Kemenperin Konversi 6 Balai Besar dan Baristand Jadi Pusat Inovasi Industri 4.0.

Kepala BPPI Kemenperin Ngakan Timur Antara
Kepala BPPI Kemenperin Ngakan Timur Antara

Jakarta, Maritim

Untuk mendukung implementasi industri 4.0. pada lima sektor industri yang diunggulkan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengkonversi enam balai besar serta balai riset dan standardisasi (baristand) dari hanya berkegiatan pada penelitian dan pengembangan (litbang) jadi suatu pusat inovasi, sehingga di kemudian hari kelak punya daya saing industri di kancah global.

Read More

“Keenam balai besar itu adalah Balai Besar Industri Agro (BBIA) sebagai pusat inovasi industri makanan dan minuman (mamin). Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) untuk industri kimia. Balai Besar Tekstil (BBT) untuk industri tekstil dan busana. Baristand Industri Surabaya (BIS) untuk industri elektronik. Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) serta Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) sebagai pusat inovasi untuk industri otomotif,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, di Jakarta, Rabu (30/5).

Ke depan, menurut Ngakan, unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan BPPI itu akan diarahkan fokus melakukan kegiatan litbang sesuai kebutuhan lima sektor industri yang jadi percontohan pada tahap awal penerapan industri 4.0.

“Sebab kami punya 24 UPT litbang yang bakal dipacu untuk mendukung lima sektor prioritas industri 4.0. tersebut. Yakni industri mamin, kimia, tekstil, elektronik dan otomotif,” paparnya.

Pada tahap awal, tambahnya, Kemenperin akan mendahulukan merevitalisasi BBIA jadi Pusat Inovasi Makanan dan Minuman (PIMM). Pemilihannya, karena industri ini besar kontribusinya terhadap ekonomi nasional dan kesiapan menerapkan industri 4.0. juga relatif lebih bagus.

Digambarkan, tahun lalu industri mamin berkontribusi 34,33% atau lebih dari sepertiga total nilai Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan non migas nasional. Realisasi investasi Rp38,54 triliun untuk PMDN dan PMA US$1,97 miliar. Selain itu, industri ini menyerap banyak tenaga kerja dan banyak juga perusahaan yang telah menerapkan otomatisasi industri 4.0.

Rencananya, di tahap awal PIMM akan dilakukan manufacturing, kemudian diperluas ke hulu atau on-farm. Komponen yang disiapkan meliputi model factories, mobile labs, sensors, capacity building, assessment dan benchmarking serta akses terhadap ketersediaan teknologi.

Pada kesempatan itu, Ngakan menjelaskan, pihaknya juga telah menjajaki kerja sama dengan Fraunhover IPK, The Boston Consulting Group (BCG) dan International Enterprise Singapore (ESG). Tujuannya untuk mengakselerasi penerapan industri 4.0 di Indonesia.

Hasilnya, Kemenperin dan Fraunhover IPK sudah menghasilkan empat poin kesepakatan. Kerja sama dengan BCG membangun model factory sebagai pusat inovasi berbasis industri 4.0. Sedangkan dengan ESG sepakat membentuk working group industri mamin. (M Raya Tuah)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *