Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke Pasar China

JAKARTA – MARITIM : China merupakan salah satu negara importir minyak sawit terbesar di dunia. Negara utama sumber minyak sawit yang diimpor oleh China sebagian besar berasal dari Malaysia 57,5% dan Indonesia 42%. Namun lima tahun terakhir Indonesia berhasil jadi negara utama sumber minyak sawit di China.

Tim Riset PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) menyatakan, China juga merupakan top 3 negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia. Volume ekspor minyak sawit Indonesia ke China pada periode 2010-2018 secara umum menunjukkan kenaikan. Pada 2010 ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar China sebesar 2,7 juta ton kemudian meningkat menjadi 4,4 juta ton pada 2018.

Penurunan produksi minyak kedelai sebagai implikasi dari mewabahnya virus ASF di China terbukti juga meningkatkan ekspor minyak sawit Indonesia ke China. Jika dibandingkan dengan periode Januari-Juni 2018 dan 2019 menunjukkan peningkatan ekspor minyak sawit dengan rata-rata selisih sebesar 120 ribu ton.

Volume ekspor minyak sawit pada Januari 2018 sebesar 307 ribu ton sedangkan volume ekspor pada Januari 2019 meningkat menjadi 473 ribu ton. Begitu pula dengan peningkatan volume ekspor periode Juni 2018 hanya sebesar 330 ribu ton meningkat menjadi 436 ribu ton pada Juni 2019.

Kondisi ini menguntungkan bagi Indonesia sebagai produsen dan eksportir CPO. Peningkatan permintaan China terhadap minyak sawit juga menjadi angin segar ditengah lesunya permintaan pasar dunia.

Karena itu, Indonesia harus memanfaatkan momen ini untuk mempromosikan minyak sawit ditengah peningkatan permintaan China yang diprediksi terus meningkat seiring dengan penurunan produksi minyak kedelai.

Kondisi harga minyak sawit yang sedang menurun juga harus dimanfaatkan untuk meningkatkan permintaan minyak sawit di China mengingat konsumen China yang cenderung price elasticities.

Dalam struktur konsumsi minyak nabati China, minyak kedelai merupakan minyak nabati utama dengan pangsa mencapai 44%. Penurunan produksi minyak kedelai akan berdampak pada peningkatan konsumsi minyak sawit sebagai produk substitusinya. Peningkatan permintaan minyak sawit digunakan oleh industri makanan seperti mie instan, snack dan fast-food dimana peningkatan tersebut dipengaruhi karena harga minyak sawit yang lebih kompetitif.

Volume impor minyak sawit China mengalami peningkatan sebesar 7% selama periode Agustus 2018-Juli 2019. Volume minyak sawit yang diimpor China pada Agustus 2018 hanya sebesar 415 ribu ton dan terus mengalami peningkatan menjadi 638 ribu ton pada Juli 2019. Bahkan volume impor terbesar terjadi pada Januari 2019 yakni sebesar 694 ribu ton.

Peningkatan permintaan minyak sawit selain untuk mensubstitusi minyak kedelai, tapi juga diperkirakan turut mensubstitusi lemak babi (lard) yang dikonsumsi oleh industri maupun konsumen di China.

Menurut data Index box, konsumsi lard China hampir sebesar 2,4 juta ton atau 40% dari total konsumsi global. Populasi babi yang menurun karena wabah ASF dan tindakan penyembelihan oleh pemerintah China menyebabkan produksi lard juga mengalami penurunan.

Industri peternakan babi di China sudah hampir satu tahun menghadapi serangan African Swine Fever (ASF) atau yang dikenal juga dengan Flu Babi Afrika yang mematikan bagi babi. Mengingat besarnya konsumsi daging babi di China dan telah menjadi sumber protein yang tidak tergantikan bagi konsumen China, maka pemerintah China melakukan upaya untuk menghentikan wabah tersebut dengan menyembelih babi yang terinfeksi virus. Upaya tersebut menyebabkan populasi babi dewasa (hog) di China menurun hingga 30%.

Penurunan populasi babi di China juga berdampak terhadap penurunan permintaan pakan sehingga menyebabkan permintaan bahan pakan (feedstuff) seperti kedelai (khususnya kedelai impor) juga mengalami penurunan.

Rendahnya ketersediaan kedelai impor di China berdampak pada berkurangnya aktivitas industri crushing domestik. Sehingga produksi minyak kedelai juga mengalami penurunan. Karena itu, industri makanan meningkatkan permintaan impor untuk minyak nabati alternatif yang dapat mensubstitusi minyak kedelai yaitu minyak sawit.

Indonesia sebagai salah satu negara eksportir minyak sawit ke China juga merasakan manfaat dari peningkatan permintaan minyak sawit di negara tersebut. Ekspor minyak sawit Indonesia ke China selama periode Januari-Juni 2018 dan 2019 menunjukkan peningkatan dengan rata-rata selisih sebesar 120 ribu ton. Kondisi ini harus dimanfaatkan Indonesia ditengah lesunya permintaan minyak sawit global. (Jum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *