“Secangkir Kopi Sejuta Kolaborasi”, dari Rasa Persatuan Bukan Berkompetisi Lahir Pengusaha Logistik NLC Berdaya Saing

Ketum NLC Angga Purnama

JAKARTA-MARITIM : Ada beberapa anak muda yang sukses di bidang logistik, baik sebagai pengusaha, maupun profesional. Mereka memanfaatkan peluang di industri logistik yang terus berkembang, terutama dengan adanya teknologi dan e-commerce. Salah satunya yang dapat diperhitungkan, adalah Angga Purnama, Ketua Umum National Logistic Community (NLC).

Menurutnya, industri logistik di Indonesia masih memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama dengan adanya pertumbuhan ekonomi dan e-commerce. Anak muda yang memiliki inovasi, kemampuan adaptasi teknologi, dan pemahaman akan kebutuhan pasar, memiliki peluang besar untuk meraih sukses di bidang ini.

Read More

Sebagai anak muda yang sukses dalam bisnis industri logistik saat ini, ungkap S-3 Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, NLC lahir dari rasa persatuan antara pengusaha logistik yang siap berkolaborasi bukan berkompetisi, sesuai dengan slogan NLC yaitu “Secangkir Kopi Sejuta Kolaborasi”.

“Menghadapi persaingan yang sangat ketat di industri logistik, jadi kami berpikir kita harus buat suatu wadah yang di dalamnya, adalah pengusaha logistik yang siap saling support,” urai S-3 konsentrasi Manajemen Logistik dan Rantai Pasok ini, kepada www.tabloidmaritim.com, di bilangan kawasan Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, kemarin.

Ditanya terkait jumlah anggota saat ini dan sudah punya “nama” ikut gabung di NLC, laki-laki yang menyetir sendiri mobilnya saat beraktivitas, menjelaskan jumlah anggotanya dari Sabang sampai Merauke. Di mana di dalamnya banyak pengusaha logistik yang sudah punya “nama” gabung di organisasinya.

Orang pertama di NLC ini lalu menjabarkan Visi dan Misi, untuk Visi adalah menjadi wadah kolaborasi terdepan yang mendorong transformasi logistik nasional berkelanjutan, efisien, dan berdaya saing global. Untuk Misi, adalah meningkatkan konektivitas dan kolaborasi, menjembatani kolaborasi antara pelaku logistik (perusahaan, pemerintah, akademisi, dan komunitas). Mendorong inovasi dan digitalisasi, mempercepat adopsi teknologi (seperti IoT, AI, blockchain) untuk efisiensi rantai pasok.

Berikutnya, adalah pengembangan SDM Logistik, menyediakan pelatihan, sertifikasi, dan pertukaran pengetahuan untuk peningkatan kompetensi. Terkait Advokasi Kebijakan yang Mendukung, adalah berperan aktif dalam menyuarakan kebutuhan sektor logistik kepada pemerintah, membangun Ekosistem Logistik Berkelanjutan serta mendorong praktik ramah lingkungan (green logistics) dan tata kelola yang bertanggung jawab.

Menjawab NLC berpatners kerja dengan perusahaan apa saja, Angga biasa namanya disapa demikian mengatakan, NLC adalah organisasi nirlaba. Sehingga NLC tidak berbisnis dengan anggotanya.

“Sementara untuk jumlah armada, pihaknya belum memiliki data resminya, namun untuk jenis-jenis moda transportasi kami lengkap. Mulai dari moda transportasi darat, laut, udara, kereta api dan retail,” ujarnya, yang saat ini pihaknya sedang membuat semacam e-commerce logistik.

Skeptis

Terkait adanya rencana pemerintah menargetkan biaya logistik nasional turun menjadi 8% pada tahun 2030 dari sebelumnya 14,5%, Angga menilai, skeptis hal tersebut bakal tercapai.

“Jujur, dari saya pribadi sebagai Ketum NLC, sampai saat ini saya skeptis dengan pernyataan pemerintah tersebut. Jika logistic cost kita turun dari dulu sebesar 20%an, sekarang 14,5%, perhitungannya dari mana? Sedangkan biaya BBM, tol, harga mobil, pungli dan lain sebagainya saja semakin merangkak. Itu area teknis belum lagi regulasinya,” tekan Angga.

Sedangkan terkait zero ODOL, Angga menjelaskan, akan sulit diterapkan.

Menurutnya, sangat sulit diterapkan. Sebenarnya jika mau menerapkan zero ODOL, harus dari industri manufakturnya dulu, pemilik barang.

“Karena jika mereka tidak patuh, kami sebagai pengusaha logistik sulit mengambil bisnis, tiba tiba memberikan order kepada perorangan atau bahkan ke driver langsung. Akhirnya mau tidak mau kita harus bersaing dan mengambil order tersebut. Tapi sejauh ini, saya pribadi sebagai pengusaha logistik, tidak mau mengambil risiko yang besar dengan ODOL. Bagi saya edukasi itu sangat penting tentang bahayanya ODOL,” pungkas Angga. (Muhammad Raya)

Related posts