Ditopang Pendanaan yang Kuat, Kredit BNI Tumbuh Berkualitas dan Seimbang,

Laba BNI Juni 2026, masih solid

JAKARTA-MARITIM : Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatatkan kinerja fundamental yang solid hingga semester I – 2026.
Kredit BNI tumbuh 24,4 persen, secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun.

Hal tersebut disampaikan, Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan , dalam keterangan resminya Rabu 5 Agustus 2026.

Pertumbuhan kredit yang sehat dan terdiversifikasi dengan baik, struktur pendanaan yang kuat, kualitas aset yang terjaga. Serta ,transformasi bisnis yang berkelanjutan.

Menjadi fondasi BNI, dalam menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Sementsra Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit, yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis utama. Mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.

Ekspansi kredit dilakukan secara selektif , dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2 persen secara tahunan sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4 persen.

Pencapaian ini mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56 persen dibandingkan dengan 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.

Penguatan fundamental bisnis BNI , juga tercermin pada peningkatan pendapatan inti Perseroan. Hingga semester I 2026, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun.

Pada periode yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.

Pertumbuhan yang solid dan seimbang dari kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

Paolo mengatakan, penguatan profitabilitas menunjukkan kontribusi bisnis inti BNI yang semakin solid dan berimbang.

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” ujar Paolo.

Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, kualitas aset BNI terus menunjukkan ketahanan yang baik. Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit bermasalah atau loan at risk (LAR) membaik dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen sementara rasio non performing loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.

Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko. Kebijakan tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Related posts