Pengembangan Pelabuhan Benoa Masuk Evaluasi Pemerintah

BENOA BALI – MARITIM : Berdasar kesepakatan hasil rapat bersama yang mempertimbangan dampak lingkungan dari pembangunan yang dilakukan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)/Pelindo III Cabang Benoa Bali, maka pengembangan pelabuhan Benoa Bali resmi dievaluasi oleh pemerintah. Ridwan Djamaluddin Deputi Infrastruktur Kemenko Maritim menjelaskan, berdasar evaluasi tersebut juga merekomendasikan proyek reklamasi yang dilakukan di area seluas 85 hentare tersebut untuk diberhentikan dan melakukan penataan ulang serta membuat ruang terbuka hijau di area terdampak seluas 17 hektar dengan melakukan penanaman kembali ekosistem pohon bakau dengan melibatkan pihak Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kemenko Maritim meminta selama proses konservasiagar Pelindo III dan KSOP Benoa akan meninjau dan mengusulkan kembali dokumen Rencana Induk Pelabuhan (RIP) yang menjadi acuan pengembangan Pelabuhan Benoa saat ini, secara rinci untuk pemanfaatan kedepan.

Hal itu dilakukan dengan cara  tim koordinasi pemantauan khusus dengan keanggotaan yang terdiri dari pejabat Pemerintah Pusat, Pemprov serta akademisi yang tugasnya mengusulkan rencana pengembabgan pelabuhan kedepan secara objektif.

Terkait hal tersebut, Djamaluddin menegaskan, nantinya lokasi pengembangan pelabuhan sudah dilakukan selama ini bukan lagi diperuntukan bagi kepentingan bisnis melainkan untuk kepentingan umum. Ujarnya saat jumpa media di rumah dinas Gubernur Bali Sabtu (7/9/2019): “Tentu rekomendasi tersebut mempertimbangkan kepentingan pusat, daerah dan kearifan lokal di Bali”.

Pada kesempatan tersebut, Deputi Infrastruktur Kemenko Maritim juga meminta maaf atas kegaduhan yang selama ini terjadi di masyarakat dengan cara mematuhi kesepakatan yang dilakukan hari ini bersama pemprov Bali.

Sedang Dirut Pelindo III Doso Agung menjelaskan kepentingan umum yang dimaksud yaitu kegiatan untuk mendukung aktivitas pelabuhan Benoa secara menyeluruh. Dikatakan, nantinya hasil evaluasi RIP bertujuan salah satunya untuk pemanfaatan kawasan pelabuhan Benoa di lokasi dumping satu dan dua. Kedepan, lokasi tersebut akan dimanfaatkan sebagai pembangunan kepentingan pelabuhan antara lain sebagai relokasi pangkalan tabung gas Pertamina yang ada saat ini ke lokasi Pelabuhan Benoa. Juga akan membangun tangki bahan bakar avtur untuk suplai kebutuhan pesawat udara di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Kabupaten Badung Bali, serta perluasan lahan pelayanan petikemas.

Di kesempatan itu, Dirut Pelindo III juga mengatakan, pengembangan akan dilakukan pada sisi dermaga, yang nantinya di lokasi tersebut akan dibangun dermaga serta tangki pengisian bahan bakar kapal cruise. Ujarnya: “Jadi rekomendasi penghentian pengembangan tersebut dilakukan di darat, bukan di sisi pembangunan dermaga”.

Lebih jauh, Dirut Pelindo III menjelaskan, saat ini pemerintah pusat tengah mendorong Bali menjadi destinasi wisata Marine Tourism Hub yang diprediksi berpotensi mendatangkan ribuan wisatawan. Menurutnya, saat ini Bali belum memiliki kapasitas yang memadai untuk menunjang aktivitas pariwisata tersebut, disebabkan kedalaman kolam serta dermaga yang ada hanya mampu menampung kapal cruise berukuran kecil hingga perlu pengembangan kawasan pelabuhan. Pungkasnya: “Kapal cruise yang datang ini tak dapat mengisi BBM dan air bersih di Bali. Karenanya, mereka mengisinya di Singapura. Sebab itu pengembangan di sisi darat dan dermaga perlu dilakukan untuk mengakomodir kepentingan tersebut”.

Dalam kjesempatan yang sama, Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan, evaluasi tersebut merupakan jawaban dari surat Gubernur Bali tertanggal 26 Agustus lalu yang pada intinya berisi tuntutan atas adanya keteledoran dari pengembangan pelabuhan tersebut, sehingga mengakibatkan timbulnya dampak atas lingkungan. Gubernur juga berupaya mendorong Pelindo III untuk segera melakukan konservasi lingkungan di area terdampak dengan cara menanam lagi pohon bakau yang sudah mati.

Memungkasi penjelasan Gubernur Wayan Koster berucap: “Saya memberi apresiasi kepada PT Pelindo III, yang telah secara terbuka mengakui keteledorannya dan bersedia minta maaf kepada masyarakat Bali”. (Erick Arhadita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *