CILACAP(3): HINTERLAND, SINERGI DAN KONEKTIVITAS

“PERSAINGAN” antara pelabuhan-pelabuhan yang berada di pantai utara dengan yang terletak di pantai selatan Pulau Jawa, pada masa lalu pernah cukup tajam. Pelabuhan Semarang, Tegal dan Cirebon yang rata-ata kedalaman kolam -2,5 meter LWS yang adalah pelabuhan reede, mendapat perhatian lebih dibanding dengan Pelabuhan Cilacap yang memiliki kedalaman kolam -5 meter LWS dan kapal-kapal bisa bertambatan. Penyebabnya karena menjelang abad ke-20, Semarang sudah terkoneksi dengan daerah pedalaman yang merupakan pemasok komoditas ekspor, setelah dibukanya jalur kereta api lintas Soerabaia-Batavia. Selain iu juga terdapat kereta api lokal dari Randublatung, Purwodadi dll.

Read More

    Dilihat dari sisi ini, pelabuhan di pantai selatan yang pasokan bahan mentahnya dari pedalaman masih diangkut dengan pikulan, kereta kuda, gerobag sapi/kerbau, jelas tak bisa mengimbangi kecepatan ranta pasok ke pelabuhan Semarang. Dalam kondisi seperti tu saja, Pelabuhan Calacap berada pada ranking ke-empat setelah Batavia, Soerabaia dan Semarang. Baru setelah tahun 1879 Staatspoorwegen (SS, BUMN Pekretaapian masa Hindia Belanda) membangu jaur kereta api sepanjag 187 Km dari Yogya ke Cilacap, persaingan sesungguhnya mulai terjadi. Lebih-lebih ketika kemudian di tahun 1884 beberapa pengusaha swasta juga mulai membangun jalur trem Serayudal Stoomtrammaatschappij, yang menghubungkan Woosobo hingga Cilacap dengan muatan utama komoditas ekspor berupa teh, kina serta tembakau yang sedang boomng di pasar dunia, dan kembalinya mengangkut garam.

    Fenomena yang berhasil kembali melambungkan peran Pelabuhan Cilacap tersebut, banyak disebut sebaga paradigma baru terjadinya sinergi antara pemerintahdan swasta ditambah dengan kian lancarnya konektivitas hinterland dengan pelabuhan sebagai entitas bisnis yang memicu perdagangan termasuk ekspor/impor. Jargon yang kemudian berkembang, buka lagi ship follow the trade atau trade follow the shi, tetapi port pomoting the trade.

    Ali Sodikin, GM Pelindo III Tanjung Intan Cilacap dalam perbincangan dengan maritim. com  mengatakan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, banyak pelaku bisnis dari Kawasan Selatan Jateng yang menjajaki kemungkinan dilakukannya eksportasi dengan menggunakan petikemas lewat Pelabuhan Tanjung Intan. Tentang itu,  Ali berucap: ”Kalau dari sisi kesiapan pelabuhan, tak ada masalah. Kami cukup memiliki SDM yang mampu melaksanakan, juga bisa melengkapi dermaga kami yang sudah dibangun untuk mengantisipasi pertumbuhan di masa depan, dengan melengkapi peralatan bongkar muat saja. Tetapi yang jadi masalah ialah dukungan akses jalan dari sentra industri menuju pelabuhan yang masih sempit dan banyak tikungan serta jembatan yang daya dukungnya kurang memadai. Karenanya, sampai saat ini para pengusaha dari Yogyakarta, Purworejo, Kebumen, Purbalingga, Purwokerto bahkan juga dari Priangan Timur memilih pengapalan dengan petikemas lewat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang atau Cirebon”.

    Menjawab pertanyaan maritim.com tentang peluang bisnis yang masih mungkin diraih oleh pelabuhan yang dipimpinnya, Ali Sodikin yang memiliki latar belakang sebagai pandu itu mengatakan bahwa masih cukup banyak hal yang propektif agar Tanjung Intan Cilacap tetap eksis, bahkan berkembang sesuai dengan mayoritas komoditas unggulan yang harus dilayani. Menurutnya, yang sudah tampak di depan mata adalah fungsi Tanjung Intan hingga sepuluh tahun kedepan masih akan fokus menghandel komoditas berbasis barang-barang curah kering. Pasokan batubara untuk PLTU secara nasional tiap tahun diperlukan jumlah 88,3 juta ton. Kalau diperkirakan dua unit PLTU di Cilacap membutuhkan pasokan 10% dari jumlah tersebut, maka akan terjadi bongkar muat sekitar 8,83 juta ton/tahun.

    “Pelabuhan Tanjung Intan menjadi salah satu andalan dalam bongkar muat batubara sebagai pasokan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam mewujudkan program sektor kelistrikan yang oleh pemerintah telah dipatok sampai mampu memenuhi kebutuhan 35.000 MegaWatt. Di Kabupaten Cilacap kini sedang dikembangkan dua unit PLTU di desa Karang Kandri oleh PT Sumber Segara Primadaya sebesar 1.000 MW yang telah memasuki fase pembangunan kedua, disusul dengan pembangunan PLTU Adipala sebesar 700 MW. Kedua PLTU tersebut akan beroperasi penuh mulai tahun 2019” jelas GM Pelindo III Tanjung intan.

    Lebih jauh dikatakan, di satu-satunya pelabuhan yang diusahakan di pantai selatan Pulau jawa itu, juga terdapat pelayanan bongkar muat semen curah, klinker dan pasir besi untuk pasokan domestik. Itu sebabnya, kini Pelindo III Tanjung Intan tengah menyelesaikan penyambungan dermaga yang akan mencapai ukuran panjang total 580 meter, agar mampu melayani 3 unit kapal sekaligus. Juga sedang disiapkan lapangan penumpukan seluas 740 hektar.

    Lebih jauh Ali Sodikin mengatakan: ”Fungsi Tanjung Intan sebagai pelabuhan untuk energi, akan kian dominan dengan pembangunan kilang minyak berdasar investasi Aramco. Salah satu produknya yang kini sudah beredar di pasaran ialah BBM jenis Pertalite. Kendati Tanjung Intan cenderung menjadi pelabuhan energi, tetapi fungsinya tetap merupakan pelabuhan umum, hingga bongkar muat ternak sapi impor dari Australia tetap bisa dilayani di Tanjung intan. Tetapi sejalan dengan kebijakan  angkutan ternak nasional menggunakan pola Tol Laut dengan mengangkut sapi dari Provinsi Nusa Tenggara ke Surabaya, dan juga Jakarta, maka jumlah imprtasi ternak lewat Tanjung Intan mulai berkurang”.

    Memungkasi penjelasannya, Ali Sodikin menyatakan prediksinya bahwa kedepan nanti Pelabuhan Tanjung Intan tidak akan lagi dianggap sebagai pelabuhan yang salah letak. Hal itu terkait dengan rencana pemerintah membangun jalan Trans Jawa lewat jalur pantai selatan, yang selain untuk mengurangi kepadatan jalur pantura juga sebagai upaya membuka isolasi di beberapa kawasan yang secara ekonomis belum bekembang maksimal. Jalan ini kelak akan mengimbangi panjang  “Jalan Daendels” dari Anyer hingga Panarukan, karena jalur selatan akan diawali dari Banyuwangi hingga ke Banten. ***ERICK A.M.

                    

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *