Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional Penyokong Utama Pertumbuhan Sektor IKFT di 2025

JAKARTA-MARITIM : Kontribusi industri pengolahan tidak terlepas dari kinerja sektor industri, khususnya Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang juga mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun 2025.

Sektor IKFT mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11 persen, naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,21 persen.

Selain itu, sektor ini juga berkontribusi sebesar 3,87 persen terhadap PDB dengan kontribusi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,83 persen.

Pertumbuhan industri kimia, farmasi dan tekstil (IKFT) yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukan sektor ini tetap menjadi penopang penting pada industri pengolahan nonmigas serta mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nasional.

“Kinerja positif sektor IKFT di tahun 2025 didukung oleh beberapa subsektor yang tumbuh secara signifikan. Kenaikan tertinggi ditunjukkan oleh subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional dengan pertumbuhan mencapai 8,35 persen, naik 2,49 persen dari tahun 2024 yang sebesar 5,86 persen. Kenaikan cukup tinggi juga dicatatkan oleh subsektor industri barang galian bukan logam yang tumbuh hingga 6,16 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang sempat mengalami kontraksi sebesar 0,6 persen,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo, dalam keterangan resmi yang diterima, di Jakarta, Selasa (10/2).

Selain kinerja produksi, dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatatkan neraca surplus selama periode Januari-November 2025 dengan nilai ekspor mencapai US$49,15 miliar, naik US$6,26 miliar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Hal ini turut didukung oleh kinerja ekspor sektor unggulan, salah satunya subsektor industri bahan kimia dan barang dari kimia yang mencatatkan nilai ekspor sebesar US$20,79 miliar.

Subsektor industri kimia berbasis pertanian, lanjut Sri Bimo, turut mengalami kenaikan ekspor signifikan yang sebelumnya US$6,25 miliar naik menjadi US$9,25 miliar.

Peningkatan ini juga disusul oleh subsektor industri alas kaki keperluan sehari-hari yang meningkat dari US$2 miliar menjadi US$3 miliar.

“Di tengah dinamika global saat ini, permintaan masyarakat dunia terhadap produk IKFT dalam negeri justru meningkat. Angka-angka ini mencerminkan daya tahan sektor IKFT untuk tetap berkontribusi dalam rantai pasok global,” tambah Sri Bimo.

Di sisi lain, investasi di sektor IKFT juga mencatatkan hal menggembirakan.

Selama periode Januari-September 2025, realisasi investasi sektor IKFT mencapai Rp142,15 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama di 2024 yang sebesar Rp116,54 triliun.

Investasi terbesar dicatatkan oleh subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yaitu sebesar Rp58,4 triliun.

Sementara sentimen terhadap sektor ini masih menunjukkan sinyal positif di awal tahun tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 yang masih berada pada fase ekspansif yaitu di level 54,12.

Hal ini menunjukkan laju ekspansi lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 51,90.

“Sinyal positif ini menunjukkan optimisme dari para pelaku industri dan penyemangat bagi pemerintah untuk selalu menjaga iklim usaha yang kondusif sehingga kinerja sektor IKFT dapat terus meningkat,” tegas Sri Bimo.

Untuk menjaga keberlanjutan capaian tersebut, Kemenperin menegaskan komitmennya untuk terus mengakselerasi pelaksanaan berbagai program prioritas guna meningkatkan daya saing industri nasional, termasuk sektor IKFT.

Capaian pertumbuhan yang menunjukkan tren positif tersebut tidak hanya perlu dipertahankan, tetapi juga diperkuat melalui pendalaman struktur industri, baik di sisi hulu maupun hilir.

Kemenperin secara konsisten mendorong pengembangan industrialisasi berkelanjutan sebagai upaya mempercepat substitusi impor serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. (Muhammad Raya)

 

Related posts