ICCIS 2025 : Dorong Penguatan Rantai Dingin Lewat Infrastruktur dan Hilirisasi

Maritim, Jakarta : Potensi besar industri rantai dingin atau cold chain di Indonesia menjadi sorotan dalam Indonesia Cold Chain Infrastructure Summit (ICCIS) 2025 yang berlangsung di Jakarta, Selasa-Rabu (1920/8/2025).Pertumbuhan konsumsi makanan beku, ekspansi e-commerce pangan, serta kebutuhan distribusi farmasi dan produk segar menjadi pendorong utama penguatan sektor ini.

Bertempat di Assembly Hall Menara Mandiri, ICCIS 2025 mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga investor. Forum ini menjadi ajang pemetaan potensi pasar, sekaligus perumusan strategi percepatan pembangunan infrastruktur rantai dingin nasional.

Read More

Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), Hasanuddin Yasni, mengungkapkan bahwa nilai pasar produk beku di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 1.000 triliun per tahun. Dari jumlah itu, industri cold chain dapat menyerap sekitar 20 persen, atau setara Rp 200 triliun per tahun.

“Pasar kita besar, tapi belum ditopang infrastruktur dan kebijakan yang memadai. Untuk berkembang, industri ini butuh dukungan nyata dari sisi regulasi dan kesiapan jaringan distribusi,” ujar Yasni saat membuka forum.

Yasni menambahkan, pertumbuhan sektor penyimpanan (storage) berada di kisaran 78 persen per tahun, sedangkan transportasi cold chain tumbuh lebih tinggi, sekitar 15 persen. Angka ini menunjukkan geliat industri yang terus bergerak, tetapi belum terfasilitasi secara optimal.

Ketimpangan Infrastruktur Jadi Tantangan

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kementerian Perindustrian, Solehan, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur cold chain perlu dikawal dengan kebijakan terintegrasi. Ketimpangan fasilitas penyimpanan dan distribusi di berbagai wilayah Indonesia dinilai masih menjadi penghambat utama.

“Kolaborasi sektor publik dan swasta menjadi kunci. Pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif, baik fiskal seperti tax allowance dan tax holiday, maupun non-fiskal seperti kebijakan P3DN dan Making Indonesia 4.0,” ujar Solehan.

Kepala Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian, Heru Kustanto, memaparkan proyeksi pasar logistik cold chain Asia Pasifik yang tumbuh pesat, dari 146,2 miliar dollar AS pada 2023 menjadi 603,1 miliar dollar AS pada 2033, dengan laju pertumbuhan tahunan 15,3 persen.

Menurut Heru, Indonesia juga akan terdorong oleh tren serupa, terutama dari sektor makanan, farmasi, pertanian, dan layanan pengiriman. Efisiensi distribusi tidak bisa dicapai tanpa cold chain yang andal. Ini penting untuk menjawab tantangan distribusi pangan segar dan kebutuhan farmasi nasional, katanya.

Integrasi dengan Program Nasional

Dalam sesi bertajuk Pemetaan Industri Logistik Rantai Dingin Nasional dalam Program Keamanan dan Keselamatan Pangan, Direktur Industri, Perdagangan, dan Peningkatan Investasi Bappenas, Robby Fadhilah, menyampaikan bahwa cold chain harus menjadi bagian dari strategi besar seperti National Logistic Ecosystem (NLE).

Cold chain menyangkut ketahanan pangan, keamanan produk, kesehatan masyarakat, hingga daya saing produk Indonesia di pasar global, kata Robby.

Pemerintah, menurut dia, tengah menyiapkan regulasi pendukung, termasuk Rancangan Peraturan Presiden tentang Penguatan Logistik Nasional, yang akan mendorong pemanfaatan produk dalam negeri dalam proyek logistik dan infrastruktur strategis.

ICCIS 2025 tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga momentum membentuk peta jalan pengembangan cold chain Indonesia. Forum ini diharapkan menghasilkan strategi konkret yang menjawab tantangan teknis, investasi, hingga penguatan sumber daya manusia.

“Kami ingin industri ini tumbuh dalam ekosistem yang terintegrasi, didukung regulasi yang progresif, serta investasi yang tepat sasaran. Dengan begitu, cold chain bisa menopang ketahanan pangan dan meningkatkan efisiensi distribusi nasional,” ujar Yasni.

Optimisme tersebut tercermin dari semangat kolaboratif yang dibawa para pemangku kepentingan. Ke depan, rantai dingin tak lagi sekadar pelengkap distribusi, melainkan menjadi fondasi utama dalam menjawab tantangan globalmulai dari krisis pangan, perubahan iklim, hingga ketahanan ekonomi nasional.**Hbb

Related posts