Festival Bau Nyale: Pesona Wisata Lombok

  • Whatsapp
Iringan parade Putri Mandalika berbasis budaya Suku Sasak
Iringan parade Putri Mandalika berbasis budaya Suku Sasak

PRAYA LOMBOK TENGAH – MARITIM : Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), utamanya di Pulau Lombok, terus berupaya menggaet kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) untuk kembali menghidupkan industri pariwisata di provinsi yang tahun 2018  sempat diguncang gempa, dengan korban cukup dahsyat. Salah satu kegiatannya adalah dengan selenggarakan Festival Bau Nyale 2019,  ritual menangkap cacing laut yang secara turun temurun dilakukan warga Suku Sasak sejak Abad-16 M.

Acara puncaknya akan digelar di Pantai Seger Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah pada tanggal 24-25 Februari 2019 mendatang.  Kegiatan yang sudah masuk Top 10 Event Nasional Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia ini akan dirangkai dengan berbagai kegiatan lain oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) yang didukung Kemenpar.

Read More

Sesuai hasil rapat persiapan oleh panitia, kegiatan Festival Pesona Bau Nyale Tahun 2019 ini dipastikan akan lebih meriah dan berkualitas daripada tahun-tahun sebelumnya. H. Lalu Herdan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) dan Protokol Setda Lombok Tengah, dalam keterangannya kepada awak media mengatakan: “Agenda kegiatan Festival Bau Nyale 2019 telah membahas rencana tersebut dan segera dilakukan rapat pematangan bersama Pemprov NTB serta Kemenpar RI”.

Gelar Budaya: Kendati pelaksanaannya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, namun Festival Pesona Bau Nyale kali ini akan dikemas lebih meriah dan berkualitas. Hal ini dilakukan sebagai pendorong promosi Pariwisata di Lombok Tengah yang tengah gencar dibangun menuju terwujudnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Resort.

“Dalam Festival Bau Nyale 2019 ini akan terdapat 13 gelar budaya yang akan dilaksanakan secara lebih khas, dengan harapan dapat menimbulkan kesan mendalam bagi pengunjung” jelas Kabag Humas Provinsi NTB lewat rilis resminya.

Beberapa even yang akan digelar, antara lain berupa pemilihan Putri Mandalika, Surfing Contest, Presean Pepadu sepulau Lombok, Mandalika Photo Contest, Mandalika Berzikir dan Berdoa, Dialog Budaya, Kampung Kuliner, Parade Budaya Putri Mandalika, Pagelaran Seni Budaya dan Belancaran. Acara inti pada malam puncak Bau Nyale yaitu Pentas Seni, Cilokak, Drama Kolosal Putri Mandalika, dan hiburan rakyat.

Untuk menyuksekan dan menarik perhatian masyarakat serta wisnus maupun wisman pada kegiatan ini, adalah cara khusus yang dilakukan Pemda Lombok Tengah yang sejak beberapa saat lalu sudah mulai melakukan promosi seperti membranding pada semua mobil dinas, sebagai kampanye Festival Pesona Bau Nyale tanggal 17 sampai dengan 25 Februari 2019 mendatang yang pada malam puncak acara juga dimeriahkan oleh musisi dan artis ibukota.

Permburu jelmaan Putri Mandalika di pantai Lombok

 Landasan Filosofi: Salah satu gelar budaya suku Sasak di Lombok adalah pelaksanaan tradisi Bau Nyale, yang merupakan sebagian identitas suku Sasak. Oleh sebab itu, tradisi ini masih tetap dilakukan sampai saat ini. Ritual Bau Nyale biasanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah pesisir selatan pulau Lombok. Khususnya di Lombok Timur seperti pantai Sungkin, pantai Kaliantan, dan Kecamatan Jerowaru. Selain itu, juga dilakukan di Lombok Tengah seperti di pantai Seger, Kuta, dan pantai sekitarnya. Dalam melaksanakan tradisi ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai hiburan pendamping.

Bau Nyale dilakukan sebagai tradisi rutin tiap tahun. Berdasar cerita babad, Bau Nyale mulai dikenal masyarakat sejak sebelum abad 16. Penamaannya berasal dari bahasa Sasak. Kata Bau artinya menangkap, sedang Nyale adalah nama sejenis cacing laut. Jadi sesuai dengan namanya, tradisi ini kegiatan menangkap nyale termasuk dalam filum Annelida, yang hidup di dalam lubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut. Uniknya, cacing-cacing nyale tersebut hanya muncul dua kali dalam setahun.

Tradisi Bau Nyale merupakan kegiatan yang dihubungkan dengan kebudayaan setempat, berawal dari legenda lokal berlatarbelakang kisah Putri Mandalika. Menurut kepercayaan masyarakat Lombok, nyale konon merupakan jelmaan Putri Mandalika yang cantik dan baik budi pekertinya, hingga banyak raja dan pangeran yang jatuh cinta dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri.

Menghadapi situasi tersebut, Putri Mandalika bingung dan tak mampu menentukan pilihan, karena bila ia memilih salah satu dari mereka, ia takut akan terjadi peperangan, yang tidak diinginkan karena ia tidak mau rakyat menjadi korban. Karenanya, Putri Mandalika memilih mengorbankan diri mencebur ke laut dan berubah menjadi nyale yang berwarna-warni.

Bersifat Magis: Bertolak dari legenda tersebut, masyarakat suku Sasak Lombok percaya bahwa nyale tidak hanya sekedar cacing laut biasa, tetapi merupakan penjelmaan dari Putri Mandalika yang dipercaya akan dapat membawa kesejahteraan bagi yang menangkapnya. Masyarakat di sini meghormati dan percaya bahwa orang yang mengabaikannya akan mendapat kemalangan. Mereka yakin nyale dapat membuat tanah pertanian mereka lebih subur dan mendapat hasil panen yang memuaskan. Selain itu, nyale juga digunakan untuk lauk pauk, obat dan keperluan lain yang bersifat magis sesuai kepercayaan masing-masing.

Tradisi Bau Nyale biasanya dilakukan dua kali setahun, dilaksanakan beberapa hari saat bulan purnama, pada hari ke-19 dan 20 bulan 10 dan 11 sesuai penanggalan suku Sasak. Biasanya momen tersebut terjadi pada bulan Februari dan Maret. Upacara penangkapan cacing nyale dibagi menjadi dua, yakni dilihat dari bulan keluarnya nyale dari laut dan waktu penangkapannya. Dilihat dari waktu penangkapan juga masih dibagi menjadi jelo pemboyak dan jelo tumpah.

Bulan keluarnya nyale dikenal dengan nyale tunggak dan nyale poto. Nyale tunggak adalah nyale-nyale yang keluar pada bulan kesepuluh sedangkan nyale poto keluarnya pada bulan kesebelas. Kebanyakan nyale-nyale keluar saat nyale tunggak. Sebab itu, banyak orang yang menangkap nyale pada bulan ke-10. Sesuai tradisi, masyarakat menangkap nyale menjelang subuh, ketika nyale berenang ke permukaan air laut, seakan dengan suka-rela siap menjadi “tumbal” bagi masyarakat yang memerlukannya . (Erick Arhadita)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *