RSUD Dr. Soetomo : Tingginya Angka Kematian Covid-19 Karena Kemiskinan Dan Edukasi

  • Whatsapp

SURABAYA, MARITIM –Tak dapat disaahkan, kalua beberapa hari lalu Walikota Surabaya Tri Rismaharini sempat sewot, ketika dituduh oleh dr. Aditya dari RS Royal, sebagai tak mampu menegah merebaknya wabah Corona di kota yang dipimpinnya. Beberapa kalangan yang dihubungi maritim.com, umumnya menyebut bahwa maraknya sebaran Covid-19 di Kota Buaya, bukan disebabkan oleh satu atau dua hal. Tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor.

Salah seorang pakar yang cukup kompeten mengeluarkan pendapat, adakah dr. Tutik Kusmiati, Staf Medis Ilmu Penyakit Paru Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo, Surabaya. Terkait dengan wabah yang menerpa kawasan gobal itu,  dr Tutik menyebut ada keterkaitan antara faktor kemiskinan dengan minimnya pengetahuan terkait Covid-19 yang menyebabkan tingginya kematian di Jawa Timur,  menurutnya, Selasa lalu: “

Read More

Tutik di Surabaya, mengatakan : “Minimnya pengetahuan menyebabkan pasien Covid-19 datang ke rumah sakit saat mengalami sesak napas sehingga penanganan dan pengobatan menjadi lebih sulit. Rata-rata pasien datang dalam kondisi stadium lanjut ditambah adanya penyakit komorbit membuat angka kematian menjadi lebih tinggi”.

Berbeda dengan pasien yang berpendidikan yang mengalami batuk, demam hanya satu sampai dua hari langsung datang ke rumah sakit. Hal ini membuat penanganan pasien lebih cepat dan tidak membutuhkan ventilator.

Sementara itu, Satgas Covid-19 RSUD Dr Soetomo, dr Arief Bakhtiar ungkapkan kebanyakan pasien dibawa ke rumah sakit memang dalam kondisi yang telah cuup berat. Menurutnya,  setidaknya sudah ada 17 pasien meninggal dunia akibat COVID-19 di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut per 5 Mei 2020.

Jumlah ini hanya 18% dari pasien terkonfirmasi Covid-19 atau PDP yang ada di RSUD dr Soetomo. Sisanya masih dilakukan perawatan ataupun sudah sembuh. Imbuhnya : “Yang meninggal dengan usia diatas 40 tahun sebanyak 88%, sisanya pasien di bawah 40 tahun dengan penyakit bawaan”.

Arief memaparkan 50% pasien meninggal dalam kondisi memakai ventilator, sedangkan sisanya tidak memakai ventilator atau memang sedang mengantri ventilator. Yang tak pakai ventilator meninggal gagal napas, hanya dua orang yang meninggal tanpa gagal nafas. Menurutnya ada sejumlah penyakit yang biasanya memperburuk kondisi pasien Covid-19 yaitu diabetes, penyakit paru, hipertensi dan obesitas.  (Erick Arhadita)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *