Perpanjangan Dermaga Lovina, Untuk Apa ?

Dermaga di kawasan wisata pantai Lovina

SINGARAJA BALI – MARITIM : Provinsi Bali yang saat ini telah memiliki dua pelabuhan umum (Benoa di Bali selatan dan Celukanbawang di Bali utara) serta dua pelabuhan penyeberangan (Gilimanuk di Bali barat dan Padangba di Bali timur), ternyata dinilai mash memerlukan tambahan pelabuhan dan dermaga baru guna memfasilitasi pertumbuhan kunjungan wisatawan. Untuk infrastruktur pelabuhan, di Kabupaten Karangasem telah dibangun Pelabuhan Tanahampo yang hingga saat ini mesih dalam penyelesaian, agar dapat dijadikan alternatif sandar kapal-kapal cruise yang akan kian crowded memenuhi Benoa. Juga tengah dibangun Pelabuhan Gunaksa di Kabupaten Klungkung,yang direncanakan akan jadi akses penghubung mobilitas penduduk serta kapal pariwisata yang akan menghubungkan daerah tujuan wisata Nusadua yang berlokasi di lepas pantai Klungkung, dengan induk kabupaten di daratan Bali.

Di Kabupaten Buleleng, selain sedang terjadi “demam” pembangunan bandar udara baru di Kubutambahan, juga terjadi wacana meningkatkan peran Dermaga Lovina yang berlokasi di kawasan wisata di Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng. Peningkatan dermaga tersebut,  direncanakan akan menjadi tempat sandar kapal yacht yang datang setiap tahun ke Bali utara, yang hingga kini masih menggantung. Sejauh ini dermaga tersebut hanya digunakan sebagai lokasi swafoto saja.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Bali, Nyoman Sutrisna menjelaskan kepada awak media termasuk maritim.com, dermaga Lovina sampai saat ini belum dapat digunakan sebagai tempat sandar yacht karena masih mengalami sejumlah kendala alam. Dinas Pariwisata Buleleng menyatakan, untuk merealisasikan rencana itu perlu kajian yang lebih mantap.

Menurutnya untuk memperpanjang dermaga yang sudah ada saat ini perlu kajian yang lebih mendalam, dari lintas instansi. Selain juga akan menelan biaya cukup besar. Bli Nyoman tak dapat memungkiri jika dermaga Pantai Lovina belum dapat dimanfaatkan maksimal. Kapal yacht yang datang ke Lovina rerata tak dapat sandar di dermaga karena di bawahnya laut cukup dangkal, hingga perlu penambahan beberapa meter lebih dalam.

Selain itu kondisi pasang-surut di pantai Lovina juga cukup menyulitkan. Ketika pasang, air laut dapat menutupi seluruh tangga di ujung dermaga. Sebaliknya pada saat surut dapat memperlihatkan seluruh tangga, hingga jalan naik ke dermaga terlihat menggantung.

Terkait penyandaran yacht yang datang tiap tahun ke Buleleng pernah direncanakan untuk dialihkan ke Pelabuhan (lama) Buleleng pada 2018. Namun rencana itu juga gagal, karena kondisi di ex Pelabuhan Buleleng tak memungkinkan untuk penyandaran kapal jenis yacht.

Berbanding terbalik dengan kondisi perairan Lovina, perairan di Pelabuhan Buleleng justru memiliki kedalaman curam, yang pada jarak 103 meter dari batas perairan pantai Pelabuhan Buleleng diperkirakan terdapat palung laut yang cukup dalam, terbentang dari barat hingga timur di depan Pura Segara Buleleng, wilayah eks Pelabuhan Buleleng hingga di depan Pura Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru.

“Kemarin pengembangan pembangunan dermaga cruise di Bueleng memang sempat akan dialihkan ke Pelabuhan Buleleng, tetapi setelah kami bersama pusat lakukan pengecekan, ternyata ada palung laut dengan jarak hanya 103 meter dari bibir pantai. Kondisi ini tidak memungkinkan bagi kapal yacht untuk melego jangkarnya” jelas Kadispar Nyoman Sutrisna. Kondisi tersebut mengharuskan Buleleng untuk sementara membiarkan kapal yacht yang datang sandar di tengah laut Lovina.    (Adit/Dps/Maritim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *