Diresmikan, “Beloft” BULOG Business District Baru di Kelapa Gading

SURABAYA-MARITIM : PT Teknik Tadakara Sumberkarya (TTS), perusahaan papan atas yang fokus membidik pekerjaan pada marine and industrial electrical switchboard manufacturing ternama di Indonesia, Sabtu (27/9), melakukan acara tasyakuran Hari Ulang Tahun ke-35, yang dilakukan di kantor pusat Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran komisaris, direksi, serta seluruh karyawan, yang diawali dengan plant visit berkeliling melihat dari dekat tempat workshop dan aktivitas produksi PT TTS, yang tengah mengerjakan pesanan PT PAL Indonesia berupa electrical switchboard pada kapal perang Fregat Merah Putih. Membacakan sambutan sebagai refleksi perjalanan perusahaan serta pemotongan tumpeng yang diberikan pada karyawan termuda dan karyawan tertua wujud simbol rasa syukur. Termasuk pula pemberian penghargaan untuk karyawan teladan, berprestasi serta pengabdian 25, 30 dan 35 tahun. Seluruh rangkaian acara akhirnya ditutup dengan hiburan dan ramah tamah serta pembagian door prize.

Read More

Puncak acara hari jadi PT TTS ke-35 dilakukan pemotongan tumpeng oleh Dewan Komisaris PT TTS, Thareq Kemal Habibie, pada penerimanya karyawan termuda dan karyawan tertua.

Dapat juga dilaporkan bahwa tamu undangan yang hadir tampak Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda TNI Sri Yanto, Sekretaris Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Heri Pribadi, Direktur Teknologi Industri Pertahanan Dirjen Pothan Kemhan, Marsekal Pertama TNI Dedy Laksmono, Kasubdit Daya Tempur, Kolonel TNI Iskandar dan Sungkono mewakili Dirjen ILMATE Kemenperin.

Tampak pula Ketua Umum Iperindo, Anita Puji Utami, Ketua Umum PIKKI, Eki Komaruddin, Dewan Komisaris dan jajaran Direksi PT TTS, Dr Ir Ing Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie, Owner sekaligus Presiden Direktur PT TTS, Budhiarto Sulaiman, Direktur Produksi PT PAL Indonesia, Diana Rosa, Dirut Kampuh Welding Indonesia, Moch Moenir, Dirut PT Dumas Tanjung Perak Shipyard, Andy Bintoro, Komut PT PTK, Subagjo Hari Moedjanto dan mantan Irjen Kemenperin, Soerjono

Menurut Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana TNI Sri Yanto, pihaknya berikut jajarannya mengucapkan selamat ulang tahun pada PT TTS atas capaian dan raihannya selama usianya 35 tahun ini, yang hasilnya menurut kami cukup membantu kemajuan dari sisi industri pertahanan nasional. Sekaligus berpesan agar terus memberikan kontribusi terhadap industri pertahanan nasional.

Ia juga menekankan pentingnya mempersiapkan kemampuan pertahanan selama masa damai dan menyebutkan verifikasi industri sebagai komponen pendukung untuk pertahanan nasional.

Ia juga melihat tantangan yang dihadapi oleh industri pertahanan, terutama kurangnya bahan baku lokal yang mempengaruhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Saya mendorong kolaborasi untuk meningkatkan TKDN sebagai upaya industri dalam menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada ekonomi. Salah satu caranya adalah bekerja sama dengan Kemenperin untuk mengembangkan regulasi TKDN untuk peralatan pertahanan,” ungkap Laksda TNI Sri Yanto, yang juga secara bersamaan menyampaikan ulang tahun pada Owner dan Presdir PT TTS, Budhiarto Sulaiman, yang waktunya bertepatan dengan hari ulang tahun PT TTS.

Di samping itu, Laksda TNI Sri Yanto, menyampaikan perlunya verifikasi industri untuk ditetapkan sebagai komponen pendukung pertahanan nasional. Kemudian mendorong industri untuk meningkatkan TKDN dengan menggunakan bahan baku lokal dengan mengurangi ketergantungan pada impor.

Ia menyampaikan pula industri pertahanan di Kemhan tak kurang terdapat 210 industri pertahanan. Namun dari jumlah itu tidak ada satu pun industri pertahanan yang bergerak pada bahan baku. Sehingga ini menjadi kendala bagi kami dan TKDN-nya menjadi tidak bisa tinggal karena bahan bakunya kebanyakan diimpor dari luar.

“Saat ini memang di alutsista belum memiliki rezim pengaturan TKDN secara tersendiri. Namun kini kami bersama Kemenperin tengah bersama-sama menggodok soal itu,” ujarnya.

Ditambahkan, sejauh ini dukungan untuk industri pertahanan nasional sudah cukup baik dan mereka sudah berpartisipasi menyokong kebutuhan kapal-kapal perang kita dari komponen kelistrikannya.

“Kalau pun ada kendala karena pabriknya sudah ada di dalam negeri, sehingga perawatannya lebih mudah. Ketimbang beli dari luar negeri yang pasti membutuhkan waktu lama untuk mendatangkan ke Indonesis,” ucapnya, yang menambahkan, alokasi belanja kebutuhan kapal perang tahun depan akan sama dengan tahun ini, tanpa menyebutkan nilainya. Karena memang ada niat dari pemerintah untuk membangun pertahanan yang lebih kuat.

 

Jangan jago kandang

Sementara Komisaris PT TTS, Ilham Akbar Habibie, mengatakan jika kita ingin menuju Indonesia Emas yang tinggal 20 tahun lagi, kita harus sama-sama merebutnya dengan kerja keras. Karena Indonesia yang maju itu tidak mungkin jatuh dari langit.

“Oleh sebab itu, kegiatan hilirisasi harus juga dibarengi dengan hulurisasi. Sebagai negara kepulauan kita harus banyak punya kapal laut dan pesawat terbang. Sehingga tercipta ekosistem industri kemaritiman, ekosistem industri kedirgantaraan dan ekosistem industri lainnya. Di samping itu, kita juga harus berani melakukan R&D dan menciptakan sumber daya manusia (SDM), sebagai kunci jika kita ingin menjadi negara maju,” urai Ilham.

Ia mengharapkan banyak perusahaan yang ada di Indonesia seperti PT TTS, yang disebut sebagai UMKM. Coba lihat Jerman yang kuat dari segi industri dan ekonominya karena mereka memiliki UMKM yang kuat sekali. Sehingga menjadi tulang punggung negaranya.

Upaya kita melakukan ekspor produk, sambungnya, juga harus dilakukan sebagai suatu bangsa dan negara agar kita mengetahui bagaimana daya saing produk kita di negara lain dan tidak terbuai dengan pangsa pasar yang cukup besar di dalam negeri saja.

“Kalau kita mau tahu daya saing kita yang sebenarnya, maka kita harus memberanikan diri untuk mengekspor. Hal ini dilakukan untuk mengasah daya saing kita harus bertanding dengan perusahaan-perusahaan lain di pasar mereka,” tekan Ilham, yang melihat juga PT TTS telah beberapa kali didatangi oleh pemesan dari luar negeri karena produknya memang kualitasnya sudah sesuai dengan standar dunia.

Ilham mengajak, kalau kita ingin menjadi negara yang unggul, maka kita harus selalu berpikir dan bekerja secara global. Tidak mungkin kita hanya menjadi jago kandang.

Bertransformasi ke IPMS

Sedangkan Owner dan Presiden Direktur PT TTS, Budhiarto Sulaiman, menjelaskan saat ini PT TTS telah bertransformasi menjadi fase pengembangan memproduksi Integrated Platform Management System (Sistem Manajemen Platform Terpadu/IPMS). Artinya, di layar monitor tidak ada lagi tampak meter meteran analog kapal, karena semuanya telah menggunakan multifunction display.

“Saya sangat berterima kasih atas dorongan Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertahanan dan yang lainnya sebagai mitra usaha strategis saya. Kenapa saya menyebutkan sebagai mitra usaha strategis saya, karena tanpa dukungan dari Bapak-bapak saya juga bukan apa-apa,” ungkap Budhiarto.

Hadirnya produk kelistrikan kapal buatan dalam negeri, adalah untuk mendorong kemandirian bangsa dan menaikkan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mengurangi ketergantungan impor pada produk penunjang fasilitas pertahanan.

Bukan hanya itu, sebagai negara besar, Indonesia sudah seharusnya mandiri dalam berbagai sektor industri, tidak terkecuali dalam industri pertahanan.

Sejauh ini, PT TTS berpengalaman dalam merancang, merekayasa, dan memproduksi peralatan kelistrikan kelautan seperti panel listrik utama, panel starter grup, konsol kontrol, dan sistem pemantauan alarm. Produknya telah dipasang di banyak kapal laut dan kapal angkatan laut karena efisien dan kinerjanya yang luar biasa, serta telah diakui secara luas oleh berbagai lembaga klasifikasi terkemuka dan anggota IACS.

Marine and industrial electrical switchboard manufacturing yang telah diproduksi oleh PT TTS meliputi main switchboard, emergency switchboard, integrated bridge system, engine control console, navigator and signal light, alarm monitoring system dengan class BKI, ABS, Rina, ClassNK, LR dan DNV.

Berbagai produk tersebut telah dipasang pada kapal milik Kementerian Pertahanan, TNI AL dan kapal komersial. Untuk pesanan kapal dari Kementerian Pertahanan terpasang pada kapal Offshore Patrol Vessel 90 M, Hospital Ship (BRS) Dr Wahidin Sudiro Husodo dan Hospital Ship (BRS) Dr Radjiman Widyodiningrat pesanan TNI AL. Landing Platform Dock (LPD) pesanan TNI AL, Fast Patrol Boat 60 M (KPC) KRI Dorang-Bawal pesanan TNI AL, ASD Harbour Tug 2X1600 HP pesanan TNI AL, 3500 Long Tons DWT Crude Oil Tanker pesanan PT Pertamina, Fast Attack Vessel 60 M (KCR) pesanan TNI AL, Navigation Vessel pesanan DitNav, Strategic Sealift Vessel (SSV) pesanan Angkatan Laut Filipina, Coaster 2000 GT pesanan Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, 33 M ASD Harbour Tug pesanan PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), Dharma Kartika VIII pesanan PT DLU dan Tanker Crude Oil 17500 Long Tons DWT pesanan PT Pertamina.

Sedangkan untuk saat ini project yang tengah dikerjakan adalah pesanan dari PT PAL Indonesia untuk pemasangan electrical switchboard pada kapal perang Fregat Merah Putih dan telah konfirmasi order pemasangan pada kapal LPD 163 M pesanan Uni Emirat Arab (UEA) dan Filipina. (Muhammad Raya)

Related posts