Tumang Mendunia, Kini Butuh Perlindungan

  • Whatsapp
Pemilik UD Inter Media Logam Sriyanto

BOYOLALI-MARITIM : Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Adalah sentra industri kerajinan tembaga dan kuningan yang terkenal di Indonesia. Bahkan sudah mendunia.

Kita dapat menemukan di tempat ini berbagai macam kerajinan dari tembaga dan kuningan, seperti kubah masjid, vas bunga, wastafel, bathtub, lampu dinding, lampu gantung, lampu robyong, lampu sangkar, lampu masjid, relief, kaligrafi, replika pintu Nabawi, lonceng, patung, dan aneka kerajinan tembaga dan kuningan lainnya.

Read More

Berbagai macam produk yang sudah mendunia tersebut, umumnya dikerjakan oleh tangan-tangan trampil para perajin yang sudah berpengalaman puluhan tahun, sehingga memiliki nilai seni ukir yang tinggi dan unggul. Oleh karena itu pula buyer dari mancanegara kerap menyukai lalu membelinya.

Di samping itu — tentunya ini jangan sampai dilupakan — Boyolali terkenal juga sebagai kota penghasil susu ternama. Sampai mendapat julukan New Zealand Van Java. Desa ini menjadi surga kerajinan logam karena hampir setiap rumah di kawasan yang berlokasi di lereng Gunung Merapi-Merbabu tersebut punya galeri kerajinan tembaga dan kuningan.

Produk kerajinan tembaga dan kuningan Inter Media Logam, yang digawangi oleh Sriyanto, misalnya. Mendarat di tanah Amerika Serikat (AS) melalui jasa e-commerce Etsy. Suatu perusahaan e-niaga Amerika yang fokus pada penjualan barang-barang buatan tangan atau barang antik dan perlengkapan kerajinan. Barang-barang ini termasuk dalam berbagai kategori, termasuk perhiasan, tas, pakaian, dekorasi rumah dan furnitur, mainan, seni, serta perlengkapan dan peralatan kerajinan.

“Dalam 3 bulan kami dapat 30-40 order. Tapi nasib perajin logam di Tumang sedang menghadapi kesulitan bahan baku logam saat ini. Karena hampir sebagian besar bahan bakunya diperoleh melalui impor,” kata Pemilik UD Inter Media Logam, Sriyanto, membuka pembicaraan saat menerima wartawan di kediamannya, Desa Tumang, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, pekan lalu.

Menurutnya, bahan tambang tembaga banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, yang tersebar dari Pulau Jawa hingga Pulau Papua. Tembaga memiliki berbagai manfaat, sebagai bahan baku kabel listrik hingga membuat kerajinan logam.

“Namun sayang, 100% bahan baku tembaga, kuningan dan aluminium, yang menjadi bahan utama perajin logam di Tumang, diimpor dari Bulgaria, China, Italia dan Korea. Padahal, Indonesia memiliki sumber bahan baku yang cukup melimpah,” ungkapnya.

Lebih jauh, Sriyanto mengutarakan, perajin logam tembaga dan kuningan di Tumang membutuhkan perbaikan regulasi dan fasilitas untuk dapat menjalankan hukum bisnis usahanya sesuai aturan. Bahkan, pemberian fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang diberikan oleh pemerintah untuk perajin di desa ini tidak dapat dimaksimalkan pemanfaatannya.

Untuk urusan impor bahan baku, diceritakan, harganya lebih mahal kalau memesan langsung ketimbang membeli dari importir asal Surabaya. Padahal, seharusnya impor langsung harga lebih murah daripada membeli dari importir.

“Ini suatu kejanggalan. Padahal, dalam sebulan kami butuh sebanyak 10 ton bahan baku, dengan harga Rp225.000/kg atau totalnya mencapai Rp2,25 miliar,” hitungnya.

Dia juga mengusulkan agar kebijakan fasilitas KITE di tempatnya dapat direvisi, karena dalam prakteknya pihak Ditjen Bea dan Cukai selalu menanyakan soal nomor HS dari tembaga ini.

“Saya sering ditolak oleh Bea dan Cukai saat mengurus dokumen KITE. Karena itu, kami meminta regulasi seperti ini segera diperbaiki, agar perajin tembaga dan kuningan di Cepogo dapat menikmati fasilitas tersebut,” pintanya.

Terkait hukum bisnis berusaha, Sriyanto mengusulkan, agar produk-produk perajin asal Desa Tumang dapat melakukan ekspor secara langsung (direct call). Tidak lagi melalui perantara atau agen.

“Sebab dengan direct call dapat memacu ekspor dan menghilangkan berbagai macam hambatan yang ada saat ini di lapangan,” tekan Sriyanto.

Saat ini, negara pesaing produk ekspor produk handicraft tembaga dan kuningan asal Tumang, adalah Maroko dan India. Per akhir 2021, Desa Cepogo memiliki sekitar 3.000 kepala keluarga, di mana 2.000 penduduknya berkecimpung dalam dunia kerajinan logam. (Muhammad Raya)

Related posts