JAKARTA-MARITIM : Situasi geopolitik pada April 2026, di mana konflik di Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan minyak mentah dunia dan mendorong kenaikan signifikan harga BBM non-subsidi di Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Jakarta Utara, memperhatikan kenaikan harga minyak global berdampak pada lonjakan harga solar, sehingga berpotensi menaikkan biaya angkut truk di Indonesia sebesar 10,5-12%. Jika harga bahan bakar naik 30%.
“Situasi ini mengancam efisiensi logistik, di mana biaya operasional truk bisa naik 7-8% dengan kenaikan solar moderat, memicu risiko kenaikan harga barang,” kata Wakil Ketua Bidang Transportasi dan Logistik Kadin Kota Jakarta Utara, Captain (Pilot) Andry Kristanto S.E, M.M kepada tabloidmaritim.com, di Jakarta, Rabu (22/4).
Kenaikan harga minyak global, Capt Andry merinci, setidaknya berdampak pada dua faktor pokok. Pertama, berdampak pada biaya Logistik. Di sini kenaikan harga solar hingga 30% (akibat gangguan suplai) dapat menyebabkan lonjakan ongkos angkut truk hingga 12%. Kedua, berdampak pada harga barang. Yaitu kenaikan ongkos truk sebesar 7-8% yang diproyeksikan meningkatkan rata-rata harga barang atau inflasi sekitar 0,5%.
“Situa
si ini menempatkan tekanan signifikan pada rantai pasok global dan domestik. Karena sektor transportasi sangat bergantung pada solar,” tegas Capt Andry.
Pada situasi ini, Kadin Kota Jakarta Utara berharap dapat memfasilitasi dialog antara penyedia jasa logistik dan pengguna jasa pemilik barang untuk penyesuaian tarif yang adil akibat kenaikan harga BBM. (Muhammad Raya)





