Baki Lee : Energi Surya Paling Cocok dan Menguntungkan Diterapkan di Indonesia

JAKARTA-MARITIM : Energi surya paling cocok dan menguntungkan diterapkan di Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, di mana tempat dan wilayah di pelosok daerah-daerahnya pasti terkena sinar matahari. Apalagi, Indonesia selalu dilalui oleh garis khatulistiwa.

“Indonesia sudah lama dikenal sebagai negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alam. Hal ini terjadi karena Indonesia dilewati oleh garis khatulistiwa yang membuat wilayah Indonesia selalu disinari matahari sepanjang waktu. Hal ini menyebabkan Indonesia beriklim tropis,” kata Direktur PT Global Expo Management (GEM Indonesia), Baki Lee, saat ditanya wartawan usai acara pembukaan Smart Energy Indonesia 2023 dan Solartech Indonesia 2023, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (2/3).

Read More

Pameran ini dibuka secara resmi oleh Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM Agus Tjahajana dan berlangsung 2-4 Maret 2023. Hadir pula Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APaMSI) Linus T, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (APTIKNas) Soegiharto Santoso dan Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) John Manoppo.

Menurut Baki, karena itu pihaknya menggelar pameran bertaraf internasional, atau pameran Teknologi Energi Hijau Terbesar di Asia Tenggara ini, dengan menghadirkan teknologi energi surya yang sudah maju dari berbagai negara.

“Pasalnya, kalau kita terus menggunakan energi fosil, besar sekali investasinya dan mau sampai kapan kita kuat. Apalagi, kita memiliki 16 ribu lebih kepulauan dan masih banyak sekali pulau-pulau yang belum teraliri listrik. Makanya solusi terbaiknya memakai energi Surya,” ungkapnya.

GEM Indonesia kembali menjadi tuan rumah pameran Technologi Energi Hijau Terbesar di Asia Tenggara, dengan menggelar Smart Energy Indonesia 2023, pada 2-4 Maret 2023 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Smart Energy Indonesia 2023 meliputi kegiatan pameran Solartech Indonesia 2023, Inalight 2023, Battery & Energy Storage Indonesia 2023, Smart Home+IoT Indonesia 2023, Cable & Wire Indonesia 2023 dan Inatronics 2023.

Pameran bergengsi ini menghadirkan 431 peserta lebih dari 20 negara dan ditargetkan dihadiri 20 ribu lebih pengunjung, pebisnis dan investor dari mancanegara.

Pameran ini dibagi menjadi beberapa zona, yaitu Solar Sel/Panel, Mesin dan Bahan Panel Surya, Battery Energy Storage System, lampu LED, Internet of Thing (IoT), smart home, kabel listrik, komponen elektronika dan teknologi ramah lingkungan lainnya.

Indonesia memiliki potensi besar energi baru terbarukan (EBT) dan bisa menjadi salah satu pemimpin dunia dalam perkembangan teknologi energi hijau. Di mana dengan potensi itu, Indonesia akan mampu memproduksi energi hijau secara mandiri, bahwa pemerintah juga telah berkomitmen untuk mewujudkan Net Zero Emission pada 2060 dengan mempercepat pengembangan EBT.

Hal itu dapat dilihat pada Peraturan Presiden No 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Sebagai Upaya untuk Mendukung dan Mengembangkan Program Energi Baru Terbarukan. Pemerintah berkomitmen untuk mengurangi energi rumah kaca hingga 29% pada 2030. Di sisi lain, Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM berkolaborasi untuk mencapai target bauran EBT yang sudah ditetapkan sebesar 23% pada 2025 mendarang.

Pameran ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan program Net Zero Emmision sebelum tahun 2060.

Pameran juga diisi sesi informatif dan pendidikan tentang tren dan teknologi terkini di industri tenaga surya dan energi hijau yang dikemas dalam Smart Energy Indonesia 2023 Forum. Hadir pada acara itu para pakar dan ahli dari pemerintah, asosiasi dan para peserta pameran. Pembicaranya dari Kementerian ESDM, Kemenko Marves, PT PLN dan APAMSI, AESI, NBRI. Tujuannya, acara ini dapat memberikan kontribusi untuk pelaksanaan transisi energi di Indonesia dan Asia Tenggara. (Muhammad Raya)

Related posts