JAKARTA-MARITIM : Industri pengolahan menunjukkan sinyal menggembirakan dalam dua triwulan berturut-turut pada 2025. Jika momentum ini dijaga, industrialisasi berpotensi bangkit kembali di Indonesia.
Untuk pertama kali dalam 14 tahun terakhir, industri pengolahan (manufaktur) tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan nasional dalam dua triwulan beruntun, yaitu 5,68% pada triwulan II/2025 dan 5,54% pada triwulan III/2025. Meski masih terlalu dini dan angkanya tidak terlalu besar, pertumbuhan industri pengolahan pada dua triwulan beruntun ini menyalakan sinyal penting. Momentum ini diharapkan menjadi pertanda lahirnya reindustrialisasi.
Hal itu dikatakan oleh Executive Director Next Indonesia Center, Christiantoko kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/11).
Menurutnya, momentum tersebut perlu dijaga dan dikembangkan karena sektor industri pengolahan sejak beberapa dekade terakhir konsisten menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sekaligus berperan sebagai lokomotif penyerapan tenaga kerja, pendorong ekspor, dan penguatan basis pajak negara.
“Pada triwulan II/2025, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB tercatat 19,51%, kemudian meningkat jadi 19,93% di triwulan berikutnya. Kenaikan ini, meskipun tidak besar secara persentase, menjadi penting karena menunjukkan bahwa kontribusi manufaktur kembali menguat,” ungkap Christiantoko.
Dijelaskan, kinerja sektor industri pengolahan yang kuat dapat membalikkan Indonesia dari fase deindustrialisasi kembali ke industrialisasi, sehingga tidak terkurung dalam middle income trap.
“Ini adalah jalan terbaik untuk menembus hambatan middle income trap, suatu peralihan tenaga kerja dari pertanian ke manufaktur; menjadikan manufaktur sebagai mesin pengejar ketertinggalan dari negara maju; serta diversifikasi ekonomi ke produk manufaktur yang lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi,” ujarnya.
Didampingi Director, Herry Gunawan, dan Senior Analyst, Sandy Pramuji, Christiantoko melanjutkan, secara historis, dari 101 negara berpendapatan menengah tahun 1960, hanya 13 yang berhasil masuk kelompok negara berpendapatan tinggi pada 2008, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Selebihnya, cenderung bertahan di kelas menengah. Negara-negara yang lolos dari middle-income trap itu umumnya berhasil melakukan diversifikasi ekonomi ke produk manufaktur yang lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi.
Pertumbuhan kredit investasi sektor industri pengolahan terlihat mencerminkan keyakinan dunia usaha terhadap prospek sektor tersebut. Kenaikan kredit ini sangat penting karena investasi menjadi fondasi utama bagi peningkatan kapasitas produksi, adopsi teknologi baru, dan peningkatan daya saing manufaktur nasional.
Guna menjaga momentum pertumbuhan tersebut, sambung Christiantoko, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang komprehensif dan konsisten agar arus investasi ke sektor manufaktur tetap terjaga dan bahkan meningkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada triwulan dua dan tiga tahun 2025, perekonomian Indonesia tumbuh masing-masing sekitar 5,12% dan 5,04% secara tahunan (year-on-year, yoy). Di periode yang sama, industri pengolahan tumbuh masing-masing 5,68% dan 5,54% yoy. Terakhir kali pertumbuhan industri pengolahan lebih tinggi melampaui kinerja perekonomian nasional dalam dua triwulan berturut-turut seperti itu, terjadi pada triwulan tiga dan empat tahun 2011. Ketika itu, industri pengolahan tumbuh 7,14% dan 7,00%.
Disampaikan, serapan tenaga kerja industri pengolahan cenderung naik setiap tshun. Data BPS per Agustus 2025 mencatat, jumlah pekerja yang terserap industri pengolahan mencapai 13,86% dari total 146,5 juta pekerja di seluruh Indonesia pada bulan tersebut. Secara keseluruhan, jumlah tenaga kerja sektor tersebut berada dalam posisi tiga besar penyumbang serapan tenaga kerja terbesar setelah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (41,3 juta pekerja) dan perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor (27,5 juta pekerja). Porsi serapan tenaga kerja ketiga sektor terbesar itu mencapai 60,74% dari total tenaga kerja di Indonesia. (Muhammad Raya)





