Hadir Dalam Business Briefing di Amerika, AirNav Indonesia Pamerkan Inovasi Navigasi Penerbangan

AirNav Indonesia, pamer sistem navigasi di Amerika Serikat. (Foto Istimewa AirNav)

TANGERANG–MARITIM: Untuk memdukung modernisasi layanan navigasi penerbangan, AirNav Indonesia menampilkan sejumlah inovasi dalam sesi Business Briefing pada rangkaian Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission (RTM) yang diselenggarakan United States Trade and Development Agency (USTDA) di Arlington, Virginia, Amerika Serikat, Selasa 27 Oktober 2026.

Read More

Direktur Teknik Zainal Arifin Harahap, sebagai repsentstif AirNav Indonesia menyampaikan, pengembangan teknologi diarahkan untuk menjawab kebutuhan operasional pelayanan navigasi di wilayah kepulauan.

Inovasi yang dipaparkan mencakup pertukaran informasi penerbangan, pemanfaatan kecerdasan buatan serts pemantauan gangguan sinyal navigasi satelit.

Mengelola navigasi penerbangan di negara kepulauan, menuntut adaptasi teknologi yang berkelanjutan.

“Kami tidak hanya berfokus menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi dan pengawasan (Communication, Navigation, and Surveillance/CNS) yang ada,”tuturbta

Tapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI). Guna menjawab tantangan ruang udara yang semakin padat dan dinamis.

Dijelaskan, AirNav melayani navigasi penerbangan pada dua Flight information Region (FIR) . Yakni FIR Jakarta dan Ujung Pandang dengan luas wilayah pelayanan sekitar 7,79 juta kilometer persegi.

Dengan menangani sekitar 5.000 penerbangan per hari dengan wilayah pelayanan yang berbatasan dengan 10 FIR negara tetangga. Keandalan sistem serta koordinasi lintas batas menjadi kebutuhan penting dalam operasional perusahaan.

Salah satu inovasi yang ditampilkan yaitu sistem Flight and Flow Information for a Collaborative Environment (FF-ICE). Untuk mendukung pertukaran informasi penerbangan.

Sistem tersebut telah didemonstrasikan dalam APAC TVO Pathfinder Conference di Hanoi,Vietnam pada 23 Juli 2025.

AirNav juga mengembangkan penyusunan NOTAM berbasis AI bersama Telkom University Teknologi. Ini memanfaatkan model bahasa besar, untuk membantu mengubah masukan bahasa biasa menjadi format NOTAM terstandar. Guna mendukung efisiensi dan kecepatan penyusunan , informasi bagi komunitas penerbangan.

Di bidang pemantauan, AirNav menampilkan GNSS Radio Frequency Interference Monitoring, yakni sistem untuk memantau gangguan frekuensi radio pada sinyal navigasi satelit secara waktu nyata.

Sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi indikasi gangguan, memetakan lokasinya dan memberikan peringatan guba mwndujung pemantauan operasional

Pengembangan lainnya mencakup EMIRA, sistem manajemen lalu lintas udara terintegrasi dan modular yang dikembangkan secara internal. Serta teknologi ADS-B berbasis Internet of Things, untuk mendukung perluasan cakupan pengamatan penerbangan.

Dalam forum tersebut, Zainal juga menyampaikan, rencana pengembangan Remote/Digital Tower, Stellite-Based Augmentation System (SBAS) dan Transponder Landing System (TLS).

Peluang kolaborasi mencakup studi kelayakan, riset,uji coba teknologi serta pengembangan kompetensi personal.

Remote/Digital Tower diarahkan untuk mendukung pelayanan di bandara dengan kepadatan lalu lintas rendah. Rencana SBAS mencakup riset karakteristik ionosfer wilayah ekuatorial , untuk mendukung peningkatan kinerja navigasi satelit.

Sementara itu, TLS dijajaki sebagai pilihan pendukung pendekatan pendaratan presusi, pada bandara dengan kondisi medan atau keterbatasan infrastruktur tertentu.

“Forum ini merupakan kolaborasi teknis, guna memastikan sistem navigasi nasional selaras dengan perkembangan standar keselamatan penerbangan global,” kata Zainal.

Program RTM berlangsung pada 26 Oktober 2026, dengan melibatkan delegasi Indonesia dan Fikuoiba. Sesi Business Briefing, mempertemukan delegasi dengan perusahaan Amerika Serikat . Untuk membahas kebutuhan pengembangan dan peluang kolaborasi teknologi dibidang keselamatan dan keamanan penerbangan.  (Rabiatun)

Related posts