JAKARTA-MARITIM : Pertumbuhan industri yang kuat, perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman investor dan perluasan pasar. Hal ini yang memperkuat komitmen Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) meningkatkan literasi dan inklusi Reksa Dana.
Melalui penyelenggaraan Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU APRDI 2026) bagi jurnalis, melalui kampanye #ReksaDanaAja. Berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin 20 Apeil 2026.
Sebagai bagian dari rangkaian Road to Pekan Reksa Dana 2026, didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organizstuon (SRO). Mencerminkan sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong pemahaman masyarakat terhadap investasi rekda dana yang dikelola secara profesionsl, transparan serta memberikan rasa tenang dalam berinvestasi.
Sosialisasi dan edukasi reksa dana sangat penting, karena menurut Kepala Departemen Pengawas Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, M Maulana, meski pada 2025 reksa dana Indonesia mencatat ada lonjakan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi secara kontribusi dinilai relatif kecil , dibanding negara-negara tetangga.
“Ternyata dari sisi Pendapatan Domestik Bruto (PDB), baru sekitar 4 persen,”ujarnya sambil merinci OJK mencatat asset under management (AUM) industri pengelolaan investasi mencapai Rp1.08 triliun atau fumbuh 3,97 persen pada awal 2026, yang secara nominal naiknnya signifikan.
Sementara lanjutnya, negara tetangga seperti Thailand AUM industri investasi sudah mencapai 30 persen dari PDB. Malaysia bahkan, sudah mencapai 36 persen. Artinya, manajement infestasi di Indonesia masih timpang. Sekaligus peluang besar bagi pertumbuhan industei pengelolaan investasi.
“Artinya masih banyak yang bisa dikejar,”tutur M Maulana. Lebih jauh ia mengaku, dari sisi jumlah investor, perkembangan industri reksa dana menunjuka trend positif. Kini mencapai 23,5 juta, meningkat dari 19,2 juta pada Desember 2025 atau tumbuh sekitar 8,14 persen secara tahunan (yoy).
Dikatakan, perkembangan investor reksa dana sangat menarik, khusus oleh kelompok usia muda atau dibawah 30 tahun. Dominasi usia muda ini mencapai 54 persen, yang bisa menjadi sinyal positif. Sebab berasal dari usia produktif, yang berpotensi menjadi basis peerumbuhan pasar keuangan jangka psnjsng.
Seperti data dari Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 287 juta jiwa, 196 juta diantaranya berada pada usia produktif 15-64 tahun.
“Sayangnya jumlsh ini belum sebanding dengan jumlsh investor saat ini. Dalam hal ini, penetrasi investasi dinikai masih sangat rendah,”akunya seraya menambahkan, investor saat ini baru mencapai sekitar 23 juga, jauh dibawah usia kelompok produktif.
Ini menunjukkan kata M Maulana, tingkat inklusi dan literasi pasar modal mssih peelu ditingkatkan. Sebab saat inu baru tercatat sekitar 17 persen untuk literasi, dan inklusi baru 1,3 persen. “Tentunya ini menjadi pekerjaan rumah, bagi OJK juga,”tandas M Maulana.(Rabiatun)





