Aptindo dan US Wheat Associates Teken MoU impor Biji Gandum 1 Juta Metrik Ton dari AS

Ketua Umum Aptindo Franciscus (Franky) Welirang dan mitra bisnisnya USW Regional Vice President for South and Southeats Asia Joe Sowers masing-masing tengah menandatangani MoU untuk impor gandum dari AS. Tampak menyaksikan Direktur Eksekutif Aptindo, Ratna Sari Loppies bersama jajaran pengurusnya

JAKARTA-MARITIM : Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) menyatakan bahwa pihaknya tetap akan mengimpor gandum dari Amerika Serikat (AS) senilai US$250 juta per tahun. Walaupun Presiden AS, Donald Trump, mengenakan tarif resiprokal sebesar 32% ke Indonesia.

“Kita telah menandatangani MoU dengan pihak US Wheat Associates sebesar satu juta metrik ton untuk lima tahun ke depan atau hingga 2030,” kata Direktur Eksekutif Aptindo, Ratna Sari Loppies, menjawab www.tabloidmaritim.com, di Jakarta, Jumat (11/7).

Read More

Penandatanganan MoU terkait impor gandum satu juta metrik ton tersebut, dilakukan oleh masing-masing pihak, yakni Ketua Umum Aptindo, Franciscus (Franky) Welirang bersama mitra usahanya asal AS, USW Regional Vice President for South and Southeast Asia Joe Sowers, di Jakarta, 7 Juli 2025 lalu. Hadir pula pada penandatanganan MoU tersebut, Direktur Eksekutif Aptindo, Ratna Sari Loppies bersama jajaran pengurus lainnya.

Menurut Ratna, kerja sama seperti ini sudah rutin dilakukan oleh Aptindo dan mitranya, sehingga ada atau tidak ada sekalipun pengenaan tarif kerja sama tetap akan dilakukan. Walaupun semula peningkatan impor gandum menjadi salah satu negosiasi dari Indonesia ke AS agar dapat menurunkan tarif resiprokal 32%. MoU impor gandum dari AS dilaksanakan mulai tahun depan hingga 2030.

Berdasarkan ringkasan data Aptindo yang diterima www.tabloidmaritim.com, pada 2024 impor biji gandum (wheat grain) dari AS sebanyak 692.882 metrik ton. Tahun 2026, pihaknya akan membeli gandum asal AS sebesar satu juta metrik ton per tahun hingga 2030. Pada Januari-April 2025, impor gandum asal AS turun menjadi 167.861 metrik ton.

Tapi impor gandum yang diterima Aptindo pada tahun 2024 sebenarnya yang terbesar 3.097.423 metrik ton berasal dari Australia. Disusul Ukraina 2.587.126 metrik ton, Kanada 2.547.932 metrik ton, Argentina 1.386.012 metrik ton dan Rusia 1351.700 metrik ton.

“Kita impor gandum dari AS beberapa waktu lalu memang agak menurun karena di AS sempat gagal panen sehingga tidak bisa supply,” kata Ratna.

Pada tahun 2020, impor gandum asal AS sempat mencapai 1.276.990 metrik ton. Tapi di tahun berikutnya terus menurun 457.682 metrik ton hingga kini. Terakhir, impor biji gandum dari AS periode Januari-April 2025 yang diterima Aptindo  mencapai 167.862 metrik ton. Atau berkontribusi 4,5% dari total impor gandum tahun ini.

“Kami tetap mendukung pemerintah dalam negosiasi tarif ini. Karena kami sudah rutin mengambil impor gandum dari AS. Tapi kita lebih banyak mengambil dari Australia karena geografisnya dekat sehingga ongkos kapal juga lebih murah,” tambah Ratna.

Adapun impor gandum pada 2024 yang diterima dari Australia sebanyak 3.097.423 metrik ton, Ukraina 3.587.126 metrik ton, Kanada 2.547.932 metrik ton, Argentina 1.386.012 metrik ton dan Rusia 1.351.700 metrik ton. (Muhammad Raya)

 

 

 

Related posts