PT CSB Fokus Jadi Industri Plastik Penjaga Lingkungan

Direktur PT CSB Yudy Sutisna bersama rekannya Tono berpose di belakang tumpukan impor limbah plastik untuk kemudian didaur ulang jadi bahan baku kantong plastik serta biji plastik yang sebagian diekspor ke China

BANDUNG- MARITIM : Pelaku usaha di Indonesa dituntut harus mulai beralih dari menjalankan bisnis seperti biasanya (business asusual) menjadi yang berwawasan industri hijau. Isu ini penting dan mutlak untuk segera dilaksanakan guna tercapainya efisiensi produksi serta menghasilkan produk yang ramah lingkungan.

“Industri hijau itu, adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan penerapan efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Direktur PT CAVE Sumber Berkat (CSB), Yudy Sutisna, saat kunjungan wartawan ke pabriknya, yang berlokasi di Kawasan Industri Tri Kencana, Katapang, Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Memperoleh kepercayaan dan pengakuan dari pemerintah sebagai perusahaan yang menjalankan dan menghasilkan produk ramah lingkungan, menurutnya, menjadi alasan bagi perusahaannya mengikuti kegiatan penganugerahan Penghargaan Industri Hijau 2019.

Di mana program ini diselenggarakan oleh Kemenperin setiap tahun dan diberikan kepada perusahaan industri yang telah menerapkan pola penghematan sumber daya material, energi dan air yang ramah lingkungan serta terbarukan.

“Kami ingin menjadi produsen plastik yang dapat menjaga lingkungan tetap bersih dan hijau di wilayah Kabupaten Bandung pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” ujarnya.

Buktinya, bukan hanya sedang berslogan, Yudy dan ratusan karyawannya juga mempraktekkan di lapangan dan di sekitar pabriknya. Dengan menggandeng masyarakat menjaga lingkungan, perusahaan plastik ini terjun langsung dan melakukan sosialisasi mengelola sampah sampai menjaga sungai dalam program Citarum Harum. Sementara dalam proses produksi di pabrik, perseroan telah melaksanakan sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang terintegrasi.

Sistem IPAL ini, adalah sebuah struktur yang dirancang untuk membuang limbah biologis dan kimiawi dari air, sehingga memungkinkan air tersebut digunakan pada aktivitas yang lain. Contohnya, di akhir proses IPAL, kita dapat menyaksikan satu kolam besar berisi puluhan ikan mas berwarna-warni yang hidup dengan normal dan leluasa, mirip seperti di kebanyakkan kolam ikan umumnya.

“Untuk mengurai limbah di sini, kami memanfaatkan bakteri aerobik aktif, yang diimpor dan sampai sekarang masih tetap berfungsi baik. Sehingga kita bisa saksikan bersama di akhir proses IPAL ikan-ikan pun hidup normal,” ungkapnya.

Sementara untuk mesin produksi, perusahaan membelinya dari Austria, Italia dan Taiwan. Di samping itu, perusahaan secara rutin melakukan analisa air, analisa udara dan analisa kebisingan, agar kondisi pabrik serta lingkungan tetap terjaga.

PT CSB, adalah perusahaan penghasil produk plastik, seperti pembuatan film plastik HD/LDPE berkualitas tinggi yang digunakan untuk membuat tas belanja (tas keresek), kantong sampah dan biji plastik melalui proses re-duce dan daur ulang plastik. Sehingga dapat menjaga lingkungan tetap hijau kembali, berperan aktif mensosialisasikan pilah pilih sampah kepada warga masyarakat pada giat bank sampah.

“Di satu sisi kita dan masyarakat dapat sama-sama menjaga lingkungan bersih dan di sisi lain masyarakat yang menyetorkan sampah plastik ke bank sampah di pabrik akan memperoleh imbalan. Karena kami memang mewadahinya dalam program CSR,” kata Yudy.

Hemat energi dan air

Yudy mengakui, melalui penerapan industri hijau akan terjadi efisiensi pemakaian bahan baku, energi dan air, sehingga limbah maupun emisi yang dihasilkan menjadi minimal. Dengan demikian, maka proses produksi akan menjadi lebih efisien yang tentunya akan meningkatkan daya saing produk industri.

“Untuk penghematan energi dan air bisa kami capai 5%. Tapi khusus untuk air ke depannya bisa dihemat 15%,” jelas Yudy.

Pengembangan industri hijau, merupakan salah satu usaha untuk mendukung komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26% pada 2020 dan mencapai 41% dengan bantuan internasional.

“Kelebihan perusahaan ini sebagai industri hijau karena kami menggunakan bahan baku daur ulang dari defect hasil produksi sendiri. Sehingga dapat mengurangi sampah plastik di lapangan. Di samping itu, kami juga menggunakan bahan baku degradable yang ramah lingkungan, sehingga kantong plastik yang diproduksi dapat hancur dalam beberapa tahun ke depan,” urai Yudy.

Dia meyakini, selama perusahaan melakukan impor limbah plastik sesuai dengan ketentuan dari pemerintah, maka tidak akan menyebabkan lingkungan menjadi lebih kotor dan berbahaya bagi masyarakat lingkungan sekitar.

PT CSB berdiri pada 10 Februari 2003, dengan kapasitas produksi mencapai 50 ribu ton/tahun dan punya 480 karyawan. Bahan baku yang diimpor mencapai 25 ribu ton sementara dari lokal diperoleh 22.500 ton. Pemasaran produk yang dihasilkan diekspor ke Somalia dan Gabon sebanyak 6 container ukuran 40 feet. Sedangkan konsumsi di dalam negeri mencapai 70% dari kapasitas produksi.

PT CSB selama ini memperoleh impor limbah plastik tipe 982 dari Jerman, Amerika Serikat dan Australia. Artinya, 98% impor limbah plastik murni dan 2% impor limbah plastik bekas. (Muhammad Raya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *