Rapimprov II/2026 Kadin DKI Jakarta, Dorong Pengusaha Lokal Penggerak Ekonomi Jakarta

JAKARTA-MARITIM : Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta melaksanakan Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) II Tahun 2026 kepengurusan masa bakti 2024-2029, yang mengambil tema “Pengusaha Lokal Sebagai Pilar Strategis Penggerak Ekonomi DKI Jakarta”.

Acara yang berlangsung di Hotel Park Hyatt, Jakarta, dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sekaligus membuka secara resmi Rapimprov II Tahun 2026 Kadin DKI Jakarta, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi, para Ketua Kadin Kota dari 5 wilayah Jakarta dan para peserta, peninjau dan undangan yang terkait lainnya.

Di samping itu, Rapimprov II Kadin DKI Jakarta Tahun 2026, pada Senin (9/3) ini, dibuka dengan kegiatan tarian selama datang “Bhineka Betokaw”, dilanjutnya menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, Hymne Nasional Kadin dan Mars Nasional Kadin.

Kemudian masih ada mata acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama (MoU) antara Kadin DKI Jakarta dengan ASEAN Foundation. Talkshow “Membangun Ekonomi Jakarta yang Tangguh Melalui Penguatan dan Proteksi Pelaku Usaha Lokal Sebagai Basis Pertumbuhan”.

Di sesi talkshow sebelumnya tampil Keynote Speech dari Ketua DPRD DKI Jakarta, H Khoirudin. Sementara pada talkshow hadir para narasumber Asisten Perekonomian dan Keuangan Setda DKI Jakarta, Suharini Eliawati, kemudian Ketua Komisi D-DPRD Jakarta bidang Pembangunan, Yuke Yurike dan narasumber Kepala Institute of Advance Studies in Economic and Business (ASEB) Universitas Indonesia (UI), Turro Seltris Wongkaren. Pada acara ini bertindak sebagai moderator Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan dan Konsultan Kadin DKI Jakarta, Ronald Sihombing Hutasoit.

Sebelum acara buka puasa bersama dan penutupan Rapimprov Kadin DKI Jakarta, pihak penyelenggara mengadakan Sidang Pleno I, Sidang Pleno II dan Sidang Pleno III.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, dalam sambutannya mengatakan saat ini dunia penuh dengan tantangan di antaranya kini terjadi perang fisik antara Iran VS Israel-AS. Dampak perang tersebut sangat besar bagi Indonesia dan Kadin melihatnya itu dari tiga sisi, yaitu ketahanan energi. Kalau hal ini terus berlangsung dan harga minyak bisa tembus US$100/barel, tentunya ini tekanan yang luar biasa berat bagi APBN.

“Untuk itu kita wajib memikirkan apa langkah yang bisa kita lakukan. Yang kedua, soal ketahanan pangan, perlu dijaga bersama agar jangan sampai merangkak naik antara Kadin Indonesia, Kadin DKI Jakarta dan pemerintah perlu menjaganya. Apalagi, memasuki periode lebaran. Faktor ketiga, adalah kestabilan DKI Jakarta, terutama menjaga perekonomiannya,” ujar Anindya.

Anindya melihat kiprah Kadin DKI Jakarta dalam membina UMKM cukup baik, terutama dalam sertifikasi dan vokasi. Karena untuk meningkatkan perekonomian salah satunya adalah menaikan produktivitas dan inovasi dan hal ini erat kaitannya dengan berbagai pelatihan yang dilakukan oleh Kadin DKI Jakarta.

Sedangkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta sebesar 5,21% di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,11% dengan PDB mencapai 16,61%.

Terkait dengan pengusaha lokal, Pramono melihat, tidak hanya dibina tapi dibentuk agar bisa survival dan lebih kuat. Terutama bagi pemain-pemain baru UMKM, yaitu modal agar Bank Jakarta memberi modal, sebab kalau tidak berarti yang bermain rata-rata pemain lama.

“Saya ingin hubungan antara pemerintah DKI Jakarta, Kadin DKI Jakarta dan pemain-pemain yang ada berjalan baik,” ungkapnya, jelang lebaran Pemprov DKI memberikan insentif lomba diskon belanja ke toko-toko di Jakarta, lewat program “mudik ke Jakarta”.

Sementara Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi, saat memberikan sambutan mengatakan kekuatan ekonomi Jakarta pada akhirnya bertumpu di kekuatan pelaku usaha lokal. Karena salah satu fondasi terpenting dari ketahanan ekonomi domestik, adalah pengusaha lokal yang kuat dan berdaya saing.

“Ketika pengusaha lokal tumbuh, maka yang tumbuh bukan hanya bisnisnya. Yang tumbuh adalah lapangan kerja, perputaran ekonomi di daerah, peningkatan pajak daerah serta efek pengganda ekonomi atau multiplier effect bagi masyarakat,” ucap Diana.

Namun, lanjutnya, yang menjadi kegelisahan pengusaha lokal, adalah mereka bersaing dengan pengusaha dari berbagai daerah di Jakarta. Tetapi tidak selalu mendapatkan kesempatan yang sama ketika ingin berkembang di daerah lain.

Beberapa provinsi di Indonesia saat ini telah menerapkan kebijakan afirmatif yang memberikan ruang dan prioritas kepada pelaku usaha lokal dalam berbagai kegiatan pembangunan daerah. (Muhammad Raya)

 

Related posts