SURABAYA-MARITIM : Hadirnya produk kelistrikan kapal buatan dalam negeri, adalah untuk mendorong kemandirian bangsa dan menaikkan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mengurangi ketergantungan impor pada produk penunjang fasilitas pertahanan.
Bukan hanya itu, sebagai negara besar, Indonesia sudah seharusnya mandiri dalam berbagai sektor industri, tidak terkecuali dalam industri pertahanan.
Terkandung niat yang dalam dari semua itu, PT Teknik Tadakara Sumberkarya (TTS) sejak berdirinya pada 1990 telah fokus di pekerjaan spesialisasi ahli papan sakelar (switchboard) listrik dan sistem kontrol untuk industri pertahanan nasional dan kapal komersial.
Hal tersebut dikatakan oleh Owner sekaligus Presiden Direktur PT TTS, Budhiarto Sulaiman, saat berbincang-bincang dengan www.tabloidmaritim.com di kantornya di bilangan Kompleks Pergudangan PT Suri Mulia Permai, Margomulyo, Surabaya, Jawa Timur, akhir pekan lalu.
Di samping itu, silaturahmi itu juga ingin menyampaikan ihwal akan diselenggarakannya acara syukuran dan selamatan atas ulang tahun PT TTS ke-35 pada September 2025 yang akan datang. Sekaligus sebagai bentuk syukur telah tumbuh dan berkembang serta menjaga kualitas produk, layanan dan menjaga komitmen kualitas, yang berawal dari menjaga kualitas komponennya.
“Pada waktu itu, sekitar tahun 1990, Direktur Utama PT PAL Indonesia, (Alm) BJ Habibie, merasa kuatir dan gelisah melihat bangsanya dipenuhi oleh produk-produk komponen impor kapal. Di mana kesenjangan (gap) antara produk lokal dan produk impor sangat tinggi. Langkah pertama, saya lalu diperintahkan untuk membuat main switchboard di PT TTS oleh (Alm) BJ Habibie. Padahal, kami belum bisa apa-apa waktu itu,” kenang Budhiarto, yang didampingi Direktur PT TTS, Siti Nuraini Andina, General Manager PT TTS, Dwi Purnomo dan Tri Guntoro dari Staf Sistem Kelistrikan Kapal PT TTS.
Suatu hari, sambung Budhiarto, PT PAL Indonesia mendapat project lalu dibelilah main switchboard dari luar negeri tapi dirakitnya di PT TTS. Yakni mulai merakit kabelnya, merakit panelnya yang datang dari luar negeri, komponennya datang dari luar negeri. Bahkan gambarnya saja datang dari luar negeri.
“Jadi antara tahun 1990-2000, selama 10 tahun kami mempelajari apa itu yang namanya transfer of technology (ToT), dengan project awal PT TTS berdiri seperti semi container vessel Caraka Jaya, boat carrier Vero Style Jerman dalam proyek operasional, industry engineer dengan Mayer Wave. Kemudian pada tahun 2000, PT TTS sudah mampu membuat engineering procurement dan construction (EPC) sendiri dan punya uang untuk melakukan ekspansi bisnis. Bahkan, kami saat itu sudah mengantongi beberapa sertifikat class yang digunakan pada industri maritim dan pelayaran. Puncaknya, pada tahun 2016-2017, saat Presiden Jokowi meluncurkan Program Tol Laut dengan jumlah kapal mencapai 150 unit, 80% panel listrik kapalnya tersebut dibuat oleh PT TTS,” kata Budhiarto.
Sejauh ini, PT TTS berpengalaman dalam merancang, merekayasa, dan memproduksi peralatan kelistrikan kelautan seperti panel listrik utama, panel starter grup, konsol kontrol, dan sistem pemantauan alarm. Produknya telah dipasang di banyak kapal laut dan kapal angkatan laut karena efisien dan kinerjanya yang luar biasa, serta telah diakui secara luas oleh berbagai lembaga klasifikasi terkemuka dan anggota IACS.
Marine and industrial switchboard manufacturing yang telah diproduksi oleh PT TTS meliputi main switchboard, emergency switchboard, integrated bridge system, engine control console, navigator and signal light, alarm monitoring system dengan class BKI, ABS, Rina, ClassNK, LR dan DNV.
Berbagai produk tersebut telah dipasang pada kapal milik Kementerian Pertahanan, TNI AL dan kapal komersial. Untuk pesanan kapal dari Kementerian Pertahanan terpasang pada kapal Offshore Patrol Vessel 90 M, Hospital Ship (BRS) Dr Wahidin Sudiro Husodo dan Hospital Ship (BRS) Dr Radjiman Widyodiningrat pesanan TNI AL. Landing Platform Dock (LPD) pesanan TNI AL, Fast Patrol Boat 60 M (KPC) KRI Dorang-Bawal pesanan TNI AL, ASD Harbour Tug 2X1600 HP pesanan TNI AL, 3500 Long Tons DWT Crude Oil Tanker pesanan PT Pertamina, Fast Attack Vessel 60 M (KCR) pesanan TNI AL, Navigation Vessel pesanan DitNav, Strategic Sealift Vessel (SSV) pesanan Angkatan Laut Filipina, Coaster 2000 GT pesanan Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, 33 M ASD Harbour Tug pesanan PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), Dharma Kartika VIII pesanan PT DLU dan Tanker Crude Oil 17500 Long Tons DWT pesanan PT Pertamina.
Sedangkan untuk saat ini project yang tengah dikerjakan adalah pesanan dari PT PAL Indonesia untuk pemasangan electrical switchboard pada kapal perang Fregat Merah Putih dari rencana untuk kapal kedua mungkin tahun depannya. Di samping itu juga sudah ada konfirmasi untuk order pemasangan pada kapal LPD 163 M pesanan Uni Emirat Arab (UEA) kemudian pesanan dari Filipina untuk LPD yang juga akan dibangun di PT PAL Indonesia.
Perkuat Investasi SDM
Pada kesempatan sama, Direktur PT TTS, Siti Nuraini Andina, menjelaskan perseroannya memang sejak awal berdiri hingga kini fokus pada penguatan sumber daya manusia (SDM), terutama SDM yang mempunyai skill dan kompetensi pada bidang kelistrikan. Oleh karena itu, jika ingin bekerja di PT TTS harus memiliki persyaratan pokok seperti itu.
“Sebab bagi kami, pekerjaan yang kami geluti saat ini lebih banyak menuntut skill SDM yang mumpuni dari hulu ke hilir, dari pada memaksimalkan kecanggihan alat atau mesin. Karena itu, kami sejak dari awal hingga kini fokus investasi pada bidang SDM kelistrikan. Pasalnya bagi kami investasi pada bidang SDM adalah yang terpenting. Mengingat SDM kelistrikan itu sangat sulit dan langka di dapat, apalagi pada bidang perkapalan. Sehingga kami juga punya kurikulum sendiri soal ini,” ungkap Andina.
Bahkan, akunya, karena sulitnya mencari SDM kelistrikan tersebut pihak membuat lembaga pelatihan kerja khusus kelistrikan perkapalan sendiri di perusahaannya. Namun di sisi lain, pihaknya juga secara terbuka menerima calon pegawai khusus kelistrikan dari luar. Sehingga secara paralel, di satu sisi PT TTS ingin mencetak SDM lokal untuk siap kerja yang siap pakai bagi perusahaan sendiri, di sisi lain dapat juga dipakai bagi kebutuhan SDM kelistrikan pada industri maritim secara nasional.
Ditanya soal kebutuhan tahun ini terkait SDM tersebut, Andina mengatakan alhamdulillahirrabillaalamiin tahun ini kebutuhan perusahaannya mencapai 70 orang tenaga produksi, mengingat banyaknya pesanan. Apabila ada tambahan project lagi maka pihaknya siap untuk menambah investasi SDM lagI. Terkait rencana ekspansi bisnis, pihaknya telah membidik Abu Dhabi, Malaysia, Singapura dan negara lainnya dalam 3 tahun ke depan.
Andina menambahkan, visi perusahaannya menjadi perusahaan terkenal di bidang teknologi. Sedangkan misi perusahaan berperan untuk pembentukan industri penunjang peralatan perkapalan dalam negeri dengan tujuan untuk meningkatkan kandungan lokal.
“Sekarang ini kami sedangkan mengembangkan produk yang diberi nama integrated bridge system dan integrated platform management system. Fungsinya bisa mengintegrasikan semua sistem peralatan di kapal, mulai dari mesin, pintu, tanki, dan lain-lain dengan kerja sama pihak perusahaan Jerman,” pungkas Andina. (Muhammad Raya)





