Tol Trans Jawa Bagi Angkutan Logistik, Ini Kata Aptrindo

Gemilang Tarigan, Ketua Umum DPP APTRINDO

JAKARTA-MARITIM: Asosiasi pengusaha truk Indonesia (Aptrindo) mengungkapkan asosiasinya sedang mengkaji dampak dan pengaruh atas beroperasi Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya.

Ketua Umum DPP Aptrindo Gemilang Tarigan mengatakan, asosiasinya juga mendesak Pemerintah mengevaluasi  penertiban kendaraan over dimensi /over load (ODOL), khususnya terkait dengan  efektifitas dampak  kebijakan tersebut terhadap  kerusakan jalan nasional.

“Dengan adanya trans Jawa yang menghubungkan Jakarta-Surabaya via tol langsung akan semakin menyulitkan angkutan laut roll on roll off (ro-ro) di rute itu untuk tumbuh. Tetapi ini masih kami lakukan pengkajian, bagaimana kondisi kedepannya,”ujar Gemilang, di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Jalan Tol Trans Jawa adalah jaringan jalan tol yang menghubungkan kota-kota di pulau Jawa. Jalan tol ini menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya melalui jalan tol.

Tol trans Jawa sepanjang mencapai 1.000 kilometer tersebut melanjutkan jalan-jalan tol yang sekarang sudah ada itu telah diresmikan operasionalnya pada akhir 2018 oleh Presiden Joko Widodo.

Dia mengungkapkan, dengan adanya jalan tol Trans Jawa itu membuat angkutan logistik semakin efisien karena waktu tempuh semakin singkat.

Namun, imbuhnya, dalam bisnis angkutan truk yang berkaitan dengan besaran tarif angkut selama ini dipengaruhi faktor permintaan customer atau pemilik barangnya.

“Kalau mau cepat sampai tujuan lewat tol dan tentunya tarif angkutnya juga berbeda jika lewat jalan biasa atau arteri. Jadi pilihannya tetap pada customer, dan kami (trucking) hanya mengikuti permintaan pemilik barang,”jelasnya.

Gemilang mengatakan, terhadap penertiban truk ODOL juga mesti dievaluasi untuk mengetahui efektivitas kebijakan rersebut terhadap penurunan biaya perbaikan jalan nasional.

Pasalnya, kata dia, Kemenhub beralasan Penertiban ODOL dilakukan karena pemerintah tiap tahun menghabiskan anggaran Rp 43 triliun  untuk memperbaiki kerusakan jalan akibat dilewati  kendaraan kelebihan muatan atau ODOL.(Akhmad/hb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *