SEMARANG (2): MENGEMAS PELABUHAN TANJUNG EMAS

TAHUN 2017, merupakan batas akhir rencana Pembangunan Tahap I Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Tetapi juga menjadi awal rencana jangka pendek Pembangunan Tahap II yang akan berlangsung hingga tahun 2018 mendatang. Agus Hermawan, General Manager Pelindo III Cabang Tanjung Emas mengakui bahwa di masa lalu pelabuhan yang dipimpinnya banyak mengalami kendala akibat seringnya terjadi rob yang menggenangi lahan pelabuhan, hingga mengganggu proses bongkar muat barang ke atau dari kapal.
Fenomena terjadinya intrusi air laut yang masuk ke darat pada saat pasang, dan oleh penduduk setempat disebut sebagai rob ini, merupakan gejala yang selalu muncul sejak puluhan tahun berselang. Menurut para pakar, kondisi ini terjadi akibat penurunan lahan, berbareng dengannaikknya permukaan lahan akibat pemanasan global yang disebabkan oleh efek rumah kaca. Bahwa terjadinya secara ekstrim di bagian utara kota Semarang, hal itu disebabkan sepanjang garis pantai Semarang merupakan lahan muda yang belum stabil, ditambah dengan kurang diperhatikannya penyedotan air tanah, karena berkembangnya pembangunan properti.
“Gejala tejadinya rob di sisi utara kota Semarang, merupakan hal yan dipicu banyak hal yang bersifat kompleks. Maka dalam rangka mengemas Pelabuhan Tanjung Emas agar tetap produktif, kami harus melakukan berbagai upaya. Antara lain belajar dari apa yang dilakukanoleh bangsa Belanda yang negerinya berada beberapa meter di bawah permukaan air laut. Itu sebabnya, kami mencoba solusi dengan cara membangun polder, membuat saluran pengelak air dan memasang pompa agar ketika rob datang, bisa ”mengusir” air kembali ke laut” jelas H Pelindo III Tanjung Emas kepada maritim.com.
Hasil yang dicapai dari kerja keras dengan biaya cukup besar itu, sejak beberapa tahun terakhir mulai tampak. Antara lain dengan cepat berkurangnya genangan air laut pada saat terjadi rob. Efeknya berimbas kepada menyusutnya genangan air yang selama ini menjadi momok di lahan Pelabuhan Dalam Pelabuhan Tanjung Emas yang merupakan areal bongkar muat barang untuk kapal-kapal konvensional, di depan gudang-gudang tua sebagai peiggalan masa lalu. Terkait hal tu, GM Pelindo III Tanjung Emas menjelaskan: “Dengan berkurangnya genangan air akibat rob di lahan pelabuhan, kami mulai bisa memfungsikan berbagai fasilitas. Antara lain perkerasan lapangan penumpukan, peningkatan performansi terminal penumpang termasuk membagun fasiitas untuk melayan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang menggunakan kapal pesiar internasional”.
Pada tahun 2016 lalu, kunjungan kapapesiar di Peabuhan Tanjung Emas mencapai 16 unit mnangkut 16.852 wisman. Dengan asumsi bahwa sebagian penumpang turun ke darat dan meneruskan wisata ke Yogyakarta maupun Borobudur, berarti pelabuhan telah ikut berkontribusi bagi tumbuhnya industri pariwisata di lingungannya, dengan sasaran akhir mampu menyumbang rencana pemerintah mendatangkan wisman hingga 20 juta orag di tahun 2020 mendatang.
“Dilihat dari sisi pendapatan, kunjungan kapal wisata memang tak terlalu signifikan, tetapi akan menjad kebanggaan bila pelabuhan juga mampu memberi sumbangan terhadap capaian program nasional. Maka untuk kedepan, Pelindo III Tanjung Emas akan tetap fokus dalam meningkatkan lini bisnis utama meyediaan fasilitasdan pelayanan terhadap kapal-kapal niaga domestikmaupun ocean going. Untuk itu, mulai tahun ini kami akan lakukan revitalisasi lahan maupun penambahan fasilitas dan peralatan” jelas Agus hermawan.
Saat ini Pelindo III Cabang Tanjung Emas mengoperasikan fasitas dermaga terdiri dari Dermaga Samudera panjang 575 meter dengan kedalaman kolam -10 meter LWS didukung lapanan penumpukan seluas 22.500 m2 dan gudang 4.900 m2; Dermaga Nusantara panjang 490 meter dengan kedalaman kolam -7 meter LWS didukung lapangan peupukan 9.840m2 dan gudan 4.000m2; Pelabuhan Dalam ½ sepanjang 625 meter dengan kedalaman kolam -6/-5 meter LWS didukung gudang konsolidasi 2.184 m2 dan terdapat kawasan berikat untuk overbrengen 8.346,90 m2, Pelabuhan Multipurpose 195 meter, Dermaga CPO 54 meter dan Dermaga Curah Cir 106 meter. Jumlah tambatan 6 unit dan kedalaman alur pelayaran -10 meter LWS. Selain itu trdapat termialenumpan seluas 5.185,70 m2 dengan daya tampung 2.400 orang.
Untuk kegiatan bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Emas, meliputi berbagai komoditas.Untuk barang-barang general cargo terdapat: Kayu Gelondongan (log), Kayu Sengon, Tiang Pancang dari Beton, Alat-alat Berat, Barang-barang Proyek, Bibit Tanaman, Makanan dan Minuman Ringan. Sementara itu, untuk barang-barang curah cair meliputi: Ethanol, BBM, Stearin, Palm Acid Oil, Tetes dan Aspal. Sedang untuk barang-barang curah kering tercatat: Pupuk, Kedelai, Biji Gandum, Batubara, Mkanan Ternak, Kasir Kuarsa dan Soya Bean Meal.
Menurut GM Tanjung Emas, selain meghandle komoditas antar pulau, di pelabuhan utama Provinsi Jawa Tengah itu juga berlangsung ekspor/imporbarangbaran nn petikemas langsung port to port, atau fedr lewat Singapura. Ungkap Agus Hermawan: “Pertumbuhan peekonomian di sekitar Semarang cukup tinhhi, karena Jateng dinilai sebagai kawasan yang cukup menjanjikan untuk investasi modal domestik maupun Penenaman Modal Asing. Guna menjawab kebutuhan masa mendatang, Managemen Pelindo III telah menugasi Cabang Tanung Emas untuk mengembangkan sarana dan prasarana, antara lain dengan revitalisasi lahan yang ada dilingkungan pelabuhan”. (Bersambung) ***ERICK A.M.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *