JAKARTA-MARITIM : Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan optimismenya bahwa pada tahun 2026 ini pertumbuhan industri pengolahan non migas (IPNM) atau industri manufaktur tetap menjadi penarik utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, karena berbagai produk yang dihasilkan oleh industri manufaktur nasional sebagian besar terserap oleh pasar domestik yang mencapai 78,39%. Sementara sisanya sekitar 21,61% dikirim ke luar negeri.
“Saya optimistis bahwa pertumbuhan industri pengolahan non migas pada tahun 2026 atau industri manufaktur tetap menjadi penarik utama pertumbuhan ekonomi nasional. Karena sebanyak 78,39% produk yang dihasilkan oleh industri manufaktur terserap oleh pasar dalam negeri. Sisanya sekitar 21,61% diekspor,” kata Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita, pada jumpa pers akhir tahun Capaian Kinerja Industri 2025 dan Outlook Industri 2026, di Jakarta, Rabu (31/12).
Sedangkan pada kesempatan sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Sekjen Kemenperin), Eko SA Cahyanto, menyampaikan Kondisi Sektor Industri Pasca Bencana Alam di Pulau Sumatera. Kemudian Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, mengutarakan Outlook Industri 2026, namun sebelumnya Eselon I Kemenperin juga menyampaikan kinerja masing-masing subsektornya.
Menurut Menperin, industri manufaktur Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan dengan negara-negara lain yang oleh beberapa pengamat dikategorikan sebagai kekuatan besar global dengan argumen dan bersandar hanya pada kekuatan ekspornya saja.
“Output industri manufaktur Indonesia akan terus meningkat mengingat kinerja industri nasional sepanjang tahun 2025 cukup menggembirakan. Apalagi, pada kinerja pertumbuhan industri pengolahan non migas (IPNM) triwulan 1-III tahun 2025 mencapai 5,17% atau lebih tinggi dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,01%, Purchasing Manufaktur Indonesia (PMI) pada November 2025 berada di poin 53,3 dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember 2025 juga ekspansif di angka 51,90,” ungkap Agus.
Di sisi lain, Menperin menjelaskan, dengan pertumbuhan IPNM yang mencapai 5,17% dapat mendorong meningkatnya pertumbuhan di sejumlah subsektor, misalnya Industri Agro (IA) pada triwulan 1-III/2025 tumbuh sebesar 4,83% dengan kontribusi sebesar 8,97% terhadap PDB nasional dan menyerap tenaga kerja sebanyak 10 juta orang.
Subsektor Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) triwulan 1-III/2025 tumbuh 5,32%, dengan kontribusi 3,88% terhadap PDB nasional dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 7,10 juta orang. Subsektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik (ILMATE) pada triwulan 1-III/2025 tumbuh 5,53%, dengan kontribusi sebesar 4,30% dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2,03 juta orang. Subsektor Industri Aneka pada triwulan 1-III/2025 tumbuh 9,55%, dengan kontribusi sebesar 0,12% terhadap PDB nasional dan menyerap tenaga kerja sebanyak 932.697 orang.
IPNM 2026 Targetkan 5,51%
Sementara Wamenperin, Faisol Riza, menyebutkan sasaran pembangunan industri 2026 ditetapkan untuk pertumbuhan IPNM tahun 2026 ditargetkan sebesar 5,51%, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 18,56%.
“Pemerintah juga telah menetapkan arah pembangunan industri 2026 dengan orientasi pada penguatan struktur ekonomi, peningkatan daya saing dan keberlanjutan pembangunan, seperti yang sudah disusun pada Rancangan Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2026,” ujarnya.
Ditambahkan, dari Rencana Strategis Kemenperin 2025-2029, untuk kontribusi ekspor produk IPNM terhadap total ekspor ditargetkan mencapai 74,85%. Ini menunjukkan bahwa peran industri masih menjadi sebagai penghela utama pergerakan ekonomi nasional.
Selanjutnya disampaikan juga bahwa sektor IPNM diproyeksikan menyerap sebanyak 14,68% tenaga kerja, dengan produktivitas mencapai Rp126,20 juta per orang per tahun. Untuk meraih capaian tersebut maka direncanakan nilai investasi sektor IPNM pada 2026 sebesar Rp852,90 triliun.
