Daya Saing Pelabuhan Indonesia Rendah, Akibat Tingginya Biaya logistik dan Dwelling Time

  • Whatsapp
Para pembicara pada seminar Revolusi 4.0 Kepelabuhan
Para pembicara pada seminar Revolusi 4.0 Kepelabuhan

JAKARTA – MARITIM : Era digitalisasi, yang mewarnai revolusi industri 4.0 perlu persiapan secara matang, khususnya dalam hal peningkatan daya saing, dan produktivitas industri nasional. Sebab apa yang sedang dipersiapkan Indonesia ini, akan berdampak pada industri dan pertumbuhan ekonomi kedepan.

Demikian Menteri Perhubungan yang diwakili Staf Khusus Menhub Bidang Ekonomi dan Investasi Transportasi Prof. Wihana Kirana Jaya, saat membuka Dialog Strategis “Revolusi 4.0 Industri Pelabuhan & Pelayaran” di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (6/3).

Harapannya, semua industri otomatisasi guna mendorong bisnisnya, termasuk industri di pelabuhan. Karenanya, revolusi industri 4.0 di sektor pelabuhan merupakan hal baik untuk menuju smart port dan smart supply chian.

Lebih jauh dijelaskan, pada 2023, Pasar Logistik akan menjadi salah satu industri terbesar di dunia. Namun pelabuhan di Indonesia, masih memiliki daya saing yang rendah dibandingkan negara lain. Penyebabnya , biaya logistik yang masih mahal dan dwelling time yang masih tinggi.

“Data World Bank, 2018 biaya logistik Indonesia kurang lebih 25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) , Indonesia masih berada di bawah Vietnam dan Malaysia yang biaya logistiknya hanya sekitar 13-15 persen dari PDB,” terang Prof. Wihana.

Menurut Prof. Wihana, sebagai negara kepulauan , Indonesia harus menjadi pemain utama dalam industri pelabuhan dan pelayaran. Ini karena Indonesia adalah negara maritim , di mana 40 persen perdagangan logistik dunia melewati perairan Indonesia.

“Ini menunjukkan, kita telah unggul. Maka kita harus dapat memanfaatkan potensi maritim tersebut , dengan cara menguasai teknologi dan digitalisasi,” imbuhnya.

Dikatakan, Kementerian Perhubungan telah memulai upaya-upaya digitalisasi, seperti melakukan Transhub Challenge untuk mendorong start-up digitalisasi di bidang transportasi hingga mengembangkan sistem inaportnet versi 2.0.

“Pemerintah berharap perkembangan revolusi 4.0 di industri pelayaran semakin cepat sehingga mampu mewujudkan sistem logistik Indonesia yang lebih efisien dan berdaya saing,” kata Prof. Wihana.

Senada dengan Prof. Wihana, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Perhubungan , Baitul Ihwan menekankan , pentingnya penerapan teknologi informasi di sektor transportasi laut.

“Penerapan teknologi informasi menjadi salah satu grand strategy dan kebijakan umum di sektor transportasi laut yang mendasari seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah termasuk dalam bidang kepelabuhanan,” tutur Baitul.

Dalam konsep pelabuhan modern, sebuah pelabuhan tidak hanya menjadi transportation center, tetapi juga menjadi sebuah logistic & service center di mana banyak transaksi ekonomi dan administrasi yang dilakukan. Disinilah teknologi informasi berperan untuk membuat proses transaksi ekonomi dan administrasi bisa dilakukan lebih cepat, murah, dan transparan.

“Penerapan digitalisasi di pelabuhan nasional yang kami laksanakan saat ini adalah untuk mewujudkan 4th generation port, di mana seluruh proses di pelabuhan bisa saling terintegrasi, diakses, dan diawasi dalam satu sistem yang terpadu melalui sistem inaportnet,” jelas Baitul. (Rabiatun)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *