
Angkutan darat “mengeroyok” kapal ro-ro jarak pendek
SURABAYA – MARITIM : Dengan kian luasnya dukungan terhadap pemisahan fungsi operator penyeberangan dan pelabuhan dari PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dinilai akan dapat meningkatkan kinerja penyeberangan nasional. Raja Oloan Saut Gurning pakar kemaritiman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menuturkan seyogianya fungsi ASDP Indonesia Ferry kembali fokus ke fitrahnya kepada layanan angkutan atau bisnis pelayaran, daripada terjun ke operasi pelabuhan.
“Khususnya lewat penguatan armada baik Ro-ro dan Ro-pax yang lebih modern dari sisi kapasitas, kecepatan dan fasilitas di atas kapal”, papar Guning Rabu pekan lalu.
Lebih jauh, Maister Ilmu Kemaritiman lulusan Malmoe itu mengatakan bahwa jejaring rute ASDP harus diperkuat yang saling mendukung berbentuk hub-spoke untuk angkutan barang sesuai dengan kebutuhan dan terintegrasi dengan jaringan angkutan darat, kereta api dan layanan logistik barang khususnya untuk jarak pendek kurang dari 300 km.
Dalam banyak praktik dan juga tren bisnis feri atau penyeberangan global baik di Eropa dan Amerika Serikat termasuk di Asia, menurut GHurning, bisnis ini lebih fokus pada urusan angkutan atau operasi pelayaran ketimbang juga harus menangani terminal atau pelabuhan penyeberangan. Dalam pengamatannya, integrasi angkutan feri dunia justru cenderung kuat bersanding dengan angkutan darat yaitu trailer untuk barang khususnya kluster Ro-ro dan angkutan penumpang kluster Ro-pax. Jadi integrasi Ferry-Inland mode dan bukan ferry shipping-port.
Imbuh Gurning: “Jadi pengembangan lebih banyak kepada usaha menyesuaikan armada penyeberangan dengan kebutuhan angkutan barang kapasitas, bahan bakar dan layanan kargo serta angkutan trailer di kapal termasuk berbagai layanan dan fasilitas amenities modern di atas kapal untuk kebutuhan layanan penumpang”.
Sementara itu, operasi pelabuhan termasuk ship traffic control dilakukan pihak lain karena rezim operasi yang berbeda. Sayangnya, di Indonesia, dalam dua periode dasawarsa ini, terdapay kecenderungan penggabungan fungsi pelayaran dan pelabuhan penyeberangan.
Khususnya oleh ASDP, menjadikannya tidak lagi fokus pada layanan pelayaran yang andal untuk jadi jembatan antarpulau yang andal dan modern. Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat ASDP cenderung mengurusi pelabuhan yang justru menjadi cost-centre dan mulai mengurangi fokusnya pada pelayaran. Padahal, Indonesia cenderung membutuhkan layanan angkutan pelayaran jarak pendek atau short-sea shipping antarpulau yang door to door dan dapat jadi opsi angkutan versus angkutan pelayaran petikemas maupun kargo umum.
Masih menurut Raja Oloan Saut Gurning, kasus empiris di berbagai praktik dan operasi di negara lain khususnya di Eropa Utara dan Selatan, kekuatan short-sea shipping menjadi penggerak penting aliran barang termasuk penumpang dengan volume yang besar jika dibanding moda angkutan lainnya. Sementara di Indonesia, pilihan angkutan laut jarak pendek alias penyeberangan kian surut, kalah bersaing dibanding angkutan darat. Utamanya akibat tidak handalnya layanan pelayaran ferry shipping termasuk oleh ASDP.
Pungkas Gurning: “Pada lintasan penyeberangan yang memiliki level persaingan angkutan darat yang kuat terdapat kecenderungan lintasan penyeberangan yang eksis cenderung melemah”. (AYU/Sub/Maritim)





