YOGYAKARTA-MARITIM : Dalam rangka perumusan dukungan kebijakan dan rencana aksi pendalaman struktur industri blok rem komposit dan roda kereta api dalam negeri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP), menyelenggarakan focus group discussion (FGD) dengan mengambil tema “Potensi Pengembangan Komponen Kereta Api Dalam Negeri”.
Acara FGD yang dibuka oleh Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, ini berlangsung di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Jumat (25/7) dengan menghadirkan para pembicara pada sesi I dan II secara bergantian seperti Vice President of Technical Engineering of Rolling Stock PT KAI (Persero) Tbk, Sugito, Direktur Pengembangan PT INKA (Persero) Roppiq Lutzfi Azhar, GM Manufacturing Plants II PT Indoprima Gemilang, Havid, dengan moderator Tenaga Ahli Wakil Menteri Perindustrian, Eko Kurniawan.
Menurut Wamenperin, para industrialis dan para akademisi di Tanah Air agar saling membangun kolaborasi dan strategi untuk memperkuat ekosistem industri komponen kereta api nasional.
“Di mana, saat saya mengunjungi PT INKA beberapa waktu lalu, PT INKA mendapat pesanan trainset dari PT KAI dan New Zealand dalam jumlah yang sangat besar. Namun sayang, pesanan tersebut tidak dapat dipenuhi, sehingga kebutuhan blok rem dan roda kereta api tersebut harus diimpor,” ungkap Faisol, yang mengajak Direktur IMATAP Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono dan Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Kemenperin, Solehan, yang hadir pada kesempatan tersebut agar ikut bersama-sama membahas dan mendalami struktur industrinya. Sehingga ke depan pekerjaan rumah yang masih banyak kita punyai, terutama di industri yang berbasis logam, bisa kita dijawab dengan cepat.
Wamenperin juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas nama Kemenperin pada seluruh peserta FGD dan para industrialis.
“Saya lebih senang menyebut industrialis karena kalau para pelaku usaha biasanya konotasinya banyak. Para pengusaha konotasinya banyak, terutama banyak karena kita sering disebut kalau pengusaha itu artinya follow the money. Kalau industrialis itu kita bekerja untuk pengembangan dan pembangunan industri,” ujar Faisol.
“Saya sudah saksikan sampai melihat secara detail komponen-komponen yang dirakit di PT INKA. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pesanan itu. Namun ada satu yang membuat diskusi panjang waktu itu. Saya bersama Wamen BUMN Pak Kartika (Kartika Wirjoatmodjo) bahwa roda kereta beserta blok rem kereta itu belum bisa kita produksi di dalam negeri. Karena kandungan komposit dari rem maupun rem blok dan roda kereta itu belum dapat diketahui dengan baik. Pernah diproduksi tapi pernah kemudian setelah uji coba ternyata retak,” ungkap Wamenperin.
Menurutnya, sehingga diputuskan untuk mengimpor dua komponen itu supaya bisa memenuhi kebutuhan pesanan.
“Ini yang menjadi pertanyaan saya dan Pak Kartika waktu itu? Kenapa kita belum bisa memenuhi atau belum bisa membangun roda kereta maupun rem blok ini dengan komponen maupun dengan kekuatan industri di dalam negeri. Saya bertanya ke Direktur IMATAP, itu memang tidak mudah tetapi seharusnya bisa,” desak Faisol.
Sebenarnya, lanjutnya, ada banyak ahli dari kampus, perguruan tinggi dan para industrialis untuk bekerja bersama-sama mengumpulkan berbagai macam informasi, menyusun kandungan yang dibutuhkan, baik itu dari baja, dari karbon dan yang lain sama-sama proses pemanasan yang cukup supaya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Itu kira-kira yang waktu itu terjadi dan hari ini kita selenggarakan satu FGD untuk hadir di sini menjawab pertanyaan mampukah kita membuat atau memenuhi kebutuhan roda kereta dan rem blok dari PT INKA. Khususnya dengan potensi yang ada di dalam negeri.
“Tentu ini juga tantangan dan Pak Presiden Prabowo Subianto menekankan berkali-kali bahwa 8 persen pertumbuhan ekonomi itu hanya bisa dipenuhi melalui industri. Melalui sumbangan sektor industri khususnya industri pengolahan non-gas. Indonesia apakah tidak mampu memproduksi barang-barang seperti yang kita konsumsi sehari-hari dengan kekuatan industri dalam negeri kita. Ini pertanyaan sederhana tapi jawabannya berat. Pertanyaan sederhana tapi jawabannya membutuhkan akurasi data yang akurat,” urai Faisol.
Berdasarkan laporan Grandview Research pada 2023 disebutkan, potensi pasar global untuk sarana kereta api diperkirakan mencapai US$96,5 miliar pada 2030. Tumbuh 6,3% setiap tahun di mana Asia Pasifik menjadi pasar terbesar.
“Di Indonesia kebutuhan moda transportasi kereta api juga terus meningkat, di mana kebutuhannya 2 ribu gerbong kereta setiap tahun, kalau tidak salah. Ini luar biasa. Kemarin waktu saya naik bus per harinya sudah meningkat penumpangnya sekarang 26 ribu. Kalau tidak salah. Ini pasti akan banyak kebutuhan kereta api di masa mendatang,” paparnya.
Pertumbuhan mobilitas penumpang dalam 5 tahun diperkirakan mencapai 10,6% per tahun. Pertumbuhan angkutan barang mencapai 12,3% per tahun.
“Oleh karena itu, kami mengapresiasi operator kereta api dalam negeri seperti PT KAI, PT Kereta Komuter Indonesia, PT MRP Jakarta yang terus meningkatkan kualitas layanan dan infrastruktur. Sehingga kereta api maupun moda transportasi yang lain hari ini sudah sangat maju, cepat, bersih, aman dan nyaman,” nilai Wamenperin.
Industri kereta api dalam negeri yang dimotori oleh PT INKA dan PT KAI berinovasi terus mengembangkan produk berstandar internasional, ramah lingkungan seperti kereta api penumpang new generation, KRL dan LRT serta autonomous battery tram dan sistem propulsi hybrid. Bahkan berbagai jenis kereta tersebut telah memiliki nilai TKDN 40-60%. Beberapa komponen kereta api berpotensi mengembangkan atau untuk dikembangkan di dalam negeri, di antaranya rem blok komposit dan roda kereta api komposit, di mana kebutuhannya di dalam negeri diperkirakan mencapai 200 ribu untuk blok rem komposit dan 30 ribu unit roda kereta api per tahun.
Kurangi impor
Pada kesempatan sama, Vice President of Technical Engineering of Rolling Stock PT KAI (Persero) Sugito, menyampaikan, pihaknya terus menunjukkan komitmen dalam memperkuat penggunaan produk dalam negeri. Melalui Unit Rolling Stock Engineering, perusahaan telah menyusun berbagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen dan meningkatkan TKDN.
“Diperlukan pengembangan ekosistem perkeretaapian yang dapat menyokong pemenuhan kebutuhan suku cadang substitusi barang impor untuk sarana dan prasarana perkeretaapian dengan peningkatan teknologi. Sehingga dapat mengejar gap teknologi perkeretaapian di dunia. Apalagi, perkeretaapian dalam negeri masuk ke dalam proyek strategis nasional,” ujarnya.
Sementara, Direktur Pengembangan PT INKA (Persero), Roppiq Lutzfi Azhar, menyatakan PT INKA memegang peranan penting dalam upaya pengembangan industri perkeretaapian nasional melalui peningkatan TKDN serta pembangunan ekosistem supply chain berbasis kolaborasi lintas sektor.
“INKA fokus pada pengembangan kemampuan desain dan perakitan lokal untuk komponen-komponen penting kereta api seperti sistem propulsi (sistem penggerak), bogie (rangka roda), dan carbody (badan kereta) yang terbuat dari aluminium dan stainless steel. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada komponen impor dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Produk kami telah diekspor ke berbagai negara, seperti Bangladesh, Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Australia tuturnya. (Muhammad Raya)





