Kelian Adat Dukung Pengembangan Benoa Asal Sesuai Aturan

Kelian Adat Banjar Pesanggaran (tengah) dan para tokoh masyarakat

BENOA BALI – MARITIM : Kendati Gubernur Bali Wayan Koster tegas-tegas meminta PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)/Pelindo III, namun tampaknya hal itu tak menggambarkan sikap seluruh krama Bali. Hal ini, setidak-tidaknya dapat dicermati dari sikap pihak adat Banjar Pesanggaran, Desa Pedungan, Denpasar, yang menyatakan mendukung proyek pengembangan Pelabuhan Benoa di Denpasar yang tengah berlangsung saat ini.

Tetapi dukungan itu bukannya tanpa catatan, seperti yang diucapkan oleh Wayan Widiada, kepada para pewarta termasuk maritim.com di sela kesibukan penanaman 50.000 bibit mangrove di awal pekan lalu: “Kami dari Banjar Pesanggaran yang bersentuhan langsung dengan Pelabuhan Benoa, menyatakan mendukung proyek pengembangan Benboa, namun tetap menekankan adanya tertib aturan. Perlu ada pemahaman, mana reklamasi dan mana dumping area. Pada prinsipnya kami mendukung, karena pelabuhan merupakan salah satu kebutuhan masyarakat. Tetapi dukungan itu harus ada dasarnya, ada dasar peraturan yang belaku, agar sesuai dengan aturan. Yang kami ketahui, lokasi proyek tersebut adalah wilayah pengembangan pelabuhan. Jika tidak dikembangkan mana mungkin bisa maju. Tetapi dalam pengembangan juga perlu memperhatikan lingkungan. Apalagi dalam visi pembangunan Bali yang didasari filosofi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang mencakup Segara Kerthi dan Wana Kerthi, jadi harus dipahami dan dihayati hal ini sebagai kebutuhan untuk yang lebih bagus”.

Lebih jauh, dikatakan bahwa dalam proyek pengembangan Pelabuhan Benoa ini hal yang mendesak dilakukan pihak Pelindo adalah menyelesaiakn Pura Pemelastian Segara untuk kepentingan upacara melasti. Imbuhnya: “Dengan adanya penataan pelabuhan, maka akan ada sedikit perubahan tempat pemelastian, itu yang harus diutamakan karena upacara melasti tahun 2020 sudah sangat mendesak. Setiap rumah taggga di banjar tentu juga akan memakai tempat ini untuk pemelastian”.

Selain tempat pemelastian, juga harus ada kanal sebagai kebutuhan pelabuhan dan sekali gas kebutuhan masyarakat nelayan di pesisir. Ujar Widiada pula: “Pelabuhan semodern apapun harus ada nelayan tradisional karena merupakan warisan nenek moyang, warisan budaya untuk pemberdayaan masyarakat pesisir. Kanal itu juga merupakam sarana drainase wilayah Pesanggaran sejak dari dulu, agar nantinya tidak ada dampak yang timbul”.

Alat-alat berat untuk penataan dumping area Benoa

Area Melasti

 Sepekan setelah keluar permintaan Gubernur Bali agar Pelindo III menghentikan poroyek reklamasi di lingkungan Pelabuhan Benoa, sejumlah alat berat masih terlihat bekerja di area dumping. Terkait hal itu, I Wayan Eka Saputra CEO Pelindo III Regional Bali Nusa Tenggara, yang diminta konfirmasi di sela-sela penanaman mangrove di sisi utara Pelabuhan Benoa, menjelaskan bahwa aktivitas alat berat itu merupakan bagian dari penataan area dumping.

 Jelas Wayan Eka: “Aktivitas alat berat itu merupakan bagian dari penataan yang sedang kami lakukan, yakni pekerjaan memperluas dan memperdalam kanal di lokasi proyek itu. Kanal diperluas dan diperdalam agar volume air dapat lebih banyak seperti sebelum penataan. Pembuatan kanal juga untuk kepentingan nelayan setempat. Selain penataan kanal, di lokasi tersebut juga akan dibangun area Melasti untuk kebutuhan masyarakat Desa Pedungan. Ini merupakan program Pelindo III, penataan yang dilakukan saat ini diharap kondisi perairan pesisir Benoa lebih hijau, sama dengan kondisi sebelum dilakukan penataan, hingga kondisi air dan mangrove lebih baik lagi”.

 Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster dalam surat resmi kepada Direktur Utama Pelindo III yang juga ditembuskan kepada Menteri BUMN, Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan, Menteri Perhubungan, serta Menteri Agraria dan Penataan Ruang minta agar PT Pelindo III segera menghentikan reklamasi di areal seluas 85 hektar di sekeliling Pelabuhan Benoa. Permintaan penghentian ini didasari penilaian pengurukan wilayah laut itu menghancurkan ekosistem bakau seluas 17 hektar serta memicu terjadinya sejumlah pelanggaran.

Penanaman mangrove melibatkan kalangan pelajar

Tanam Mangrove

 Pelindo III Benoa, Senin lalu melakukan penanaman 50.000 pohon mangrove di pesisir kawasan Pelabuhan Benoa. Selain untuk pelestarian, kegiatan ini juga dimaksud untuk mengembangkan kawasan green port, pelabuhan hijau ramah lingkungan. Pada kegiatan ini Pelindo III Benoa menggandeng beberapa instansi mulai  dinas kehutanan, dinas lingkungan hidup, taman hutan raya Ngurah Rai, KSOP Pelabuhan Benoa, Desa Adat, dan UPTD Tahura Ngurah Rai Denpasar dalam hal pendampingan, pengawasan, dan monitoring tumbuh kembang mangove.

 Kegiatan menanam bibit bakau ini merupakan tahap kedua, dengan jumlah 50.000 pohon. Penanaman bakau ini merupakan bagian dari rangkaian penghijauan area pesisir Pelabuhan Benoa dan meneruskan penanaman bakau tahap pertama yang sebelumnya dilaksanakan pada Januari 2019. Jenis pohon mangrove yang ditanam dalam kegiatan ini antara lain jenis mukronata, bulgoera, dan jenis apikulata, yang sesuai rekomendasi puslitbang hutan Bogor,

Pada tahap pertama, sebanyak 50.000 bibit bakau telah ditanam bersama berbagai elemen masyarakat dan Pemprov Bali, Tahura Ngurah Rai, KSOP Pelabuhan Benoa, Distrik Navigasi Pelabuhan Benoa, Polisi Air, Imigrasi, Bea Cukai, Camat Denpasar Selatan, Lurah Pedungan, serta pemangku adat setempat, seperti Kelihan Adat dan Dinas Banjar Sanggaran.

 CEO Pelindo III Regional Bali Nusa Tenggara I Wayan Eka Saputra menjelaskan pihaknya berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan, terutama peluasan habitat bakau. Ujar pria kelahiran Bangli ini: “Dari awal sudah disampaikan bahwa Pelindo III berkomitmen untuk kenjaga kelestarian lingkungan. Dalam pelaksanaan, kami menggandeng UPTD Tahura Ngurah Rai untuk mendampingi, mengawasi, dan memonitor tumbuh kembang bakau. Pada penanaman perdana bnulan Januari 2019, selain menanam, kami telah menugaskan tim untuk merawat dan mengawasi agar bibit bakau yang ditanam. Pertumbuhan bibit bakau telah berhasil 90% sehingga kali ini kami meneruskan penanaman tahap ke II dan tahap selanjutnya hingga wilayah sekitar pesisir pantai semakin hijau”.

Wayan Eka juga menyampaikan komitmen untuk menghijaukan kembali kawasan bakau di sekitar pelabuhan. Ujarnya: “Pembangunan di Pelabuhan Benoa telah kami persiapkan sedemikian rupa agar dapat selaras dengan keharmonisan lingkungan sekitar, baik alam, budaya maupun sumber daya manusianya”.

Dalam kesempatan terpisah, VP Corporate Communications Pelindo III Wilis Aji Wiranata menyebutkan Pelindo III telah menyiapkan area seluas 1 hektare untuk pembangunaan lokasi upacara Melasti sebagai bentuk penghormatan terhadap Krama Bali. Ujar Wilis Aji: “Amdal untuk pembangunan lokasi upacara Melasti sudah kami siapkan. Saat ini sedang persiapan proses pembangunannya. Dalam industri pelayaran kapal pesiar, tentunya selain faktor keamanan yang harus kondusif, faktor kelestarian lingkungan sekitar pelabuhan juga jadi perhatian, karena sangat memengaruhi kualitas kesehatan dan keindahan pelabuhan. Karena itu Pelabuhan Benoa terus dikembangkan berkonsep pelabuhan ramah lingkungan agar berkelanjutkan dalam memberi manfaat ekonomi ke masyarakat dan pariwisata Bali.

Di area pesisir Benoa wilayah barat jalan dan pintu masuk pelabuhan, Pelindo III telah mengembangkan area konservasi hutan bakau seluas lebih 18 ha”.  (Erick Arhadita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *