DR. Koes Pranowo: 2026 Persaingan Global Makin Ketat, Kualitas Pelaut Indonesia Mutlak Harus Ditingkatkan

Dr. Koes Pranowo,SE, MSM.

JAKARTA-MARITIM: Menghadapi persaingan global yang semakin ketat, kualitas pelaut Indonesia mutlak harus ditingkatkan sehingga mampu merebut pasar tenaga kerja pelaut di berbagai negara. Hal ini terutama sebagai dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kemaritiman yang semakin canggih, serta ketatnya persaingan dengan pelaut-pelaut global.

“Dalam sepuluh tahun terakhir, kuantitas pelaut Indonesia semakin banyak, tapi kualitasnya justru menurun. Akibatnya, pemilik kapal/perusahaan pelayaran sering komplain dan terpaksa mengganti pelaut Indonesia dengan pelaut dari negara lain yang lebih berkualitas,” kata mantan pelaut Dr. Koes Pranowo, SE, MSM, dalam wawancara khusus dengan Maritim di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Read More

Dr. Koes yang berpengalaman 9 tahun sebagai pelaut ocean going antara Indonesia-Amerika-Australia (1974-1982) dan berhasil meraih jabatan tertinggi di kapal sebagai Chief Engineer berpendapat, untuk mengatasi masalah ini pemerintah harus berani merombak sistem pendidikan dan latihan (diklat) milik pemerintah maupun pendidikan pelaut milik swasta. Baik diklat pelaut yang nantinya akan menduduki jabatan level menengah di kapal maupun untuk calon perwira.

Menurut Dr. Koes akhir-akhir ini banyak perwira lulusan Akademi Pelaut yang tidak dapat memahami secara teknis apa yang seharusnya dilakukan sebagai Perwira Pelayaran. Terutama untuk kebutuhan kapal-kapal ocean going. Apalagi apabila diminta untuk menganalisa permasalahan yang ada dan membuat laporan yang diperlukan oleh manajemen perusahaan pelayaran. Jadi mungkin perlu ada pembedaan pendidikan pelaut untuk domestik dan pendidikan pelaut yang meliputi pelayaran ocean going. Ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelaut agar mampu bersaing di tingkat global. ”Kemampuan dalam business communication  dan pembuatan report writting sangat diperlukan,” tegasnya.

Ia memberi contoh, mungkin pendidikan pelaut yang sekarang ini dilaksanakan selama 4 tahun harus dibedakan dengan apabila untuk domestik hanya 3 tahun, dan satu tahun tambahannya khusus untuk pendidikan pelaut yang dapat meliputi ocean going. Tambahan satu tahun itu untuk meningkatkan spesialisasi dan kompetensi sesuai bidangnya, misalnya untuk jurusan nautika yang nantinya bisa menjadi nakhoda kapal yang mengarungi samudera luas seperti Samudera Pacific yang waktu berlayarnya dari satu benua ke benua lain memakan waktu yang lebih lama tanpa berhenti di pelabuhan. Di sisi lain untuk perwira pelaut yang untuk domestik mungkin tidak memerlukan pengetahuan baik nautika maupun teknika yang terlalu kompleks permasalahannya.

Menurut Koes Pranowo yang baru dikukuhkan sebagai Dewan Penasehat CIMA (Consortium of Indonesian Manning Agencies) periode 2024-2029, semua itu perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas, spesialisasi dan kompetensi pelaut sesuai bidangnya, termasuk kemampuan bahasa Inggris yang umumnya masih kurang. Sehingga pelaut Indonesia mampu bersaing dengan pelaut-pelaut lain dari berbagai negara. Ia menyebut saingan utama Indonesia adalah pelaut dari Filipina, kemudian disusul India, Bangladesh dan Myanmar.

Koes Pranowo mengakui, kelebihan pelaut Indonesia adalah sopan, rajin dan tekun dalam bekerja, namun kemampuan teknisnya kurang dibanding pelaut dari negara lain. Sehingga perusahaan pelayaran terkadang ada yang komplain dan pelaut yang bersangkutan terpaksa dipulangkan diganti dengan pelaut dari negara lain.

Karier di Darat                                                       

Selama 9 tahun menjadi pelaut mengarungi dunia, jebolan AIP jurusan teknika itu melihat ada perusahaan pelayaran yang memperlakukan tidak semestinya terhadap taruna akademi/sekolah tinggi pelayaran yang sedang melakukan praktek laut (Prala) di kapal. Untuk mendapatkan Prala di kapal selama 1 tahun, umumnya taruna mencari sendiri perusahaan pelayaran yang mau menampung.

“Sebagai calon perwira, mestinya mereka dibina dan diarahkan untuk melaksanakan jabatan yang telah ditentukan di kapal sesuai bidangnya,” ujar Koes Pranowo yang kariernya sebagai engineer dimulai tahun 1974 di kapal milik PT Pertamina, PT Gesuri Lloyd dan PT Bogasari Flour Mills.

 

Salah satu kapal tanker internasional yang sejumlah pelautnya berasal dari Indonesia dengan line Indonesia, Vietnam, China, Korea dan Pilippines. yang ditempatkan oleh PT Transocean Maritime.

Dari keahliannya sebagai engineer kapal, Koes harus mampu melakukan pemeliharaan mesin-mesin kapal, termasuk memelihara peralatan teknis seperti generator, boiler, AC dan sebagainya. Dan itu dibuktikannya sehingga kariernya terus meningkat sampai level Chief Engineer, jabatan tertinggi di kapal setingkat Nakhoda.

Jabatan Chief Engineer itu diraih saat bekerja di kapal-kapal internasional dengan rute Indonesia-Amerika-Australia. Merasa sudah berhasil mencapai level tertinggi di kapal, Koes Pranowo ingin mencoba profesi lain di darat yang dianggap menantang.

Kariernya di darat dimulai 1982 di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo-yang kini dimerger menjadi Bank Mandiri). Saat itu ia diterima untuk menggantikan Expert Bank Dunia di Bapindo. Untuk mendukung kariernya, tahun 1983 Koes kuliah di Fak. Ekonomi UI melalui program extention. Bekerja selama 15 tahun di Bapindo, ia semula dipercaya untuk menjabat sebagai Account Officer dan Ahli Maritim di Bank dan sampai menjadi Corporate Credit Manager untuk menangani pembiayaan Sektor Maritim di tahun 1985, untuk Pembiayaan Pembelian kapal dan Pembangunan Galangan Kapal di seluruh Indonesia.  Saat di Bapindo, ia mendapat kesempatan untuk menimba ilmu Bisnis Pelayaran di Asia Institute of Manila (AIM), Filipina pada tahun 1988 serta melakukan sharing knowledge di Korean Development Bank (KDB) Seoul, Korea Selatan.

Setelah karirnya semakin meningkat pada tahun 1992, Koes mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan Master of Science Business Management Arthur D Little Management Institute, Cambridge, Massachussets USA.  Berbekal master business tersebut ia banyak mendapat tawaran untuk mengajar di sejumlah universitas di Indonesia. Ia kemudian memutuskan untuk mengajar di Univ. Trisakti, Mercu Buana, Bina Nusantara, Institut Perbanas dan Sekolah Bisnis Institute Pertanian Bogor (SB IPB) Bogor.

Semuanya mengajar di bidang keuangan untuk tingkat Pasca Sarjana.  Dengan popularitas Koes dalam bidang keuangan dan pembiayaan proyek, banyak perusahaan pelayaran terutama para nasabah bank menawarkan untuk bergabung untuk bekerja di bidang pelayaran kembali, seperti karir pertamanya menjadi pelaut. Akhirnya pada tahun 1997 ia memutuskan untuk bergabung di Samudera Indonesia Group dengan jabatan sebagai General Manager Corporate Treasury (GM CT). Dr. Koes merupakan orang terlama (11 tahun) menjadi GM Corporate Treasury di Samudera Indonesia Group yang membawahi 60 perusahaan di dalam maupun luar negeri.

Namun karena terbatasnya waktu, kini Dr. Koes hanya menjadi dosen di Sekolah Bisnis Institute Pertanian Bogor (SB IPB), tempat ia berhasil meraih gelar Doktor Manajemen Bisnis pada tahun 2010..

Dari pengalamannya 9 tahun sebagai pelaut ocean going dan memahami masalah keuangan, Koes kemudian dipercaya menjadi Direktur PT Samudera Indonesia Ship Management selama 3 tahun (2008-2010).

Setelah keluar dari Samudera Indonesia, tahun 2011 Dr. Koes bersama rekan bisnisnya dari Singapura mendirikan PT Transocean Maritime yang bergerak di bidang agen pengawakan kapal dan ship management. Di perusahaan baru ini, Dr. Koes Pranowo dipercaya menjadi Presiden Direktur hingga sekarang. Spesialisasi usahanya terdiri dari commercial, technical, crewing management untuk perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal tankers, kontainer dan kargo umum (general cargo).

Mensyukuri telah banyak mendapat ilmu dari berbagai lembaga pendidikan di dalam dan luar negeri, Dr. Koes merasa bersalah bila ilmu yang diperolehnya tidak ditularkan kepada orang lain yang membutuhkan. Untuk itu, saat rapat perdana Dewan Pimpinan CIMA, Dr. Koes Pranowo menawarkan diri kepada seluruh anggota CIMA untuk memperdalam masalah keuangan, terutama yang terkait management ship dan crewing management.

Tawaran ini langsung disetujui tapi masih menunggu keputusan resmi dari DPP CIMA di bawah kepemimpinan Dr. Gatot Cahyo Sudewo SE, MM, M.Tr, CPHCM selaku Ketua Umum. Dalam SK Nomor: 115/DPP-CIMA/XI1/2025 tentang Komposisi dan Personalia Pengurus Dewan Pimpinan Pusat CIMA Masa Bakti 2026-2029, seluruh Dewan Pimpinan Pusat CIMA periode 2026-2029 berjumlah 47 orang. Terdiri dari Dewan Penasehat 2 orang yakni Retno Watimena dan Dr. Koes Pranowo, Dewan Pengawas 2 orang yaitu Nestor Tacazily  dan Deddy Herfiandi, DPP 20 orang dan DPW 3 orang yakni Batam/Riau, Bali dan Jawa Tengah.

Selain sebagai Dewan Pengawas CIMA, Dr. Koes Pranowo juga menjadi Dewan Penasehat ISMA (Indonesian Ship Management Association) periode 2024-2029. (Purwanto).

Related posts