Agresi Militer di Timur Tengah, Komnas Haji Desak Pemerintah Beri Jaminan Keamanan Keselamatan Jemaah Umrah

Jemaah umrah Indonesia yang masih di Mekkah

JAKARTA – MARITIM : Umrah di bulan Ramadhan, sangat diminati kaum muslim, tidak hanya di Indonesia. Tapi masyarakat di seluruh dunia , karena diyakini memiliki pahala berlipat ganda, sehingga memiliki daya tarik tersendiri.

Pada Ramadhan tahun ini menurut Dr. Mustolih Siradj Ketua KOMNAS HAJI, Rabu 4 Maret 2026, diperkirakan ada 5 juta jemaah umrah dari seluruh penjuru dunia. Namun ditengah kekhusuan ibadah di Tanah Suci, umat Islam dikagetkan dengan adanya saling serangan militer , Amerika,Israel dan Iran.

Read More

Usai serangan udara yang diluncurkan Amerika-Israel terhadap Iran, situasi di Timur Tengah kian mencekam. Belum dipastikan, kapan situasi tersebut akan reda dan Kembali normal.

Kondisi ini memaksa sejumlah bandara ditutup, dan penerbangan ke dan dari Timur Tengah dibatalkan. Akibatnya ribuan jamaah umrah, asal Indonesia pun terancam tak bisa pulang ke Tanah Air.

Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), saat ini tercatat sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.

Dalam kondisi perang yang masih serba tidak menentu tersebut, Komnas Haji mendesak pemerintah . Untuk mengambil kebijakan dan langkah-langkah terukur, terutama dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan kepada jemaah. Akibat dampak perang, yang masih terus berkecamuk dan tidak bisa dipredikasi kapan akan berakhir.

Terutama bagi Kementerian Haji dan Umrah, sebagai leading sektor . Dalam penyelengaraan ibadah umrah, perlu mengambil langkah inisiatif dan aktif bekerjasama .

Serta berkomunikasi secara instens, dengan jajaran Kementerian Luar Negeri, maskapai, PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah), organisasi asosiasi haji dan umrah, tentu saja juga dengan otoritas Arab Saudi.

Jika kondisi Timur Tengah kian memburuk, perang terus berkecamuk dan jalur penerbangan udara tidak juga dibuka. Kemenhaj perlu menyiapkan mitigasi dan langkah darurat (contingency plan) . Dengan menyiapakan pusat informasi, sebagai crisis center.

Bahkan jika diperlukan , menyediakan tempat penampungan sementara bagi jemaah umrah hingga mempersiapkan penjemputan untuk memulangkan jemaah ke tanah air.

Hal ini sebagai bentuk dari kehadiran negara dalam menjaga warganya dalam situasi krisis akibat perang yang masih akan terus berlangsung.

Langkah -langkah tersebut penting, karena kemampuan finansial dan persiapan logistik jemaah umrah berbeda-beda. Ada yang pas-pasan dan terbatas, karena tidak sesuai dengan rencana perjalanan.

Begitu juga , dengan kemampuan PPIU. Belum lagi diantara ribuan jemaah umrah tersebut juga ada yang melakukan umrah mandiri tanpa melalui biro jasa travel.

Bagi jemaah yang masih di Arab Saudi juga harus mengikuti himbauan, informasi dan panduan yang disampaikan pemerintah. Bagi mereka yang baru akan berangkat ke tanah suci, sebaiknya menunda terlebih dahulu sampai situasinya benar-benar kondusif.

Oleh sebab itu, situasi perang seperti sekarang ini tentu menimbulkan kerugian bagi semua kalangan bukan saja bagi jemaah, travel, maskapai, penyelenggara transportasi dan akamodasi serta semua ekosistem umrah tetapi juga bagi negara tuan rumah (Arab Saudi) dan negara pengirim jemaah. Meski demikian belum ada hitungan berapa besar kerugiannya. Semoga perang ini segera berakhir. (Rabiatun)

Related posts