SRAGEN-MARITIM : Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sentra Industri Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Sragen, Jawa Tengah (Jateng), hadir sebagai program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi dan kualitas produk IKM di Bumi Sukowati.
UPTD Sentra Industri Sragen, yang berada dalam wilayah kerja Diskumindag ini, mengelola tiga sentra sekaligus, yaitu Sentra Industri Mebel Furnitur di kawasan Kelurahan Kragilan, Kecamatan Gemolong, Sragen. Sedangkan dua sentra lainnya, yakni Pusat Batik Sukowati dan Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK), berada di satu kompleks di bilangan Kota Sragen, Jateng.
Dapat disampaikan bahwa Kabupaten Sragen menjadi salah satu kabupaten di Jateng, yang menjadi pusat industri mebel furnitur dengan jumlah industri kecil menengah (IKM) mencapai 1.155 IKM.
Untuk menciptakan standardisasi produk mebel furnitur berskala global, Pemkab Sragen telah membentuk UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen. Sentra Industri Mebel Furnitur yang menjadi bagian pengelolaan oleh UPTD Diskumindag – bersama dua sentra lainnya yang berlokasi di jantung Kota Sragen.
Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen terdiri dua bangunan utama, yaitu kantor layanan dan gedung produksi yang dilengkapi berbagai fasilitas mesin dan peralatan untuk mendukung produktivitas IKM.
Pembentukan UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur ini merupakan upaya untuk membangun sektor industri mebel furnitur dengan skala ekspor. Di mana pada tahun 2022, pemerintah pusat melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengucurkan anggaran yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan pagu mencapai Rp30,6 miliar.
Dana tersebut dipergunakan untuk pembangunan fisik dan sarana produksi, sarana pembinaan dan sarana penunjang lainnya yang diperlukan pada sentra industri mebel furnitur dan penyediaan mesin atau peralatan untuk melengkapi sarana produksi dan juga sarana pembinaan IKM di UPTD Sragen.

Semua mesin teknologi yang digunakan merupakan level pabrikasi sehingga dapat menghasilkan produk yang konsisten dengan standar ekspor. Dengan pengembangan kreatifitas diharapkan bisa meningkatkan produktivitas yang mampu menambah nilai tambah bagi IKM. Hal ini menjadikan produk andalan sebagai representasi Kabupaten Sragen di samping mengakomodir peran pelaku usaha.
Muhammad Aprianto, yang akrab di sapa Rian, mengatakan banyak sekali permintaan dari buyer itu yang harus menggunakan salah satu mesin yang diinginkan. Tapi karena terkendala dengan biaya dan anggaran jadi pihaknya belum bisa memenuhi permintaan buyer tersebut.
“Dengan adanya UPTD ini hasilnya menjadi lain dan berbeda. Keberadaan UPTD tersebut kini lebih banyak membantu IKM mebel furnitur dalam pembuatan produk-produk yang menunjang ekspor. Sehingga IKM yang berada di Kragilan yang bisanya memasarkan produk-produk yang tadinya dijual untuk konsumsi lokal, kini bisa ikut dipasarkan ke internasional,” ungkap Kepala Produksi UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen, Rian, saat ditanya wartawan di kantornya, di bilangan Kragilan, belum lama ini.
Menurutnya, selama ini IKM mebel furnitur yang berada di Gemolong dan Kali Jambe sebagian besar belum memiliki mesin atau alat yang cukup memadai seperti yang diharapkan oleh para buyer. Sehingga mereka kebanyakan kesulitan untuk memproduksi barang dan produk yang sesuai dengan standar ekspor. Artinya, belum bisa memproduksi barang atau produk secara konsisten, yakni presisi dan berkualitas tinggi. Terlebih lagi jika melihat potensi dan hasil akhir dari produk jadi dari para pelaku IKM mebel furnitur yang sebenarnya mereka mampu bersaing di pasar ekspor. Namun karena terkendala dengan biaya pengadaan mesin yang mahal, produksi yang tidak konsisten serta masalah-masalah teknis lainnya, maka upaya dari pelaku IKM mebel furnitur di Sragen belum bisa dilakukan secara optim.al.
“Tapi kini dengan telah adanya pembangunan UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen ini, kendala tersebut sudah teratasi, sehingga dapat memudahkan pelaku IKM untuk mengakses mesin dan alat yang tidak terjangkau sebelumnya serta terciptanya kolaborasi antar IKM serta dapat meningkatkan produk IKM yang siap untuk ekspor,” ujar Rian.
Dengan keberadaan UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen ini dapat mendorong industri kreatif di wilayah ini tumbuh dan berkembang lagi. Karena UPTD memiliki peran dan fungsi yang cukup strategis dalam memberikan efek positif bagi pemulihan ekonomi ke depan. Sebab semakin banyak industri kreatif berbasis IKM di Kabupaten Sragen hidup dan bergerak, maka akan berimplikasi pada lapangan pekerjaan yang semakin luas. Sehingga mampu memberikan sumbangsih nyata terhadap upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan di bumi Sukowati.
Beberapa waktu lalu Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Reni Yanita, telah menunjukkan dukungannya terhadap Sentra Industri Mebel Furnitur di Sragen ini, termasuk inisiatif yang berkaitan dengan penerapan industri 4.0 di lingkungan kerja UPTD. Bahkan terkait hal itu, Kemenperin juga telah mengucurkan DAK fisik dengan pagu Rp30,6 miliar pada tahun 2022. Sedangkan pada tahun 2023 DAK yang dikucurkan dari Kemenperin sebesar Rp16 miliar untuk pembangunan Pusat Batik Sukowati. Sementara untuk Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan, Kemenperin mengucurkan DAK sebesar Rp12 miliar.
Kepala UPTD Sentra Industri Sragen, Ilham Setiawan, mengatakan di UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen terdapat 20 mesin, namun dari jumlah mesin tersebut hanya empat mesin yang baru terpasang dengan industri 4.0.
Kedua puluh mesin tersebut jenisnya mesin gergaji belah kayu bandsaw 42, mesin gergaji belah kayu bandsaw 36, single rip saw, straight line rip saw machine dan radial arms saw. Berikutnya mesin double surface planner, 4 side moulder 6 spindle, mesin mortis/tongue and groove mechine, double turning tools wood lathe 4 axis mechine dan double spindle moulders.
Sisanya, mesin single planner P-20, jointer 12”, CNC tenon mechine, CNC 2 head carving mechine router, bandsaw sharpener, semi automatic bandsaw blade butt welding mechine, mesin giwar tools swaging, mesin universal tools grinder, mesin straight knives grinder dan mesin kompresor screw 40 HP berikut pressure tank 2.000 L.
“Tapi dari 20 jenis mesin yang terdapat di UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen, hanya empat yang baru bisa melayani dengan industri 4.0. Mesin tersebut terdiri dari mesin oven, double surface planner, CNC tenon mechine dan single rip saw. Kenapa mesin yang lain belum terintegrasi dengan industri 4.0, karena mesin-mesin tersebut belum banyak dipakai oleh pelaku IKM mebel furnitur. Pelaku IKM mebel dan furnitur lebih banyak memakai keempat mesin yang ada karena cukup diminati produk akhirnya oleh buyer,” ungkap Ilham.
Awal mula Kemenperin terjun membantu UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur karena sebelumnya UPTD itu sudah jalan lalu dilakukanlah pendekatan untuk mengintegrasikan teknologi digital cerdas ke dalam proses manufaktur dan industri. Sehingga terciptalah “pabrik pintar” (smart factory) melalui otomatisasi tingkat tinggi dan menggunakan data real time melalui internet of thing (IOT).
Ilham menjelaskan, selama ini UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen, banyak dipakai jasanya mesinnya oleh pelaku IKM yang skala ekspor, seperti PT Wisanka, yang mengirim hasil produksinya ke Eropa dan Asia, berupa kursi, meja dan lain sebagainya.
Ilham menyampaikan bahwa sebenarnya PT Wisanka ini memiliki mesin oven sendiri, tapi hasil akhirnya kurang maksimal, sehingga dipakailah mesin yang ada di UPTD. Karena mesin oven UPTD punya tingkat kekeringan kayu yang cukup tinggi.
“Demikian pula dengan PT Ribka Furniture, punya mesin oven juga, tapi kapasitas produksinya masih kurang. Sehingga mereka datang ke kami. Termasuk juga UD Muncul Jati, UD Ronggo Jati, CV Casaqeela dan perusahaan lainnya,” urainya.
Menurut Ilham, sejauh ini UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen, lebih banyak dimanfaatkan oleh para pelaku IKM yang memproduksi berbagai jenis mebel dan furnitur yang skala ekspor. Sementara bagi pelaku IKM kecil jarang memanfaatkan karena mereka lebih banyak memasarkan produknya untuk lokal. Sedangkan IKM skala ekspor harus presisi karena sesuai permintaan buyer.
“Jika ditanya soal jasanya, UPTD kami lebih murah dibandingkan dengan milik swasta. Harga kami Rp120 ribu per kunik kayu. Sementara di swasta bisa mencapai Rp200 ribu per kubik ditambah bonus ada ongkos kirim,” papar Ilham.
Sampai saat ini UPTD Sentra Industri Mebel Furnitur Sragen telah dimanfaatkan oleh 18 IKM ekspor dan lokal dari sebelumnya 12 IKM pada tahun 2023 dan naik jadi 13 IKM pada tahun 2024. Sebanyak 18 IKM tersebut, sepuluh berorientasi ekspor dan sisanya untuk pasar dalam negeri.
Adapun nama IKM tersebut, PT Wisanka, UD Muncul Jati, Ribka Furniture, UD Ronggo Jati, PT Pantas Daya Furnika, PT Mardi Group, PT Realwood, Rafa Art & Furniture. Kemudian PT Margi Jati Makmur, CV Kapus Inti Sarana, UD Maju Jaya, PT Randam Jati dan UD Bleduk Barokah.
Jumlah tenaga kerja termasuk IKM ada 26 orang, omset mencapai Rp200 juta, nilai produksi Rp3,5 miliar, kebutuhan bahan baku rata-rata 240 m3 dan kapasitas produksi per tahun mencapai 5.400 pcs.
Saat ini jumlah IKM di sentra ada 16 IKM, omset Rp4,2 miliar lebih, kebutuhan bahan baku 445 m3, jumlah karyawan 50 orang, nilai produksi sentra Rp4 miliar lebih dan kapasitas produksi 5.400 pcs. (Muhammad Raya)