Terkait dengan pemerataan pembangunan, pemerintah menargetkan kontribusi nilai tambah IPNM di luar Pulau Jawa sebesar 33,25%, untuk memperkuat struktur industri yang lebih inklusif dan berimbang di antarwilayah.
Hal lainnya juga Kemenperin menargetkan pada tahun 2026 ini – terutama dalam keberlanjutan pembangunan – sektor industri berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 6,79 juta ton CO2 ekuivalen pada titik-titik industri prioritas.
Faisol menguraikan, proyeksi pertumbuhan subsektor pada 2026, untuk industri logam dasar mengantongi kontribusi yang tertinggi dibandingkan subsektor lainnya, yakni mencapai 14%, disusul industri pengolahan lainnya dan jasa reparasi sebesar 6,45%, industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 6,26%, industri makanan dan minuman sebesar 6,06% dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 5,19%.
Sementara untuk kontribusi IPNM terhadap PDB, jawara teratasi masih di pegang oleh industri makanan dan minuman sebesar 7,64%, disusul industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 1,95%, industri barang dari logam, komputer, barang elektronik sebesar 1,73%, industri alat angkut sebesar 1,41% dan industri logam dasar sebesar 1,30%.
“Adanya kombinasi antara industri berkontribusi besar dengan industri yang memiliki pertumbuhan tinggi, itu menunjukkan bahwa struktur industri nasional semakin seimbang dan berdaya saing,” hitung Faisol.
Lebih lanjut Faisol menguraikan, proyeksi kinerja industri nasional pada 2026, adalah untuk subsektor Industri Agro (IA) pertumbuhan sebesar 5,23% dan berkontribusi sebesar 9,60% terhadap PDB nasional serta menyerap sebanyak 10,98 juta orang. Nilai investasi subsektor IA diproyeksikan mencapai Rp251,6 triliun, dengan nilai ekspor sebesar US$68,62 miliar dan rata-rata utilisasi mencapai 74,62%.
Proyeksi kinerja subsektor Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) untuk pertumbuhan sebesar 4,77%, dengan kontribusi sebesar 4,10% terhadap PDB nasional dan penyerapan terhadap tenaga kerja sebanyak 7,39 juta orang. Selanjutnya, nilai investasinya diproyeksikan sebesar Rp198,0 triliun, dengan nilai ekspor sebesar US$58,17 miliar dan rata-rata utilisasi sebesar 70,33%.
Proyeksi kinerja subsektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik (ILMATE) untuk pertumbuhan sebesar 6,62% sekaligus diperkirakan menjadi motor utama penggerak pertumbuhan industri, dengan kontribusi sebesar 4,75% terhadap PDB dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,20 juta orang. Nilai investasi diproyeksikan sebesar Rp396,3 triliun, dengan nilai ekspor US$99,58 miliar dan rata-rata utilisasi sebesar 75,77%.
Proyeksi kinerja subsektor Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA), untuk pertumbuhan sebesar 4,88% dan berperan penting untuk pemerataan ekonomi daerah, dengan kontribusi sebesar 0,10% terhadap PDB dan menyerap sebanyak 1,03 juta tenaga kerja. Nilai investasinya diproyeksikan sebesar Rp6,9 triliun, dengan nilai ekspor sebesar US$9,63 miliar dan rata-rata utilisasi sebesar 73,26%.
“Seluruh sasaran dan proyeksi industri 2026 ini telah diselaraskan dengan 8 Agenda Prioritas APBN 2026 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, yang di dalamnya termasuk penguatan ketahanan pangan dan energi, pembangunan generasi unggul melalui MBG, kesehatan, penguatan ekonomi rakyat, pertahanan semesta dan percepatan investasi serta perdagangan global,” ujar Faisol.
Faisol juga menegaskan soal tantangan dan peluang sektor industri nasional ke depan, seperti jaminan bahan baku/bahan penolong, rendahnya produktivitas dan kompetensi SDM industri dan keterbatasan lahan/tata ruang wilayah peruntukan industri dan infrastruktur.
“Di sisi lain juga masih rendahnya efisiensi mesin dan lemahnya riset pengembangan teknologi industri, pembiayaan industri masih menggunakan skema komersial dan tuntutan penerapan industri hijau. Sementara pasar domestik masih marak dengan produk impor, lesunya pasar ekspor dan perlunya logistik yang murah,” ucapnya. (Muhammad Raya)





