Ekspor Kerajinan Anyaman Tujuan AS Anjlok, PT MAS Minta Pemerintah Optimalkan Belanja Produk Dalam Negeri

  • Whatsapp
Dirut PT MAS Hendro Suseno

SUKOHARJO-MARITIM : Kementerian Perindustrian (Kemenperin) beberapa waktu lalu memberikan Penghargaan Upakarti tahun 2022 kepada penerima 6 Kategori Jasa Pengabdian dan 4 Kategori Jasa Kepeloporan. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mewakili Presiden Jokowi, di Jakarta, Senin (19/12).

Penghargaan Upakarti, merupakan penghargaan tertinggi di bidang perindustrian, yang diberikan pemerintah pada pihak-pihak yang berprestasi dan berjasa melakukan pengembangan dan pembinaan IKM. Sehingga dapat memperluas kesempatan berusaha dan kesempatan bekerja di seluruh Indonesia.

Salah satu penerima Penghargaan Upakarti tahun 2022 Kategori Jasa Kepeloporan, adalah PT Multiyasa Abadi Sentosa (MAS), yang terpilih di nomor 1. Perusahaan yang bermarkas di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, itu bergerak di bidang kerajinan anyaman. Aksesoris, tas jinjing, dekorasi rumah dari bahan baku 100% lokal seperti mending, raffia, vetterban, pelepah pohon pisang, rotan, sumbu kompor, serat alam dan recycle limbah serta lain sebagainya.

Saat ini, perusahaan kerap menyuplai produknya untuk hotel, department store, gerai ritel dan menjadi mitra terpercaya beberapa merek internasional, seperti Zara Home, Marks & Spencer, TJ Maxx dan Gudang Tembikar.

Negara tujuan ekspor terbesarnya, adalah Amerika Serikat (AS) sekitar 70%, sisanya dikirim ke berbagai negara Eropa dan Australia 4%. Umumnya, anyaman dari perajin mitra binaan PT MAS dapat dijumpai pada jaringan toko perabotan rumah tangga dan perusahaan e-commerce papan atas di AS bernama Pottery Bam dan toko ritel di Inggris, Kanada, Spanyol, Perancis, Meksiko dan Australia.

Di AS, misalnya, perusahaan e-commerce kelas atasnya Pottery Bam, West Elm, Crate & Barrel, TJX, Palecek, Cost Plus dan AT Home. Sementara di Inggris ada The White Company, Perancis (LaRedoute dan AMPM), Spanyol (Cidon) dan Australia (Trade Secret). Produk yang dijual telah memiliki brand “Made in Indonesia” dan diberangkatkan melalui Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah.

Sejauh ini, PT MAS telah bekerjasama dengan 92 suplier IKM lokal dan industri rumah tangga dari 22 kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY dan Jawa Timur. Sekitar 3.000 perajin anyaman di beberapa kota telah dilatih oleh PT MAS, termasuk juga memberikan bantuan peralatan dan bibit tanaman mending pada penyuplai atau IKM serta perajin mitra binaan, untuk memudahkan pengerjaan pesanan dari perusahaan luar negeri. Khusus untuk di Kabupaten Sukoharjo ada sekitar 500 pelaku IKM yang dilibatkan dalam produksi handicraft.

Resesi global

Namun, resesi global yang terjadi di AS dan berbagai negara di Eropa, membuat angka penjualan ekspor home decor PT MAS terkoreksi cukup dalam. Bahkan penurunan penjualan mencapai 50-60% sejak Agustus 2022 — walaupun saat pandemi Covid-19 lalu penjualan naik cukup signifikan 2 kali lipat dari target.

Direktur Utama PT MAS, Hendro Suseno, mengatakan 95% kerajinan tangan yang dikerjakan oleh 3.000 perajin IKM mitra binaannya dikirim ke AS, Eropa dan Australia. Di mana umumnya produk-produk yang dihasilkan merupakan permintaan buyer atau dikerjakan oleh mitra binaan.

“Dampak resesi di AS dan Eropa membuat penjualan ekspor kami turun hingga 50-60% pada 2022. Padahal, ketika pandemi Covid-19 lalu, penjualan naik 2 kali lipat dari target. Sedangkan pada 2021 penjualan mencapai US$77,73 miliar dibanding tahun 2020 sekitar US$39,40 miliar,” ujar Hendro, pada wartawan di kantornya di bilangan Banaran, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, pekan lalu.

Hadir pada pertemuan tersebut Direktur Umum PT Dan Liris, Harrison Silaen, Direktur Operasional PT MAS, Kusmiyati, Marketing PT MAS, Yulia Laksmindrawati dan beberapa staf lainnya.

Terkait turunnya nilai penjualan, lanjutnya, pihaknya akan mengoptimalkan penetrasi pasar ke emerging market. Kemudian mendorong pemerintah agar menggalakkan lagi belanja produk dalam negeri untuk memperkuat ekonomi rakyat.

Untuk pasar ekspor tujuan AS, menurutnya, nilai penjualan perusahaan turun mencapai US$50 miliar. Sedangkan untuk pasar Eropa turun sekitar US$28 miliar.

“Strategi kami selanjutnya, untuk mengatasi penurunan penjualan, adalah menekan harga jual produk. Sehingga lebih murah dan terjangkau serta mencari pasar baru yang tidak terlalu kuat terkena dampak resesi global. Kemudian pemerintah dapat memfasilitasi kegiatan pameran di luar negeri atau di dalam negeri,” ungkap Hendro, yang juga Direktur Keuangan dan Akunting PT Dan Liris.

Fungsi sosial

Hendro menambahkan, pihaknya sebagai perusahaan tidak hanya berorientasi komersial saja, tapi juga menjalankan fungsi sosial membantu masyarakat. Keterlibatan pelaku IKM di sini tak lain agar mereka bisa mandiri dalam mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan ekonomi keluarga.

Selain menggandeng pelaku IKM untuk membuat produk handicraft, perusahaan juga menggandeng pelaku IKM untuk bidang lainnya, seperti administrasi, perpajakan, akses perbankan dan lain sebagainya. Bahkan, 3.000 pelaku IKM yang kini jadi mitra binaan PT MAS masing-masing telah mengantongi rekening bank.

“Keterlibatan pelaku IKM akan terus kami lakukan ke depannya. Karena dalam perkembangannya menunjukkan hasil positif. Mungkin akan lebih ada inovasi lagi untuk beberapa pelaku IKM. Semakin banyak IKM maka semakin cepat meningkat ekonomi masyarakat,” urai Hendro.

Disampaikan, pihaknya akan melakukan diversifikasi usaha kayu dan rotan ke depannya. Saat ini, ada sekitar 15 pelaku IKM difabel dan tunarungu sebagai mitra binaan PT MAS. Termasuk memberikan pelatihan di Bapas Surakarta. (Muhammad Raya)

Related posts