungkus kabel listrik.

Saat ini hanya terdapat satu produsen karet sintesis di Indonesia, dengan kapasitas produksi sebesar 75 ribu ton per tahun, padahal kebutuhannya di dalam negeri pada 2017 lalu mencapai 230 ribu ton per tahun. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut dipenuhi dengan cara impor.

PT SRI, yang terletak di provinsi Banten ini, merupakan perusahaam joint venture antara Michelin dan PT Styrindo Monomer Indonesia, dengan memiliki total investasi sebeaar US$420 juta.

Pabrik ini adalah yang pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi ramah lingkungan milik Michelin. Akan memproduksi karet sintesis dengan jenis Solution Styrene Butadiene Rubber (SSBR) dan Neodymium catalyst-Butadiene Rubber (NdBR). Di mana keduanya merupakan material yang digunakan untuk memproduksi ban yang ramah lingkungan.

“Dengan kapasitas produksi mencapai 120 ribu ton per tahun, kami mengharapkan PT SRI dapat memenuhi pasar domestik, sehingga meningkatkan hilirisasi industri pengguna karet sintesis dan mengembangkan pasar ekspor,” jelas Menperin.

Ditambahkan, dipilihnya industri petrokimia adalah karena sektor ini yang diprioritaskan jadi pionir mengimplementasikan industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0.

Pabrik ini dapat tax holiday dari ekspor sebesar US$250 juta. Bagi Michelin, ini pabrik ketiga setelah di Perancis dan Amerika Serikat.

Presdir PT SRI, Brad Karas, mengatakan sebagai salah satu pionir di Indonesia untuk industri karet sintetis yang menggunakan teknologi baru akan memproduksi produk-produk bernilai tambah tinggi.

Selanjutnya Menperin berkesempatan meresmikan pembangkit listrik captive power milik PT Indorama Petrochemicals di Cilegon, Banten. Fasilitas baru berkapasitas 30 MW tersebut dinilai dapat mendukung daya saing perusahaan.

Dikatakan, industri petrochemicals harus sering di-upgrade teknologinya. Dengan tambahan tenaga baru, yang memanfaatkan panas di pabrik, dapat menurunkan biaya produksi. Sehingga tercapai efisiensi dan bisa meningkatkan keuntungan perusahaan.

“Dua pabrik Indorama saat ini berjalan lancar dan tidak ada disruption. Hal ini tentu tidak lepas dari upaya pemerintah mendorong pengembangan industrialisasi,” ujarnya.

Ditambahkan, industri nasional saat ini dipacu untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, sehingga dapat mendorong daya saing lewat inovasi teknologi secara berkelanjutan. Yang salah satu strateginya adalah melalui perombakan alur produksi industri konvensional melalui inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Dirut PT Indorama Petrochemicals, Saurabh Mishra, menyampaikan pihaknya terus berupaya meningkatkan investasi. Misalnya dengan menambah pembangkit listrik perusahaan akan lebih efisien dan produktif.

“Selama ini kami telah investasi lebih dari US$400 juta. Di mana untuk pembangkit energi ini saja kira-kira US$55 juta. Sehingga dengan adanya fasilitas baru tersebut biaya energi dapat turun hampir 20%,” ucapnya.

PT Indorama Petrochemical, produsen Purified Terephthalic Acid (PTA), beroperasi sejak 2013. Dari produksi 33 ton per jam, saat ini telah mencapai 58 ton per jam. Produk PTA Indorama Chemical 100% diserap industri tekstil domestik, sebagai bahan baku serat dan benang.

“Produk kami dipakai grup Indorama dan pasar lokal. Di downstream, industri yang membeli produk kami yang melakukan ekspor, jadi merupakan indirect export,” ujar Mishra. (M Raya Tuah)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *