Aksi Damai FPPI Kembali Kritisi Kehadiran Asing Dan Tolak Outsourcing

Maritim, Jakarta : Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI)  hari ini, (8/11) kembali menggelar aksi damai di depan Pos 9 Pelabuhan Tanjung Priok.  Ratusan  massa anggota  FPPI  memenuhi  arena aksi  guna  mendeklarasikan sejumlah  pernyataan terkait pengelolaan kepelabuhaan di ndonesia, khususnya Tanjung Priok. Ini adalah aksi dan pernyataan sikap yang ke sekian kalinya dilaklukan.

Dalam salah satu sikapnya, Ketua FPPI Nova  Sofyan Hakim  mengatakan aksi  tersebut  pihaknya menyatakan sikap  bahwa  Pengelolaan Pelabuhan Nasional yang menyangkut hajat hidup rakyat Indonesia, harus dilakukan dengan berlandaskan semangat konstitusi bukannya liberalisasi asing yang membahayakan kedaulatan dan hilangnya potensi ekonomi nasional.

“Pengelolaan Pelabuhan secara konstitusional adalah semangat nasionalisme yang murni. Pelabuhan gerbang ekonomi yang tata kelolanya berdampak langsung kepada rakyat dan pekerja pelabuhan itu sendiri. Negara wajib hadir tanpa kompromi,” katanya dalam keterangan pers.

Nova mempertanyakan penjualan saham  Pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia  yakni JICT dan Koja ke asing untuk 20 tahun ke depan tanpa ada urgensi. Dinilianya, dengan  aksi penjualan tersebut potensi ekonomi nasional yang besar dan kedaulatan atas aset strategis bangsa hilang.

Selanjutnya, soal Pembangunan pelabuhan baru NPCT-1 di ibu kota negara  juga  dikritisi sebagai langkah buru-buru tanpa memikirkan keberlangsungan teknis pembangunan sehingga konstruksinya dinyatakan tidak aman.  Ditambah asing bisa kontrol 100% atas pengelolaannya.

Soal pinjaman asing Rp 20,8 trilyun untuk pembangunan pelabuhan juag disorot.  Sebab, pinjaman dilakukan tanpa kajian kelayakan sehingga dananya menganggur 3 tahun dan negara harus membayar bunga hutang yang tidak produktif tersebut.

“Ini dampak kerugian ekonomi yang terang benderang terjadi saat ini. Tentu secara dalam jangka panjang akan semakin buruk,” ujar Nova..

Dampak sosial atas liberalisasi asing di Pelabuhan tidak kalah terpuruk. Pekerja yang membangun produktivitas sehingga menjadikan pelabuhan petikemas Indonesia salah satu terbaik di Asia, malah di-PHK massal dan pola outsourcing yang melanggar aturan malah dipelihara. Asing leluasa melakukan pemberangusan “halus” (adu domba) dan kasar kepada pekerja yang mengkritik buruknya pengelolaan pelabuhan serta pemenuhan asas keadilan terhadap para pekerja.

Dengan substansi pengelolaan pelabuhan nasional secara konstitusi, kedaulatan dan potensi ekonomi nasional akan lebih baik di masa datang. Jangan sampai buruknya tata kelola pelabuhan dan perlakuan terhadap pekerja yang tidak berkeadilan diduplikasi ke dalam pengelolaan pelabuhan di Indonesia.

Secara proporsional, pekerja pelabuhan nasional adalah garda terdepan penjaga kedaulatan negara dan amanat konstitusi serta aturan.

“Kami ingin pemenuhan hak pekerja pelabuhan yang berkeadilan dan sesuai aturan Undang-Undang. Pelabuhan dilarang memelihara outsourcing yang melanggar aturan,. Kami ingin Pemerintah melakukan reformasi total agar negara hadir penuh dalam pengelolaan pelabuhan nasional.Kami mengajak seluruh komponen bangsa, mari bersama selamatkan pelabuhan nasional. Untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. “ tandas Nova Hakim

*Hbb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *