PEMANFAATAN LAPANGAN OVERBRENGEN TANJUNG EMAS

Tanjung Emas  – Maritim

DILANDASI maksud membantu memankas dwelling time lapanan penumpukan petikemas TPKS, PT Pelabuhan Indonesa III Cabang Tanjung Emas Semarang, menghimbau para importir untu memanfaatkan lapangan overbrengen yang baru dioperasikan.  Agus Hermawan, General Manager Pelindo III Tanjung Emas menuturkan bahwa dwelling time yang trjadi di TPKS masih berkisar empat sampai lima hari. Di antara penyebabnya adalah seusai proses bongkar muat, banyak importir yang tak segera memindahkan barangnya keluar pelabuhan. Padahal sudah terdapat ketentuan waktu inap petikemas di lapangan penumpukan hanya sampai dengan empat hari.

“Guna mengatasi kepadatan di CY (Container Yard, lapangan penumpukan petikemas) Pelindo III Tanjung Emas menawarkan solusi dengan mengoperasikan lapangan overbrengen yang secara aplikasi sudah online dengan bea cukai” ungkap GM Pelindo III Tanjung Emas.

Dijelaskan saat ini kapasitas Lapangan Overbrengen dapat menampung 300 TEU’s petikemas. Sejak dioperasikan bulan lalu lapangan ini telah dimanfaatkan oleh penggunajasa, tetapi jumahnya belumterlalu sigifikn. Kendati demikian, fihaknya telah siapkan rencana pengembangan jika kawasan ini penuh, dengan land clearing lahan yang berada di dekat lapangan eksisting seluas 7.000 meter persegi, yang bisa digabung dengan lahan cadangan di sebelahnya, yang memiliki luasan 10.000 meter persegi.

Terkait profil perdagangan di Provinsi Jawa Tengah, Ratna Kawuri Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng mengatakan saat ini terdapat 21 jenis produk yang diimpor oleh daerah itu, dengan industri tekstil dan produk tekstil menduduki peringkat terbesar. Di belakangnya menyusul produk mesin, elektronik serta bahan nabati. Jelsnya: “Kinerja ekspor impor Jateng pada kurun 2010-2015 mengalami defisit. Tetapi sejak tahun 2016 mengalami surplus US$.118 juta dolar AS. Namun harus diakui hingga akhir semester I/2017 masih dalam posisi defisit.

Menurut Ratna, terdapat 1.261 pemegang izin impor di wilayahnya. Untuk itu dia berharap semua pihak melakukan penyikapan atas kecendrungan ketergantungan impor. Meski begitu, ia menekankan impor merupakan sesuatu yang wajar. Tetapi diharapk para pelaku usaha mencari peluang ekspor baru, serta optimalisasi pengendalian dengan produk substitusi. Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat  ekspor Jaten bulan Juni 2017 mencapai US$ 409,61 juta atau mengalami penurunan sebesar 25,16% dibanding ekspor Mei 2017 yang mencapai US$ 547,33 juta. Demikian juga bila dibandingkan dengan Juni 2016 (year on year) ekspor Jateng turun sebesar US$ 135,52 juta, atau 24,86%. Sedangkan nilai impor Jawa Tengah pada Juni 2017 mencapai US$ 639,85 juta, turun 28,36% dibanding impor Mei 2017 sebesar US$ 893,10 juta. Secara YoY nilai impor untuk Juni 2017 mengalami penurunan sebesar 28,49% atau US$ 254,92 juta.***ERICK A.M

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *