Industri 4.0 Hasilkan Sektor Mamin Punya Nilai Tambah Paling Tinggi

Sekjen Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono

PADANG – MARITIM : Kemenperin Perindustrian (Kemenperin) sedang fokus menggenjot kinerja lima sektor manufaktur di dalam negeri untuk siap memasuki era industri 4.0 dan jadi penopang terhadap pertumbuhan ekonomi nasional ke depannya. Kelima sektor tersebut, yaitu industri makanan dan minuman (mamim), tekstil dan pakaian, kimia, otomotif serta elektronika.

“Sektor-sektor itu dipilih berdasarkan evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup kontribusi PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi dan kecepatan penetrasi pasar,” kata Sekjen Kemenperin, Achmad Sigit Dwiwahjono, pada acara ‘Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Wartawan’, di Padang, Selasa (8/10).

Dijelaskan, lima sektor manufaktur yang jadi andalan tersebut, dinilai mampu memberikan kontribusi signfikan hingga lebih dari 60% ke PDB, nilai ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Sehingga kalau kelima sektor ini digarap bersama-sama tentunya akan men-trigger pertumbuhan ekonomi lebih signifikan lagi.

Misalnya, industri mamin, dalam kurun lima tahun terakhir kinerjanya konsisten positif melampaui pertumbuhan ekonomi. Sektor ini tumbuh rata-rata di atas 8-9%. Jadi, kalau industri mamin ini kita berikan upaya-upaya peningkatan yang lebih besar lagi melalui industri 4.0, tentu pertumbuhannya bisa double digit.

Bahkan, selama ini industri mamin berperan penting dalam peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri. Sektor ini memang punya nilai tambah paling tinggi, karena seluruh komponen bahan bakunya sebagian besar itu berasal dari dalam negeri. Apalagi, sektor ini didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM), sehingga bisa mewujudkan ekonomi yang inklusif.

Sementara itu, mengenai pengembangan di sektor industri kimia, pemerintah sedang gencar menarik investasi untuk memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri. Sebab, dari tahun 1998, belum ada investasi yang besar khususnya di industri petrokimia. Padahal, produksi dari sektor tersebut banyak dibutuhkan untuk memasok kebutuhan bagi sektor lainnya.

Untuk itu, dengan memprioritaskan pengembangan industri kimia, Kemenperin mendorong agar dapat menghasilkan produk substitusi impor. Sehingga bisa menekan defisit neraca perdagangan. Karenanya, investasi-investasi yang sedang diupayakan masuk, industrinya sudah mengaplikasikan teknologi industri 4.0. Yang tentunya bisa meningkatkan produktivitas secara efisien.

Restrukturisasi mesin tekstil

Terkait industri tekstil dan pakaian, Sigit mengemukakan, sektor ini merupakan yang tertua struktur manufakturnya di Indonesia. Sebab itu, diperlukan program restrukturisasi mesin produksi yang lebih modern, sehingga dapat memacu produktivitas dan daya saingnya.

“Potensi industri tesktil dan pakaian sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Kalau didorong dengan penerapan industri 4.0 kami optimistis bisa mengejar kapasitas produksi dari negara-negara kompetitor,” lanjutnya.

Di industri elektronika, Kemenperin juga sedang mendongkrak kinerjanya melalui peningkatan investasi. Indonesia masih memerlukan investasi yang cukup besar khususnya di sektor hulu, yang bisa menghasilkan berbagai komponen untuk memasok kebutuhan bagi sektor-sektor lainnya, seperti industri otomotif.

Sedangkan di industri otomotif, Sekjen Kemenperin menilai, kinerja sektor tersebut mulai bergerak naik signifikan dibanding 20 tahun lalu. Hal ini seiring terjadinya peningkatan investasi di dalam negeri. Di mana sejumlah produsen global menjadikan Indonesia sebagai basis produksinya untuk mengisi pasar ekspor.

Sigit menegaskan, pemerintah telah menyusun langkah strategis untuk menggenjot kinerja lima sektor tersebut, yang tertuang dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Peta jalan ini diyakini akan dapat mewujudkan visi Indonesia jadi negara 10 besar yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada 2030.

“Kami juga optimistis, implementasi industri 4.0 akan mengoptimalkan potensi-potensi lainnya, seperti penambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2%. Peningkatan kontribusi sektor terhadap PDB hingga 25% pada 2030, peningkatan net export hingga 10% serta mengisi kebutuhan tenaga kerja yang melek digital hingga 17 juta orang untuk mendorong peningkatan nilai tambah terhadap PDB nasional hingga US$150 miliar pada 2025,” urainya.

Progres Making Indonesia 4.0

Sigit mengatakan, pemerintah telah menjalankan langkah-langkah strategis untuk mendukung percepatan adopsi industri 4.0, antara lain meluncurkan Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) atau indikator penilaian tingkat kesiapan industri di Indonesia dalam menerapkan teknologi era industri 4.0.

Di samping itu, Kemenperin juga mendorong tumbuhnya bisnis rintisan melalui program Making Indonesia 4.0 Start-Up yang bertujuan menggali ide-ide inovasi dari perusahaan-perusahaan start-up berbasis teknologi, yang dapat mendukung pelaku IKM maupun menyuplai teknologi bagi para investor.

Bahkan, untuk memanfaatkan peluang bonus demografi di era industri 4.0, pemerintah komitmen menyiapkan SDM industri melalui beragam fasilitas. Seperti insentif pajak super deduction melalui PP No 45 tahun 2019, yang memberikan potongan pajak hingga 200% bagi investasi terkait pengembangan pendidikan vokasi dan 300% untuk RnD serta 60% untuk industri padat karya.

Ditambahkan, Indonesia menargetkan jadi manufacturing hub regional dan basis produksi bagi produsen global untuk kebutuhan domestik maupun pasar ekspor. Beberapa sektor industri yang telah memiliki kedalaman struktur mulai dari hulu hingga hilir, seperti industri otomotif, tekstil dan pakaian, mamin, logam dasar dan industri kimia. (Muhammad Raya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *