Indonesia Dermawan, Urusan Kemanusiaan Tak Pernah Usai Atasi Bencana

JAKARTA — MARITIM : Urusan kemanusiaan merupakan hal terbesar dan tidak pernah usai dalam kehidupan manusia. Karenanya perlu ada spirit masyarakat, untuk saling membahu mengatasi gempuran Allah berupa bencana, yang berisiko terhadap kehidupan manusia.

“Selama dunia bergulir, berbagai cara diturunkan Allah kepada manusia untuk beribadah,”tutur Presiden Global Islamic Philantropy (GIP), Ahyudin dalam pembukaannya pada peluncuran IndonesiaDermawan, Aksi Cepat Tanggap (ACT), di Menara 165, Selasa (10/9).

Menurut Ahyudin, tragedi kemanusiaan berupa kekeringan, kemiskinan akibat konflik peperangan dan bencana alam, merupakan cara Allah memanggil umat Nya, untuk mengurusi manusia dengan imbalan pahala. Jadi jangan menyalahkan, bahwa bencanalah menjadi penyebab tragedi kemanusiaan. Tapi bersyukur bahwa lewat bencana, kita bisa mengelola spirit untuk saling berbuat kebaikan.

Dikatakan, mengurusi manusia, dari berbagai bencana dan musibah merupakan pekerjaan yang tidak pernah usai, hingga Hari Kiamat. Karena saling mengurusi antara sesama manusia, untuk melepaskan diri dari bencana merupakan lahan yang diciptakan Allah, agar manusia bisa beribadah. Bencana yang terjadi di muka bumi ini, seperti peperangan dan berbagai tragedi lainnya, merupakan suatu keniscayaan, dan peluang kepada manusia untuk berbuat kebaikan serta menciptakan manusia-manusia yang dermawan.

Indonesia lanjutnya, kedermawanan telah menjadi sebuah kegiatan yang lumrah. Namun masih diperlukan sebuah wadah untuk menghimpun kesadaran filontropi dari masyarakat dermawan. Agar kepedulian muncul, tanpa menunggu momentum tertentu .

Untuk itu menurut Ahyudin, Global Islamic Philantropy (GIP) sebagai Holding Foundation, dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi Gerakan Nasional IndonesiaDermawan, yang diharapkan menjadi rutinitas yang tidak dapat ditinggalkan. Dalam rangka acara ini GIP mengajak semua segmen dermawan mulai dari media, donatur, komunitas , public figur dan lainnya untuk menjadi bagian dari gerakan dermawan. Ini untuk kembali mengaktifkan nilai-nilai tersebut, seperti gotong royong yang merupakan karakter terbaik bangsa.

“Kedermawanan kian menyatu pada jati diri masyarakat Indonesia. Setidaknya ini yang kami rasakan selama 14 tahun perjalanan ACT,”tutur Ahyudin.

Dikatakan, kedermawanan menemukan momentumnya ketika terjadi bencana atau ketika hati tergugah untuk membantu saudara yang memerlukan. Anak bangsa berkolaborasi dalam semangat filontropi , menghidupkan kembali kebersamaan dalam aksi-aksi kebaikan.

“Kami pun terus berikhtiar menghimpun kesadaran filontropi dari masyarakat dermawan agar sangat gotong royong, dan kepedulian muncul tanpa menunggu momentum,”tutup Ahyudin.(Rabiatun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *